Di dapur kayu milik Apri, perwakilan Sekolah Internet Komunitas (SIK) Ciptagelar, teknologi tidak datang dengan suara mesin yang bising atau layar-layar besar yang menyilaukan. Ia hadir perlahan, menyatu dengan kepulan asap tungku, aroma masakan yang menguar, dan obrolan santai yang mengalir di antara warga yang duduk melingkar di lantai bambu. Siang itu, Senin (18/5/2026), dapur sederhana di Kampung Adat Ciptagelar menjelma ruang belajar bersama tentang masa depan pertanian.

Di salah satu sudut ruangan, secarik lembar kerja bertajuk Workshop Gambar Teknis Lahan terbentang. Garis-garis hitam dan hijau membentuk skema sederhana sistem irigasi berbasis Internet of Things (IoT). Ada gambar toren air, panel surya, sensor, hingga jalur distribusi air yang digambar tangan. Tak ada istilah teknis yang terasa mengintimidasi. Semua dibahas pelan-pelan, sambil sesekali diselingi tawa dan percakapan khas warga kampung.
Konsultan dan fasilitator smart irrigation system, Rois Solihin bersama Chief Executive Officer Pakebun, Toni Prabowo memandu diskusi dengan pendekatan yang membumi. Mereka tidak datang sebagai “orang kota” yang membawa teknologi untuk diajarkan sepihak, melainkan sebagai rekan belajar yang mencoba menerjemahkan teknologi agar bisa dipahami dan dimiliki bersama oleh warga.

“Teknologi akan bertahan kalau masyarakat merasa itu bagian dari kehidupan mereka sendiri,” ujar Rois di tengah diskusi. Karena itu, menurutnya, proses paling penting bukan hanya memasang alat, melainkan memastikan warga memahami cara kerja dan manfaatnya untuk kebutuhan sehari-hari.
Didampingi Koordinator Program Common Room, Andriani Kesa Alivia dan Program Admin Common Room, Ilfani Auliya, workshop berlangsung cair. Mulai dari validasi data lapangan, menyusun desain teknis, hingga membicarakan skema implementasi dilakukan tanpa sekat formal. Warga bebas bertanya, mengoreksi, bahkan memberi masukan berdasarkan pengalaman mereka mengelola lahan pertanian.

Di atas tikar pandan yang mulai dipenuhi catatan kecil dan bungkus makanan ringan, diskusi berkembang bukan hanya soal teknologi, tetapi juga tentang bagaimana pengetahuan lokal tetap menjadi fondasi utama. Jalur irigasi yang digambar dalam skema bukan sekadar pipa dan sensor, melainkan representasi cara warga menjaga hubungan dengan tanah dan air yang selama ini menjadi sumber kehidupan mereka.
Toni Prabowo menjelaskan bahwa pendekatan teknologi pertanian tidak selalu harus mahal dan rumit. Menurutnya, sistem sederhana justru lebih mudah dirawat dan dikembangkan oleh komunitas sendiri. “Yang penting bukan canggihnya alat, tapi apakah sistemnya benar-benar membantu petani dan bisa dijalankan bersama,” katanya.

Pemandangan itu menghadirkan kontras yang menarik. Di tengah rumah adat berbilik bambu, dengan cahaya matahari yang masuk dari pintu kayu dan tungku yang masih menyala, pembicaraan tentang sensor kelembaban tanah, panel surya, dan sistem otomatisasi berlangsung begitu akrab. Teknologi tidak terasa asing. Ia tumbuh dari percakapan sehari-hari.
Bagi Common Room dan para fasilitator, ruang-ruang seperti ini justru menjadi tempat terbaik untuk membangun kolaborasi. Bukan di ruang seminar mewah, melainkan di dapur rumah warga, tempat semua orang bisa duduk sejajar tanpa jarak. Dari sana, gagasan tentang pertanian cerdas perlahan dirancang bersama dengan semangat gotong royong. Di Ciptagelar, teknologi rupanya tidak sedang menggantikan tradisi. Ia sedang belajar hidup berdampingan dengannya.***

