UMKM Maros Diperkuat dengan Literasi Keuangan Digital melalui Program Sekolah Internet Komunitas

Newsroom

UMKM Maros Diperkuat dengan Literasi Keuangan Digital melalui Program Sekolah Internet Komunitas

Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Maros mendapatkan penguatan kapasitas dalam pengelolaan keuangan usaha berbasis digital melalui pelatihan “Literasi Digital Lanjutan untuk Meningkatkan Produktivitas Usaha Berbasis Internet.” Kegiatan ini merupakan bagian dari penguatan Program Sekolah Internet Komunitas (SIK) dalam mendukung inklusi ekonomi di wilayah pedesaan dan terpencil di Indonesia.

Pelatihan diselenggarakan di Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAP3), Maros, Sulawesi Selatan pada Selasa (3/2/2026). Dalam kegiatan tersebut, Konsultan UMKM Aziz Setyawijaya menyampaikan materi berjudul “Mengenal Dasar Pengelolaan Keuangan Usaha Berbasis Digital.”


Materi ini dirancang khusus bagi pelaku UMKM serta komunitas nelayan, pengrajin, dan petani di wilayah pesisir yang ingin meningkatkan kemampuan manajemen keuangan usaha mereka menggunakan perangkat digital sederhana. Peserta diperkenalkan pada sistem pencatatan keuangan digital yang praktis, mudah digunakan, dan terjangkau tanpa memerlukan keahlian teknologi informasi yang tinggi.

Dalam pemaparannya, Aziz menekankan bahwa pengelolaan keuangan merupakan fondasi penting bagi keberlanjutan usaha. Banyak pelaku UMKM, menurutnya, masih mencampurkan keuangan pribadi dengan keuangan usaha sehingga sulit mengetahui kondisi usaha yang sebenarnya.

“Langkah pertama dalam mengelola usaha secara sehat adalah memisahkan kas pribadi dan kas usaha. Jika keduanya tercampur, pelaku usaha akan kesulitan menilai apakah usahanya benar-benar menghasilkan keuntungan atau tidak,” ujar Aziz.


Ia juga menjelaskan bahwa pencatatan keuangan tidak harus rumit. Dengan pencatatan sederhana dan konsisten, pelaku usaha sudah dapat memahami alur uang masuk dan keluar dalam usahanya. Hal ini menjadi dasar untuk melakukan evaluasi dan pengambilan keputusan bisnis.

Dalam sesi pelatihan, peserta diajak memahami beberapa komponen penting dalam laporan keuangan dasar usaha. Komponen tersebut meliputi buku kas, laporan laba rugi, serta pencatatan aset usaha.

Melalui materi ini, peserta mempelajari konsep dasar seperti pengertian penjualan, biaya produksi, harga pokok produksi (HPP), hingga perhitungan laba kotor dan laba bersih. Pemahaman ini penting agar pelaku usaha dapat mengetahui apakah usaha mereka menghasilkan keuntungan atau justru mengalami kerugian.

“Jika pelaku UMKM sudah terbiasa membaca angka-angka dalam laporan keuangan sederhana, mereka bisa melihat pola usaha. Dari situ mereka dapat menentukan apakah perlu menaikkan harga, menekan biaya, atau meningkatkan penjualan,” jelas Aziz.


Selain penyampaian materi, pelatihan juga dilengkapi dengan sesi praktik untuk memperkuat pemahaman peserta. Dalam sesi ini, peserta secara bergantian memperkenalkan jenis usaha yang mereka jalankan. Beragam usaha yang diangkat berasal dari komoditas unggulan daerah seperti budidaya perikanan, kuliner olahan hasil laut, hingga kerajinan tangan dan aksesoris.

Setelah itu, peserta mengikuti latihan soal terkait pembukuan sederhana atau bookkeeping. Secara mandiri mereka mengisi buku kas yang mencatat transaksi harian dengan format tanggal, deskripsi transaksi, uang masuk, uang keluar, dan saldo.

Peserta juga belajar mengelompokkan transaksi menjadi beberapa kategori seperti total penjualan, biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, serta biaya operasional lainnya. Dari data tersebut, mereka kemudian menyusun rekap transaksi bulanan dan menghitung laporan laba rugi sederhana.


Latihan ini juga mencakup perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP) untuk mengetahui total biaya yang diperlukan dalam menghasilkan suatu produk. Dengan memahami HPP, pelaku usaha dapat menentukan harga jual yang lebih tepat dan memastikan usaha tetap memperoleh keuntungan.

Melalui latihan tersebut, peserta didorong untuk membangun kebiasaan mencatat setiap transaksi usaha secara disiplin. Pencatatan ini penting agar pelaku usaha tidak lagi hanya mengandalkan ingatan dalam mengelola bisnis.

Menurut Aziz, kebiasaan pencatatan yang tertib akan membantu UMKM menjadi usaha yang lebih akuntabel, profitable, dan bankable. Dengan laporan keuangan yang jelas, pelaku usaha juga akan lebih mudah mengakses pembiayaan dari lembaga keuangan maupun investor. “Catatan keuangan bukan sekadar angka. Dari situ pelaku usaha bisa memahami kondisi bisnisnya dan mengambil keputusan yang lebih tepat untuk berkembang,” pungkasnya.***

Share Article

Berita Terbaru

Newsroom

Berita dan pembaharuan terbaru
langsung dari Common Room.

UMKM Maros Diperkuat dengan Literasi Keuangan Digital melalui Program Sekolah Internet Komunitas
This website uses cookies to improve your experience. By using this website you agree to our Privacy Policy.
Read more