Hujan baru reda di Dusun Sikebukat, Desa Saliguma, Kecamatan Siberut Tengah, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat ketika beberapa pemuda mulai memanggul tiang kayu dan menaiki tangga yang disandarkan ke atap rumah. Di tangan mereka ada gulungan kabel, perangkat kecil jaringan internet dan sebuah antena satelit yang akan menjadi pintu masuk koneksi digital bagi warga desa.

Di atap rumah yang beratap seng itu, dua orang pria berdiri hati-hati sambil memegang perangkat internet satelit. Sementara di bawahnya, seorang pemuda lain menopang tangga dan memperhatikan arah kabel yang mulai ditarik ke halaman. Semua dilakukan dengan gotong royong.


Sore itu Kamis (26/2/2026), kegiatan Sekolah Internet Komunitas (SIK) Mentawai wilayah Saliguma memulai program “Peningkatan Kapasitas Teknis Jaringan Internet Dasar dan Tata Kelola Organisasi” dengan cara yang berbeda. Alih-alih memulai dari ruang kelas atau sesi teori panjang, para peserta langsung diajak terjun ke lapangan untuk melakukan praktik penyebaran jaringan internet di Dusun Sikebukat.
Didampingi Staf Lapangan Common Room Kiky Andhika, Koordinator SIK Ciracap Dede Irawan, serta Project Manager AirPutih Sistiandy Syahbana, para peserta bersama warga mulai menarik kabel fiber optic (FO) dari titik server menuju rumah warga. Total panjang kabel yang dipasang hari itu mencapai sekitar 415 meter.

Gulungan kabel perlahan terbentang di sepanjang jalan desa yang dikelilingi pohon kelapa dan rumah-rumah kayu khas Mentawai. Beberapa warga berdiri di tepi jalan membantu mengarahkan kabel, sementara yang lain memegang ujungnya agar tidak kusut. Bagi sebagian warga, kegiatan ini menjadi pengalaman pertama mereka melihat secara langsung bagaimana jaringan internet dipasang.
“Kalau hanya dijelaskan lewat gambar atau presentasi, biasanya sulit dibayangkan. Tapi ketika kita langsung pasang perangkatnya, tarik kabelnya, dan lihat bagaimana jaringan itu tersambung, pemahamannya jadi jauh lebih cepat,” ujar Dede Irawan.
Menurut Dede, pendekatan praktik langsung memang sengaja dipilih agar peserta dapat memahami alur jaringan internet secara utuh mulai dari sumber koneksi hingga sampai ke rumah pengguna.
Saat kegiatan penyebaran jaringan dimulai, para peserta SIK Mentawai wilayah Saliguma sambil mempelajari teknis perakitan unit Starlink, perangkat internet satelit yang akan menjadi sumber koneksi utama di wilayah tersebut.


Di dalam rumah kayu sederhana, beberapa peserta terlihat berkumpul mengelilingi Dede Irawan yang mengenalkan langsung perangkat jaringan. Mereka memperhatikan dengan seksama ketika diajak mencoba menghubungkan kabel, memasang adaptor, hingga mengaktifkan perangkat jaringan. Dede Irawan kembali menjelaskan fungsi setiap perangkat yang digunakan, mulai dari router, kabel UTP, hingga sistem distribusi jaringan yang akan membawa koneksi internet ke rumah-rumah warga.
Project Manager AirPutih, Sistiandy Syahbana, menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang bukan sekadar untuk memasang jaringan internet sementara, melainkan untuk membangun kemampuan teknis masyarakat agar mampu mengelola jaringan tersebut secara mandiri.
“Kami ingin teman-teman di SIK Mentawai wilayah Saliguma memiliki kapasitas teknis yang cukup untuk mengelola internet komunitas mereka sendiri. Mulai dari pemasangan perangkat, pengaturan jaringan, sampai perawatan ketika terjadi gangguan,” kata Sistiandy.

Menurutnya, keberlanjutan akses internet di daerah terpencil sangat bergantung pada kemampuan komunitas lokal untuk memahami dan mengelola infrastrukturnya. Setelah perangkat sumber internet berhasil dirakit dan diaktifkan, kegiatan berlanjut dengan praktik penarikan kabel fiber optic menuju beberapa rumah warga yang akan menjadi titik pengguna pertama.
Menjelang malam, beberapa peserta masih terlihat bekerja di luar rumah. Mereka masih memperbaiki sambungan kabel di halaman rumah dengan bantuan lampu senter. Di tengah gelap, pekerjaan mereka belum selesai. Suasana gotong royong terasa kuat selama proses ini. Warga yang awalnya hanya menonton perlahan ikut membantu memegang tangga, menahan kabel, atau sekadar menerangi area kerja dengan senter.

Bagi warga Saliguma, internet bukan hanya tentang teknologi baru. Ia juga membawa harapan akan keterhubungan yang selama ini terasa jauh dari pulau mereka. Dengan tersambungnya jaringan internet komunitas di Saliguma, diharapkan warga dapat memanfaatkan akses digital untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pendidikan, komunikasi, hingga pengembangan usaha lokal.

Bagi para peserta SIK Mentawai wilayah Saliguma, pengalaman menarik kabel sepanjang ratusan meter hari itu bukan sekadar latihan teknis. Itu adalah bagian dari proses belajar membangun infrastruktur digital desa mereka sendiri dengan tangan mereka sendiri, di tanah tempat mereka tinggal. Dan ketika kabel terakhir tersambung, jaringan internet itu bukan hanya menghubungkan perangkat. Ia juga menghubungkan Saliguma, sebuah desa di Mentawai dengan dunia yang lebih luas.***

