Rural ICT Camp 2026 Resmi Digelar di Maros, Menghubungkan Konektivitas Digital dengan Ketahanan Iklim

Newsroom

Rural ICT Camp 2026 Resmi Digelar di Maros, Menghubungkan Konektivitas Digital dengan Ketahanan Iklim

Rapalan sumpah Tari Angngaruaru dan lenggok Tari Paduppa mengawali pembukaan Rural ICT Camp 2026 di Instalasi Tambak Silvofishery Maranna, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Senin (14/9/2026). Di tengah kawasan tambak yang berdampingan dengan ekosistem mangrove, sekitar 150 peserta dari berbagai wilayah Indonesia dan Filipina berkumpul untuk membicarakan satu pertanyaan penting yaitu bagaimana konektivitas digital dapat memberi manfaat nyata bagi masyarakat dan lingkungannya. Rural ICT Camp tahun ini mengangkat tema “Internet Komunitas yang Bermakna untuk Ketahanan Iklim dan Kemandirian Warga”, dengan mempertemukan komunitas, pemerintah, masyarakat sipil, akademisi, pelaku UMKM, praktisi teknologi, dan mitra pembangunan.


Sejak 2020, Common Room Networks Foundation menyelenggarakan Rural ICT Camp sebagai ruang belajar dan pertukaran pengalaman bagi komunitas yang mengembangkan internet berbasis masyarakat. Kegiatan ini tidak berhenti pada persoalan menyediakan akses jaringan, tetapi mendorong konektivitas yang aman, terjangkau, bermakna, serta dapat dikelola secara mandiri dan berkelanjutan oleh masyarakat. Tahun ini, Maros dipilih karena memiliki pengalaman dalam pemanfaatan teknologi berbasis komunitas, ekosistem UMKM, serta karakter wilayah perdesaan dan pesisir yang menghadapi tantangan lingkungan dan perubahan iklim.

Kepala Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAPPP) Maros, Indra Jaya Asaad mengajak peserta melihat langsung hubungan antara teknologi, mata pencaharian masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan. Ia menjelaskan bahwa kawasan Tambak Silvofishery Maranna menggabungkan kegiatan budidaya perikanan dengan pelestarian mangrove. “ Wanamina atau silvofishery dapat meningkatkan produktivitas tambak tanpa menghilangkan fungsi ekologis mangrove,” ujar Indra dalam sambutannya.


Bagi Indra, perubahan iklim membuat masyarakat pesisir membutuhkan cara baru untuk memahami kondisi lingkungannya. Ia mendorong pemanfaatan sensor Internet of Things (IoT) untuk membaca kualitas air, salinitas, suhu, dan kondisi lingkungan tambak secara lebih akurat. “Kita perlu menggunakan teknologi dan data untuk membantu masyarakat mengambil keputusan budidaya secara lebih tepat,” katanya. Ia juga melihat digitalisasi dapat membantu UMKM pesisir memperluas pemasaran sekaligus membuka akses terhadap informasi dan layanan publik. Pengalaman tersebut sejalan dengan program Community-based Innovation Lab for Climate Resilience (Co_LABS), yang mengembangkan pemanfaatan sensor lingkungan, IoT, dan pengumpulan data berbasis warga di Maros.

Direktur Common Room Networks Foundation, Gustaff H. Iskandar mengajak peserta melihat internet komunitas dari perspektif yang lebih luas. Menurutnya, pembangunan jaringan hanyalah salah satu bagian dari pekerjaan. “Internet komunitas bukan hanya soal membangun jaringan, tetapi juga membangun kapasitas masyarakat agar mampu mengelola teknologi secara mandiri,” ujar Gustaff.


Ia menempatkan konektivitas digital dalam hubungan yang erat dengan persoalan ekologis dan ekonomi masyarakat. “Teknologi harus berjalan bersama dengan pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” katanya. Gustaff menilai internet komunitas perlu menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan dalam pendidikan, kesehatan, kebencanaan, ekonomi lokal, hingga pelestarian budaya. Karena itu, ia mendorong pemerintah, komunitas, penyedia layanan internet, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil untuk membangun ekosistem Community-Centered Connectivity Initiatives (CCCI) secara bersama-sama. Pendekatan tersebut menempatkan masyarakat bukan sekadar sebagai pengguna, melainkan sebagai pelaku yang ikut membangun, mengelola, dan memanfaatkan konektivitas.


Bupati Maros Andi Syafril Chaidir Syam menyambut penyelenggaraan Rural ICT Camp sebagai kesempatan untuk mempertemukan agenda teknologi dengan kekayaan alam dan kehidupan masyarakat Maros. Ia mengingatkan bahwa pembangunan perlu menjaga kawasan karst dan lingkungan hidup yang menjadi bagian penting dari wilayah tersebut. “Teknologi harus menjadi alat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa dan pesisir,” tegasnya. Ia juga melihat internet dapat membuka peluang yang lebih luas bagi pendidikan, ekonomi digital, promosi UMKM, serta peningkatan pelayanan publik.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria secara resmi membuka Rural ICT Camp 2026. Dalam sambutannya, Nezar menekankan peran internet komunitas dalam menjangkau wilayah yang belum terlayani secara optimal oleh operator komersial. “Transformasi digital harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, bukan sekadar membangun infrastruktur,” ujarnya. Ia juga mendorong pemerintah untuk terus mengkaji dampak infrastruktur digital terhadap kualitas hidup masyarakat, terutama di wilayah rural dan kepulauan, sekaligus memperkuat literasi digital agar masyarakat dapat menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.


Pesan tentang keberlanjutan kemudian diterjemahkan melalui penyerahan bibit mangrove secara simbolis kepada perwakilan penyelenggara, pemerintah, dan komunitas. Simbol tersebut mempertemukan dua agenda yang menjadi perhatian utama Rural ICT Camp 2026 yaitu transformasi digital dan ketahanan lingkungan. Setelah seremoni, para peserta mengunjungi booth produk UMKM Maros sebelum melanjutkan rangkaian kunjungan lapangan dan agenda pembelajaran lainnya.

Rural ICT Camp 2026 selanjutnya akan membawa peserta pada berbagai pembahasan mengenai rekognisi kebijakan internet komunitas, ketahanan iklim, kesiapsiagaan bencana, pemberdayaan ekonomi lokal, UMKM, serta kepemimpinan dan partisipasi inklusif. Peserta juga akan mempraktikkan pemanfaatan sensor lingkungan dan IoT, pertanian dan irigasi pintar, hingga teknologi komunikasi untuk mendukung kesiapsiagaan bencana. Melalui rangkaian tersebut, Rural ICT Camp berupaya mempertemukan pengalaman komunitas dengan perspektif pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat konektivitas yang berangkat dari kebutuhan masyarakat.

Pada akhirnya, Rural ICT Camp 2026 tidak menempatkan internet sebagai tujuan akhir. Konektivitas menjadi sarana untuk memperkuat kemampuan warga mengelola teknologi, mengembangkan ekonomi lokal, merespons perubahan iklim, menghadapi risiko bencana, dan menjaga lingkungan di sekitarnya. Melalui pertukaran pengalaman antara komunitas , Rural ICT Camp kembali menegaskan pentingnya menempatkan masyarakat sebagai bagian utama dari pembangunan konektivitas agar internet tidak hanya membuat wilayah semakin terhubung, tetapi juga membuat warga semakin berdaya dan mandiri.***

Share Article

Berita Terbaru

Newsroom

Berita dan pembaharuan terbaru
langsung dari Common Room.

Rural ICT Camp 2026 Resmi Digelar di Maros, Menghubungkan Konektivitas Digital dengan Ketahanan Iklim
This website uses cookies to improve your experience. By using this website you agree to our Privacy Policy.
Read more