Hari ketiga Workshop Capacity Building – Agriculture IoT Smart Irrigation System yang digelar di demplot Kelompok Wanita Tani (KWT) Pucuk Merah, Dusun Sukadana, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, Kamis (23/4/2026) diisi dengan kegiatan pengisian kanvas identifikasi sumber daya desa. Melalui metode ini, peserta diajak memetakan kekuatan yang telah dimiliki dalam tiga aspek utama yaitu sumber daya teknis, sumber daya manusia, dan sumber daya finansial.
Kegiatan tersebut menghadirkan Konsultan dan fasilitator smart irrigation system, Rois Solihin yang dipandu Program Admin Common Room, Ilfani Auliya. Workshop berlangsung partisipatif melalui diskusi beberapa kelompok kecil yang terdiri atas ibu-ibu KWT, perangkat desa, hingga pegiat internet komunitas.

Dalam sesi tersebut, peserta mulai menyadari bahwa kekuatan untuk membangun pertanian modern sesungguhnya sudah tersedia di sekitar mereka. Kelompok perangkat desa, misalnya, menuliskan aset berupa lahan, akses jaringan internet, dan data desa yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan sistem pertanian cerdas. Dari sisi sumber daya manusia, mereka memiliki keahlian pembibitan serta pengalaman mengikuti berbagai pelatihan. Sementara dari sisi finansial, tersedia peluang dukungan melalui pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan potensi pembiayaan dari BUMDes.
“Jangan mulai dari apa yang belum ada. Mulailah dari apa yang sudah dimiliki desa hari ini,” tegas Rois Solihin di hadapan peserta.

Perwakilan KWT Pucuk Merah, Denda Hepty Negara juga menuliskan modal yang mereka miliki. Dari sisi teknis, kelompok ini telah mempunyai perlengkapan dasar seperti selang air, gembor, polybag, paranet, rumah pembibitan, sumur bor, akses internet, serta listrik di lahan. Dari sisi manusia, mereka memiliki sekitar 20 anggota aktif yang terdiri dari petani, ibu rumah tangga, dan guru yang selama ini konsisten mengelola kebun bersama. Dari sisi finansial, kelompok memiliki dana kas yang dapat menjadi modal awal pengembangan kegiatan pertanian.
Menurut Rois, kekuatan utama desa sering kali bukan pada alat yang mahal, tetapi pada kekompakan warga dan keberlanjutan kerja bersama. “Jika ada kelompok yang solid dan mau belajar, teknologi akan lebih mudah masuk dan berkembang,” ujarnya.

Cerita menarik datang dari Sekolah Internet Komunitas (SIK) Sukadana, Lombok Utara. Perwakilan kelompok ini Satuang dan Dian Erawati Kumala melihat akses internet sebagai modal penting untuk mendukung pertanian modern. Mereka mencatat memiliki lima anggota aktif, tiga orang mampu mengoperasikan komputer, dan lima orang terbiasa menggunakan smartphone. Selain itu, mereka telah memiliki relasi dengan kelompok tani setempat. Meski belum memiliki dukungan finansial, kelompok ini optimistis dapat berkontribusi pada penguatan sistem digital desa.
“Internet bukan sekadar alat komunikasi. Internet bisa menjadi jembatan antara petani, data, pasar, dan teknologi,” kata Rois.

Kelompok pegiat lingkungan Lintang Utara juga memetakan potensi yang tak kalah penting. Mereka memiliki lahan, sumber air atau sumur bor, akses internet, peralatan dasar, ketersediaan bahan tanam, serta dukungan listrik. Dari sisi manusia, mereka memiliki kemampuan pembibitan, dukungan lembaga pemerintah desa, dan relasi dengan komunitas lainnya. Sementara dari sisi pembiayaan, mereka melihat peluang dari program pemerintah, BUMDes, pengusaha lokal, hingga bantuan hibah.
Temuan-temuan sederhana dari setiap kelompok menunjukkan bahwa pembangunan pertanian cerdas tidak selalu dimulai dari modal besar. Justru langkah awalnya adalah kesadaran bersama untuk mengenali aset yang telah ada, lalu menyusunnya menjadi kekuatan kolektif. Rois menegaskan bahwa teknologi smart irrigation nantinya akan berhasil jika dibangun di atas fondasi sosial yang kuat.
“Sensor, pompa, dan internet hanya alat. Penggerak utamanya tetap manusia yang mau bekerja sama,” pungkasnya.***

