Merumuskan Makna Konektivitas dalam Diskusi dan Tanya Jawab bersama Wamenkomdigi Jelang Rural ICT Camp 2026

Newsroom

Merumuskan Makna Konektivitas dalam Diskusi dan Tanya Jawab bersama Wamenkomdigi Jelang Rural ICT Camp 2026

Malam sebelum Rural ICT Camp 2026 resmi dimulai, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, Nezar Patria, berdialog bersama para penggerak Sekolah Internet Komunitas (SIK) di Hotel Harper, Maros, Sulawesi Selatan, Minggu (13/9/2026). Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk membicarakan kembali makna konektivitas sekaligus berbagai tantangan yang muncul setelah internet hadir di tengah masyarakat. Dialog yang dipandu Direktur Common Room, Gustaff H. Iskandar, mempertemukan pengalaman komunitas dengan perspektif pemerintah mengenai pemerataan akses, literasi digital, pelestarian lingkungan, dan warisan budaya.

Gustaff H. Iskandar mengawali diskusi dengan menghubungkan penyelenggaraan Rural ICT Camp di Maros dengan proses koordinasi yang telah dilakukan bersama Balai Maros sejak 2022. Menurutnya, Maros memiliki konteks pembelajaran yang penting karena mempertemukan kawasan pesisir, kampung nelayan, ekosistem mangrove, kawasan karst, serta situs Leang-Leang yang menyimpan jejak panjang perkembangan manusia. “Kita ingin merekognisi kembali makna konektivitas, bukan hanya sebagai ketersediaan akses internet, tetapi sebagai sesuatu yang dapat memperkuat kapasitas kognitif masyarakat,” ujar Gustaff.


Dalam konteks tersebut, Leang-Leang menjadi salah satu titik penting dalam percakapan. Wakil Menteri Nezar Patria menyampaikan bahwa kunjungannya ke Maros dan Leang-Leang merupakan pengalaman pertamanya. Ia menyoroti keberadaan ratusan lukisan gua dan temuan yang menunjukkan betapa panjangnya sejarah manusia dalam meninggalkan, menyimpan, dan mewariskan pengetahuan. Nezar kemudian mengajak peserta melihat perkembangan teknologi informasi sebagai sebuah perjalanan panjang, dari jejak yang dibuat manusia di dinding gua, batu tulis dan kertas, berkembang melalui mesin cetak Gutenberg, hingga jaringan digital dan teknologi baru pada abad ke-21.

Nezar Patria menilai perkembangan tersebut menunjukkan percepatan luar biasa dalam produksi dan distribusi informasi. Namun, kemajuan teknologi tidak selalu berjalan beriringan dengan kemampuan manusia dalam menggunakannya secara bijaksana. “Teknologi memberikan kita banyak kemampuan, tetapi belum tentu memberikan kita kebijaksanaan,” kata Nezar. Karena itu, ia memandang Leang-Leang bukan sekadar situs sejarah, melainkan pengingat mengenai pentingnya preservasi pengetahuan sekaligus refleksi atas bagaimana manusia menentukan arah pemanfaatan teknologi.


Percakapan kemudian bergeser pada hubungan antara teknologi, lingkungan, dan perubahan iklim. Kondisi Maros yang menghadapi persoalan seperti sungai yang mulai mengering, lahan yang semakin kering, serta kesulitan memperoleh air menjadi bagian dari refleksi bersama. Nezar mengingatkan bahwa perkembangan teknologi dan industri juga membawa konsekuensi terhadap lingkungan, sementara kebutuhan energi dan air untuk menopang infrastruktur digital seperti pusat data terus meningkat. Dalam situasi tersebut, para penggerak komunitas teknologi, informasi dan komunikasi didorong untuk tidak hanya memperkuat kemampuan teknis, tetapi juga membangun kesadaran lingkungan dan kemampuan masyarakat dalam memahami informasi digital.

Peserta SIK kemudian membawa pengalaman dari berbagai wilayah yang menunjukkan bahwa masuknya konektivitas ke komunitas selalu menghadirkan manfaat sekaligus tantangan. Dede Irawan dari SIK Cicacap, misalnya, menceritakan perkembangan jaringan internet yang dibangun sejak 2020 hingga menjangkau delapan desa. “Jaringan internet yang kami bangun sejak 2020 kini telah menjangkau delapan desa. Konektivitas memberikan banyak manfaat bagi komunikasi masyarakat, tetapi setelah internet masuk, muncul pula tantangan seperti judi online, pinjaman online, game online, dan gangguan terhadap aktivitas belajar,” kata Dede.


Pengalaman serupa disampaikan Saraiyah dari SIK Lombok Utara yang sejak 2021 menjalankan kegiatan pemberdayaan perempuan rentan dan kelompok pinggiran, termasuk menghadapi kekerasan berbasis gender secara daring serta penyebaran hoaks, penipuan, dan judi online. “Literasi digital tidak cukup dilakukan melalui sosialisasi formal. Kami juga perlu masuk dari rumah ke rumah dan melibatkan keluarga agar pemahaman tentang dampak positif dan negatif internet bisa tumbuh dari lingkungan terdekat,” ujar Saraiyah.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa persoalan konektivitas tidak selesai ketika sebuah wilayah berhasil mendapatkan akses internet. Justru setelah konektivitas hadir, masyarakat membutuhkan kapasitas untuk memahami, menyaring, dan menentukan bagaimana teknologi digunakan. Menurut Saraiyah, satu anggota keluarga dapat menjadi pintu masuk untuk membangun pemahaman sekaligus melakukan negosiasi dengan anggota keluarga lainnya mengenai penggunaan internet secara lebih aman dan bertanggung jawab.


Nezar Patria menanggapi berbagai pengalaman tersebut dengan menekankan pentingnya membangun ketahanan komunitas ketika konektivitas mulai masuk ke kampung. Ia mengatakan bahwa pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk menekan judi online, tetapi pendekatan dari sisi kebijakan dan penegakan saja belum cukup. “Kita membutuhkan pendekatan di hilir yang melibatkan komunitas,” ujar Nezar. Ia juga menilai pemerintah desa memiliki peran penting untuk memantau dampak judi online yang kini tidak hanya menyasar anak muda, tetapi juga kelompok orang dewasa dan ibu-ibu, termasuk dampaknya yang kerap berkaitan dengan pinjaman online.

Persoalan pemerataan akses juga menjadi perhatian, khususnya bagi wilayah 3T dan daerah yang masih mengalami blank spot. Pardison Situmorang dari SIK Mentawai menyampaikan bahwa sebagian wilayahnya masih belum memperoleh cakupan internet secara memadai.“Sebagian wilayah Mentawai masih mengalami blank spot. Setelah SIK hadir, penggunaan telepon seluler meningkat dan mulai menjangkau kelompok masyarakat yang sebelumnya belum menggunakan perangkat tersebut. Kami berharap kerja sama antara masyarakat dan pemerintah terus diperkuat agar konektivitas di Mentawai dapat berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak desa,” ujar Pardison.

Nezar menjelaskan bahwa pemerintah tengah membahas sejumlah skema untuk memperluas konektivitas di wilayah terpencil, mulai dari pemeliharaan jaringan dan satelit yang tersedia, pemetaan bersama operator seluler, penguatan repeater dan inisiatif warga, hingga kemungkinan pemanfaatan satelit orbit rendah atau LEO. Di sisi lain, konektivitas juga bersinggungan dengan keberlanjutan budaya. Perwakilan SIK Ciptagelar, Revasya, menyampaikan kekhawatiran mengenai memudarnya penggunaan pakaian adat di kalangan generasi muda akibat paparan tren yang datang melalui internet. Kekhawatiran tersebut memperluas pembahasan tentang bagaimana teknologi dapat digunakan tanpa mengikis identitas komunitas.


Nezar menilai masyarakat adat membutuhkan strategi dan kebijakan lokal yang sesuai dengan konteks masing-masing dalam menghadapi dampak internet, termasuk upaya menjaga ruang digital agar tidak mengganggu sistem adat. Pertemuan kemudian ditutup dengan penyematan simbolis pin Rural ICT Camp kepada perwakilan SIK dari berbagai wilayah. Dari Leang-Leang hingga kawasan pesisir, percakapan malam itu menegaskan bahwa konektivitas yang bermakna bukan sekadar tentang menghadirkan jaringan, melainkan memastikan teknologi membantu masyarakat menjaga pengetahuan, menghadapi perubahan lingkungan, memperkuat penghidupan, dan menentukan sendiri masa depan komunitasnya.***

Share Article

Berita Terbaru

Newsroom

Berita dan pembaharuan terbaru
langsung dari Common Room.

Merumuskan Makna Konektivitas dalam Diskusi dan Tanya Jawab bersama Wamenkomdigi Jelang Rural ICT Camp 2026
This website uses cookies to improve your experience. By using this website you agree to our Privacy Policy.
Read more