Merekam Nafas Baru UMKM Maros: Ini Dia Para Perempuan Penggerak Pengolahan Hasil Perikanan

Newsroom

Merekam Nafas Baru UMKM Maros: Ini Dia Para Perempuan Penggerak Pengolahan Hasil Perikanan

Di berbagai sudut Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan denyut ekonomi kerakyatan bergerak pelan namun pasti melalui tangan-tangan terampil kelompok pengolah dan pemasar hasil perikanan (Poklahsar). Mereka adalah para perempuan yang menjaga tradisi, membuka peluang baru, dan memaknai keberdayaan melalui dapur-dapur produksi. Dari pesisir hingga area tambak, dari rumah kecil hingga sentra olahan, kisah mereka menghadirkan sebuah mosaik keteguhan dan inovasi. Tim Baselining Program Penguatan dan Pelatihan Sekolah Internet Komunitas yang terdiri atas Staf Lapangan Common Room, Kiky Andhika dan Pendamping UMKM Rois Solihin serta M. Indra K. H. berkesempatan mendengar penuturan kisah mereka saat peringatan Hari Ikan Nasional (Harkanas) 2025 di Lapangan Pallantikang, Maros.

Poklahsar Padaelo: Mengolah Kebersamaan Menjadi Rasa


Tahun 2018 menjadi titik mula Poklahsar Padaelo berdiri. Bagi pasangan Nasir dan Kasriah, kelompok ini bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi ruang untuk “mengolah kebersamaan”, seperti nama yang mereka sandang. Kini, kelompok tersebut memproduksi abon giling, cookies abon, hingga otak-otak bakar yang menjadi favorit warga setempat.

“Mau tidak mau kami harus belajar mengikuti pasar, tapi pemasaran digital memang masih terbatas,” ujar Kasriah dalam sesi wawancara. Instagram dan Facebook sudah dibuat, namun belum benar-benar dioptimalkan. Sebagian besar pelanggan tetap datang lewat pesan WhatsApp atau ketika mereka ikut pameran.

Dengan 14 anggota dan pasokan ikan stabil dari pelelangan Lelong, Poklahsar ini telah mengelola keuangan secara digital melalui aplikasi Buku Kas. Harapan mereka sederhana namun penting: mesin produksi dan bantuan desain kemasan agar produk lokal bisa tampil lebih percaya diri di pasar yang lebih besar.

Ujung Parappa: 200 Kilogram Kepiting Setiap Hari


Di bawah kepemimpinan Habsia, Poklahsar Ujung Parappa yang berdiri sejak 2012 telah menjadi salah satu pusat aktivitas pengupasan kepiting terbesar di wilayahnya. Tiap hari, 20 karyawan perempuan mengupas sekitar 200 kilogram kepiting—angka yang mencerminkan kerja keras yang tak terlihat dari balik stik kepiting renyah yang menjadi produk andalan mereka.

“Kami memanfaatkan sisa kepiting dari standar pabrik untuk membuat stik kepiting. Sayang kalau dibuang,” ujar Habsia. Selain stik, mereka juga memproduksi abon dan keripik kepiting yang dipasarkan melalui reseller, toko oleh-oleh, hingga toko roti di Maros.

Legalitas usaha sudah mereka kantongi. Bahkan transaksi offline kini memanfaatkan QRIS. Namun, seperti banyak UMKM lain, kebutuhan peralatan dan fasilitas rumah pengolahan menjadi hal yang sangat mereka nantikan.

Tegar Mandiri: Dua Dekade Mengasah Keahlian


Ahmad menyambut tim baselining dengan penuh semangat dalam peringatan Hari Ikan Nasional 2025. Sejak tahun 2000, kelompok yang ia pimpin, Poklahsar Tegar Mandiri telah tumbuh menjadi salah satu ikon pengolahan perikanan di Maros. Pengalamannya mengikuti pelatihan di Bandung dan menjadi instruktur bagi pemerintah daerah menunjukkan dedikasi panjangnya dalam dunia kuliner berbasis ikan.

“Kami sering diminta memasok untuk pesantren dan jamaah umroh. Produk kami ringan dan tahan lama,” tuturnya. Sebagian UMKM bahkan membeli produk mereka untuk kemudian dikemas ulang. Meski telah memiliki sertifikat halal dan PIRT, Tegar Mandiri masih membutuhkan dukungan peralatan untuk memenuhi permintaan pasar yang terus naik.

Zhafirah: Abon Bandeng dari Tambak Warga


Di tangan Masnah dan Harisa, Poklahsar Zhafirah mengubah bandeng segar dari tambak warga menjadi abon ikan yang dikenal hingga ke Jawa. Setiap dua hari, 500–1.000 ekor bandeng diolah menjadi sekitar 10 kilogram abon kaya cita rasa.

“Keunggulan kami ada pada bahan baku. Ikan langsung dari empang, jadi kami tahu persis kualitasnya,” ujar Harisa. Meski produk mereka belum hadir di marketplace besar, pesanan dari pesantren di berbagai daerah terus berdatangan melalui WhatsApp dan Facebook.

Zhafirah berharap dapat memiliki ruang olahan yang lebih layak serta peralatan tambahan agar kapasitas produksi dapat meningkat.

Cahaya Bandeng: Memimpin Pasokan MBG


Di Dusun Bira-bira, Cahaya Bandeng berdiri dengan 25 karyawan mayoritas perempuan. Sejak 2010, mereka mengolah bandeng tanpa tulang, otak-otak, nugget, hingga kerupuk amplang. Namun lonjakan popularitas kelompok ini terjadi sejak 2019, terutama setelah mereka menjadi pemasok untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Kebutuhan kami sekarang adalah lemari pendingin tambahan. Permintaan terus meningkat,” kata salah satu pengurus. Dengan legalitas lengkap dan pemasaran digital yang mulai aktif, Cahaya Bandeng menjadi salah satu wajah kemajuan Poklahsar di Maros.

Mina Padi Raya: Babak Baru UMKM Maros


Masih berusia tiga bulan, Poklahsar Mina Padi Raya langsung tancap gas sejak hari pertama. Dipimpin oleh M. Nur, kelompok ini memasok 2.500 potong katsu lele setiap hari untuk tiga SPPG di Maros.

Meski baru, ritme kerja mereka menunjukkan potensi besar. Katsu lele yang praktis, bergizi, dan terstandarisasi menjadi kontribusi nyata mereka bagi ketahanan pangan daerah.

Boba Jaya: Terasi dari Dapur Para Istri Nelayan


Di Poklahsar Boba Jaya, kualitas terasi udang dan ebi kering dijaga ketat karena bahan bakunya berasal langsung dari para suami anggota kelompok. “Kami tahu persis dari mana udang itu datang,” ujar Maryam Mile, sang ketua.

Pemasaran masih sederhana, dititipkan ke kios pasar dan melalui WhatsApp namun permintaan tetap stabil. Mereka berharap pelatihan desain kemasan dan pemasaran digital agar produk bisa naik kelas.

Adlu Fish Food: Bukti Ketangguhan Rahmatia


Di antara sekian banyak cerita, kisah Rahmatia Luse dari Adlu Fish Food mungkin yang paling dramatik. Berawal dari usaha Kedai Bang Adlu, kini ia mempekerjakan 20 perempuan dengan pengeluaran gaji minimal lima juta rupiah per bulan. Produknya masuk GrabFood, GoFood, Om Kurir, hingga marketplace.

Pernah suatu kali pesanan pelanggan salah tercatat: 107 bungkus menjadi 107 kilogram. “Saya langsung hubungi semua UMKM di Maros. Alhamdulillah, satu malam selesai,” kenangnya. Kisah itu menjadi bukti jaringan solidaritas antar-pelaku UMKM yang begitu hidup.

Tak hanya tekun berusaha, Rahmatia juga dikenal sebagai pelaku sedekah jariah yang rutin menyalurkan produk ke berbagai pesantren yang justru menjadi pasar utamanya.

Dari Padaelo hingga Adlu Fish Food, dari pengupas kepiting hingga pengolah bandeng, setiap kelompok menghadirkan cerita tentang ketekunan, adaptasi digital, solidaritas, dan inovasi. Mereka bukan sekadar pelaku UMKM; mereka adalah penjaga mata pencaharian keluarga, penggerak ekonomi lokal, dan pilar ketahanan pangan daerah. Di balik setiap potong abon, stik kepiting, katsu lele, dan terasi udang, ada dedikasi perempuan-perempuan Maros yang bekerja dalam senyap namun memancarkan cahaya perubahan.***

Share Article

Berita Terbaru

Newsroom

Berita dan pembaharuan terbaru
langsung dari Common Room.

Merekam Nafas Baru UMKM Maros: Ini Dia Para Perempuan Penggerak Pengolahan Hasil Perikanan
This website uses cookies to improve your experience. By using this website you agree to our Privacy Policy.
Read more