Tim Baselining Program Penguatan dan Pelatihan Sekolah Internet Komunitas yang terdiri atas Staf Lapangan Common Room, Kiky Andhika dan Pendamping UMKM Rois Solihin serta M. Indra K. H. menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama sejumlah pelaku UMKM Maros di Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAP3), Maros pada Sabtu (22/11/2025). Diskusi dibuka oleh Analis Kelembagaan, Penelaah Teknis Kebijakan BRPBAP3, Agus Nawang. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya mendengar suara para pelaku usaha secara langsung.

“Tujuan FGD ini sederhana tapi penting, kami ingin mengumpulkan informasi tentang kekuatan, tantangan, dan harapan UMKM, lalu menyelaraskannya dengan program yang kami jalankan di balai,” ujarnya.
Staf Lapangan Common Room, Kiky Andhika memaparkan gambaran umum mengenai rangkaian kegiatan yang akan berlangsung selama masa program. Ia menekankan bahwa pendampingan ke UMKM tidak hanya berfokus pada produksi, tetapi juga pada aspek manajemen usaha, pemasaran, dan pemanfaatan teknologi digital. Dipandu oleh fasilitator sekaligus Pendamping UMKM Rois Solihin sesi diskusi berlangsung cair, interaktif dan kolaboratif.

Kursi-kursi ditata melingkar, meja-meja dipenuhi lembar kerja, dan para pelaku UMKM duduk saling berhadapan. Peserta diskusi dibagi ke dalam tiga kelompok secara acak, masing-masing menerima lembar kerja berisi tujuh pertanyaan pemantik. Pertanyaan tersebut menggali berbagai aspek diantaranya adalah jenis atau profil UMKM yang ada saat ini, harapan kondisi UMKM di masa depan, kondisi UMKM Saat ini, kriteria sukses realistis untuk dapat dicapai UMKM selama 2 tahun masa program, kebutuhan dan kemampuan dasar yang harus dimiliki UMKM, praktik baik yang sudah ada saat ini baik di sekitar lokasi UMKM maupun di luar lokasi UMKM yang dapat diadaptasi hingga alternatif rekomendasi atau solusi jangka pendek. Seluruh peserta juga mendiskusikan dua pertanyaan terakhir yaitu kesepakatan dan langkah tidak lanjut serta siapa saja yang berperan dan dapat diharapkan untuk mencapai kelancaran.

Setiap kelompok berdiskusi dengan antusias. Mereka menyampaikan pengalaman, membandingkan praktik yang berjalan, hingga menyusun harapan bersama. Di antara diskusi tersebut terlihat bagaimana pelaku UMKM sebenarnya telah memiliki potensi besar, hanya saja membutuhkan dorongan dan pengetahuan tambahan untuk berkembang lebih jauh. Dari rangkaian diskusi, sejumlah kebutuhan utama mengemuka dan hampir seluruh peserta menyuarakannya dengan nada serupa.
Peningkatan kapasitas pengelolaan bisnis menjadi poin utama. Banyak UMKM mengaku masih belum tertib dalam menjalankan usaha. Perencanaan produksi, manajemen stok, hingga strategi pemasaran sering kali berjalan tanpa sistem yang jelas. Mereka berharap ada pelatihan yang lebih aplikatif agar bisa mengelola usaha dengan baik. Sama halnya dengan kemampuan literasi finansial. Para peserta menyadari betul bahwa pemanfaatan teknologi digital sangat penting untuk memperluas pasar. Namun mereka juga mengakui bahwa kemampuan mereka masih minim. Bahkan pengelolaan keuangan menjadi titik lemah banyak UMKM. Sebagian sudah mencoba menggunakan aplikasi pencatatan seperti Buku Warung, namun sebagian besar masih mencampuradukkan keuangan pribadi dan usaha. Hal ini membuat perkembangan bisnis sulit dipetakan.

Satu hal yang tidak kalah penting yaitu adanya upaya digitalisasi operasional usaha, mulai dari desain kemasan, pembuatan label sederhana, hingga pengelolaan etalase digital, semuanya masih bergantung pada pihak lain. Peserta berharap mendapat pelatihan teknis agar bisa mengerjakan kebutuhan desain dasar secara mandiri. Di tengah gempuran promosi yang mengandalkan jejaring media sosial, para peserta berharap besar upaya penguatan komunikasi pemasaran.
Kemampuan berkomunikasi dengan pelanggan, baik secara langsung maupun melalui platform online, dinilai masih sangat kurang. Banyak UMKM belum memahami cara memperkenalkan produk, merespons pelanggan, atau membangun hubungan jangka panjang. “Saya harap adanya pelatihan public speaking guna mendukung kemampuan kami yang harus terbiasa promosi melalui layanan live media sosial seperti tiktok,” ujar Nur Alam, salah satu peserta dan penggerak UMKM kriya Cinta Souvenir.

Diskusi ini tidak hanya merangkum berbagai persoalan, tetapi juga merumuskan langkah tindak lanjut. Para peserta sepakat bahwa peningkatan kapasitas, baik digital, finansial, maupun komunikasi harus menjadi fokus utama pendampingan program. Mereka berharap adanya kolaborasi antara pemerintah, pendamping program, dan komunitas lokal untuk memastikan keberlanjutan usaha mereka.

Lebih dari itu, diskusi ini menunjukkan satu hal penting: UMKM tidak kekurangan semangat, hanya membutuhkan arahan yang tepat dan ruang belajar yang berkelanjutan.
Dengan masukan yang terkumpul, balai dan Common Room memiliki fondasi kuat untuk merancang program yang lebih responsif. Dan bagi para pelaku UMKM, diskusi ini menjadi langkah kecil menuju perubahan yang lebih besar, sebuah upaya bersama untuk membawa usaha mereka tumbuh lebih tertib, modern, dan terhubung dengan peluang pasar yang lebih luas.***


