Staff Keuangan Balai Latihan Kerja (BLK) Don Bosco Sumba Barat Daya, Paskalia Susana Paila, turut ambil bagian sebagai pemateri pada hari ketiga pelatihan “Literasi Digital Lanjutan untuk Meningkatkan Produktivitas Usaha Berbasis Internet” dalam penguatan Program Sekolah Internet Komunitas (SIK) dalam Mendukung Inklusi Ekonomi di Wilayah Pedesaan dan Terpencil. Kegiatan ini berlangsung di Gedung BLK Don Bosco Sumba Barat Daya, Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, pada Kamis (29/1/2026).

Didampingi sejumlah siswa BLK Don Bosco, instruktur yang akrab disapa Cici ini membimbing peserta secara langsung dalam sesi praktik membuat profil Facebook Page dan akun TikTok bagi pelaku UMKM. Pendekatan yang digunakan bersifat aplikatif, mulai dari proses pendaftaran akun, pengaturan profil bisnis, hingga strategi konten yang efektif.
TikTok sebagai Media Promosi Visual UMKM
Dalam materi bertajuk “Pengetahuan Dasar dan Pemanfaatan TikTok untuk Promosi Produk UMKM”, Cici menjelaskan bahwa TikTok merupakan platform berbasis video pendek berdurasi 15 detik hingga 3 menit yang menampilkan konten kreatif, edukatif, dan menghibur dengan dukungan musik, efek visual, serta algoritma yang kuat.
Menurutnya, TikTok memiliki sejumlah keunggulan bagi UMKM. Platform ini gratis dan mudah digunakan, memiliki jangkauan luas, serta memungkinkan konten menjadi viral tanpa harus memiliki banyak pengikut. “Algoritma TikTok membantu konten baru ditemukan. Jadi meskipun pengikut masih sedikit, peluang menjangkau audiens tetap terbuka,” jelas Cici.

Ia menambahkan, kekuatan utama TikTok terletak pada konten visual yang singkat dan menarik. Dengan dukungan musik tren, efek kreatif, serta interaksi yang tinggi melalui like, komentar, dan share, pelaku usaha dapat membangun eksposur produk secara efektif.
Membangun Akun Bisnis yang Profesional
Peserta pelatihan diajarkan langkah-langkah sederhana membuat akun TikTok untuk UMKM, mulai dari mengunduh aplikasi, mendaftar menggunakan nomor telepon atau email, hingga mengubahnya menjadi akun bisnis. Profil usaha harus dilengkapi dengan nama brand, foto produk atau logo, bio singkat yang jelas, serta kontak WhatsApp yang mudah dihubungi.
“Profil adalah kesan pertama. Kalau bio jelas dan foto rapi, orang lebih percaya,” ujar Cici menekankan pentingnya tampilan profesional.

Selain TikTok, Facebook Page juga diperkenalkan sebagai etalase digital yang mampu menampilkan informasi usaha secara lebih lengkap. Kedua platform ini dinilai saling melengkapi dalam memperluas jangkauan pasar UMKM di Sumba Barat Daya.
Konsep Video Pendek yang Efektif
Dalam sesi praktik, peserta diajak memahami konsep video pendek yang menarik. Jenis konten yang direkomendasikan antara lain perkenalan usaha, proses pembuatan produk, before – after, cerita pengrajin, testimoni pelanggan, hingga proses packing dan pengiriman.
Cici mengingatkan pentingnya tiga detik pertama dalam video. “Kalau tiga detik pertama tidak menarik, orang langsung geser. Jadi buka dengan visual atau kalimat yang kuat,” katanya. Video juga harus singkat, jelas, tidak bertele-tele, menggunakan teks di layar, serta memiliki pencahayaan yang cukup.
Ia turut menjelaskan pentingnya penggunaan musik yang sedang tren untuk meningkatkan peluang masuk FYP (For You Page). Namun demikian, volume musik tetap harus disesuaikan agar tidak menutupi suara utama.
Caption, Hashtag, dan Konsistensi
Agar promosi berjalan optimal, pelaku UMKM perlu memperhatikan caption dan hashtag. Caption yang baik harus singkat, jelas, mengandung cerita, serta mengajak interaksi. Penggunaan hashtag seperti #UMKMSumba, #ProdukLokal, #TenunSumba, dan #BanggaBuatanIndonesia membantu memperluas jangkauan konten.
Selain itu, waktu unggah juga menjadi faktor penting. Waktu yang direkomendasikan adalah pagi (07.00–09.00), siang (12.00–13.00), dan malam (18.00–21.00), menyesuaikan kebiasaan audiens.


Cici juga mengingatkan sejumlah kesalahan umum UMKM di TikTok, seperti membuat video terlalu panjang, tidak konsisten mengunggah konten, takut tampil di kamera, serta hanya fokus pada jualan tanpa menyertakan cerita. Solusinya sederhana yaitu mulai dari yang sederhana, konsisten minimal dua hingga tiga video per minggu, serta menyampaikan cerita secara jujur dan apa adanya.
“Jangan hanya jual produk, tapi ceritakan nilai dan proses di baliknya. Orang membeli bukan hanya barang, tetapi juga cerita dan kepercayaan,” tegasnya.
Melalui pendampingan ini, para pelaku UMKM di Sumba Barat Daya diharapkan mampu memanfaatkan Facebook Page dan TikTok sebagai etalase digital yang tidak hanya mempromosikan produk, tetapi juga membangun relasi dan kepercayaan konsumen secara berkelanjutan di era digital.***

