“Kalau hari ini kita masih mencatat dengan pensil, sementara pelanggan mencari kita dengan satu sentuhan di layar, bukan pasar yang hilang, kitalah yang tertinggal.”
Kalimat itu langsung memantik keheningan di ruang pelatihan BLK Don Bosco, Tambolaka, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, pada Selasa (27/1/2026) saat pelatihan “Literasi Digital Lanjutan untuk Meningkatkan Produktivitas Usaha Berbasis Internet” sebagai Penguatan Program Sekolah Internet Komunitas dalam Mendukung Inklusi Ekonomi di Wilayah Pedesaan dan Terpencil di Indonesia. Konsultan UMKM, Aziz Setyawijaya menyoroti pentingnya digitalisasi usaha dan pencatatan keuangan berbasis aplikasi digital. Mayoritas peserta pelatihan diakui belum terbiasa mencatat setiap transaksi dalam buku kas, meskipun produk UMKM mereka sebenarnya memiliki kualitas yang mampu bersaing di pasaran.

Digitalisasi Bukan Sekadar Tren
Dalam pemaparannya, Aziz menjelaskan bahwa digitalisasi usaha tidak hanya soal pemasaran online, tetapi juga tentang tata kelola keuangan yang tertib, terukur, dan berbasis data. Tanpa pencatatan yang jelas, pelaku usaha sulit mengetahui posisi laba-rugi, arus kas, hingga kemampuan usaha untuk berkembang.
Ia menyoroti kebiasaan umum pelaku UMKM yang masih mencampur keuangan pribadi dan usaha, serta tidak memiliki laporan keuangan yang dapat dipertanggungjawabkan ketika mengakses pembiayaan.
“Usaha bisa saja ramai pembeli, tapi kalau tidak tahu angka pastinya, kita tidak benar-benar tahu apakah sedang untung atau sebenarnya bocor di biaya. Digitalisasi keuangan membantu kita melihat usaha dengan lebih jernih,” ujarnya.
Mengenal SIAPIK: Solusi Digital dari Bank Indonesia
Pada sesi ini, Aziz memperkenalkan aplikasi dari Bank Indonesia, SIAPIK (Sistem Informasi Aplikasi Pencatatan Informasi Keuangan). Aplikasi ini dirancang khusus untuk membantu UMKM mengelola keuangan secara lebih rapi, sederhana, terpercaya, dan mudah dipahami, bahkan bagi pelaku usaha tanpa latar belakang akuntansi.
Melalui SIAPIK, pelaku UMKM dapat mencatat transaksi harian (uang masuk dan uang keluar), menyusun laporan buku kas secara otomatis, menghasilkan laporan laba rugi dan arus kas, memisahkan keuangan pribadi dan usaha hingga mengunduh laporan dalam format PDF untuk kebutuhan pengajuan kredit.

Aziz memandu peserta mulai dari proses mengunduh aplikasi di Play Store, membuat akun usaha, memasukkan produk, hingga mencatat transaksi pertama. Peserta juga diajak melakukan simulasi sederhana berupa membuat satu produk, satu transaksi pemasukan, dan satu transaksi pengeluaran sebagai latihan praktik mandiri.
Dalam studi kasus yang dipaparkan, penggunaan SIAPIK selama satu bulan mampu membantu pelaku usaha mengetahui total omzet, total biaya produksi, hingga laba bersih secara otomatis. Laporan tersebut dapat menjadi dasar pengambilan keputusan bisnis, termasuk perencanaan ekspansi atau pengajuan modal kerja.
Menuju UMKM yang Profitabel dan Bankable
Aziz menekankan bahwa tujuan utama dari pencatatan digital bukan sekadar administrasi yang rapi, tetapi membentuk UMKM yang profitabel, akuntabel, dan bankable. Dengan laporan keuangan yang jelas, pelaku usaha memiliki posisi tawar yang lebih kuat di hadapan lembaga keuangan.
“Mulailah pakai aplikasi keuangan digital sekarang, supaya setiap rupiah kerja keras UMKM Sumba tercatat rapi, bisa tumbuh dan suatu hari nanti, bukan kita yang mengejar bank dan investor, tapi mereka yang datang mengetuk pintu usaha kita,” pungkasnya.***

