Tak lengkap rasanya jika sang tuan rumah hanya menjadi penonton. Pada hari ketiga pelatihan “Literasi Digital Lanjutan untuk Meningkatkan Produktivitas Usaha Berbasis Internet” sebagai penguatan Program Sekolah Internet Komunitas (SIK) dalam Mendukung Inklusi Ekonomi di Wilayah Pedesaan dan Terpencil, Direktur Balai Latihan Kerja (BLK) Don Bosco Sumba Barat Daya, Br. Ephrem Santos, SDB., hadir langsung membagikan pengalaman dan pengetahuannya. Kegiatan ini berlangsung di Gedung BLK Don Bosco Sumba Barat Daya, Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, pada Kamis (29/1/2026).
Mengusung materi “Pemanfaatan Sosial Media untuk Penjualan Produk”, Br. Ephrem menegaskan bahwa keaktifan di media sosial bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. “Kalau kita tidak hadir di media sosial, orang tidak tahu kita ada. Kesadaran itu langkah pertama sebelum orang membeli,” ujarnya di hadapan peserta.

Ia menjelaskan bahwa dalam konsep penjualan terdapat sejumlah faktor penentu hasil, yaitu audiens, peminat, dan pembeli. Ketiganya harus dikelola secara berkelanjutan melalui interaksi yang konsisten. “Jangan berhenti ketika orang sudah membeli. Bangun percakapan, dorong pembelian berulang, dan kumpulkan testimoni. Di situlah kepercayaan tumbuh,” tegasnya.
Menurutnya, digital marketing memiliki alur yang jelas yaitu menciptakan kesadaran (awareness), menumbuhkan minat (interest), mendorong keputusan (decision), hingga menghasilkan tindakan (action). “Penjualan itu proses, bukan sulap. Kita ajak orang sadar dulu, tertarik, yakin, baru membeli,” kata Br. Ephrem menekankan pentingnya strategi yang terstruktur.
Dalam praktiknya, ia memberi perhatian besar pada kualitas konten visual. Foto produk, menurutnya, adalah wajah pertama usaha di ruang digital. “Foto harus bermakna, terang, tidak buram, dan keterangannya jelas. Jangan menipu. Kalau fotonya berbeda jauh dari aslinya, pelanggan tidak akan kembali,” pesannya. Ia juga mengingatkan pentingnya memperhatikan warna dan keserasian agar tampilan produk lebih profesional dan meyakinkan.

Tak kalah penting adalah variasi komunikasi. Br. Ephrem mengingatkan peserta agar tidak selalu menjadikan media sosial sebagai ruang jualan semata. “Jangan setiap hari hanya bilang ‘beli, beli, beli’. Sapa mereka, beri edukasi, hibur dengan hal ringan, atau bagikan testimoni. Bangun relasi dulu,” tuturnya. Pada tahap berikutnya, barulah pelaku usaha fokus membuat audiens sadar dan mengingat keberadaan produk secara konsisten.
Selain itu, ia mendorong peserta untuk menyusun kalender unggahan yang terencana. “Postinglah di waktu orang siap membaca seperti saat memulai aktivitas pagi, istirahat siang, atau setelah jam kerja. Konten yang baik pun bisa terlewat kalau waktunya tidak tepat,” jelasnya.




Sebagai praktik langsung, peserta diajak berlatih membuat konten melalui WhatsApp dan Facebook, mulai dari foto produk, foto proses produksi, hingga foto sapaan dengan caption yang kuat. Bagi Br. Ephrem, media sosial bukan sekadar etalase digital, melainkan ruang membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan.
Kehadiran Br. Ephrem sebagai narasumber menegaskan komitmen BLK Don Bosco Sumba Barat Daya dalam mendampingi UMKM agar adaptif terhadap perkembangan teknologi. Pelatihan ini bukan hanya tentang memahami fitur media sosial, tetapi tentang membangun pola pikir digital yang strategis, jujur, dan berkelanjutan demi memperkuat ekonomi masyarakat pedesaan dan terpencil.***

