Rural ICT Camp 2026 tidak hanya membicarakan bagaimana masyarakat di wilayah perdesaan dan terpencil dapat terhubung ke internet, tetapi juga bagaimana konektivitas tersebut dapat membuka peluang baru bagi kehidupan dan penghidupan warga. Pada hari pertama, Senin (14/9/2026) di Instalasi Tambak Silvofishery Marana, Maros, Sulawesi Selatan, menjadi ruang pembelajaran untuk memperkenalkan Program SCILLS (Strengthening Communities Improving Lives and Livelihoods). Sesi ini menghadirkan Manajer Media dan Kerja Sama Common Room Tisha Amelia, Koordinator Unit Komunikasi Combine Resource Institution Dini Zakia, serta Dr. Sudaryano R. Lamangkona, Staf Ahli Bidang Komunikasi dan Hubungan Antar Lembaga Kementerian UMKM.
Tisha Amelia mengatakan SCILLS tidak sekadar menyediakan akses terhadap teknologi. Program tersebut mendorong peserta untuk membangun kepercayaan diri sekaligus melihat teknologi sebagai peluang untuk mendukung kehidupan dan mengembangkan usaha. “Kami ingin peserta tidak hanya bisa menggunakan teknologi, tetapi juga percaya diri memanfaatkannya untuk mendukung kehidupan dan usaha mereka,” kata Tisha.
Menurut Tisha, SCILLS mengembangkan keterampilan digital yang dapat langsung digunakan dalam aktivitas sehari-hari dan pengelolaan usaha. Peserta belajar memanfaatkan smartphone, kecerdasan artifisial (AI), WhatsApp Business, Facebook Marketplace, serta berbagai layanan digital lainnya. “Kami menggabungkan praktik langsung, berbagi pengalaman, dan peer-to-peer learning agar peserta bisa belajar dari pengalaman mereka sendiri maupun dari peserta lainnya,” ujar Tisha.

Tisha juga menempatkan literasi keuangan sebagai bagian penting dalam penguatan kapasitas pelaku UMKM. Ia menjelaskan bahwa sebagian pelaku usaha masih mencampurkan keuangan pribadi dengan keuangan usaha dan belum terbiasa menggunakan transaksi digital. Di Sumba, program memperkuat keterampilan digital, kepercayaan diri, pembuatan konten, dan pengelolaan keuangan, sementara di Maros program menghubungkan pelaku usaha dengan ekosistem ekonomi lokal dan jejaring pendukung yang lebih luas. “Kami ingin konektivitas membuka akses yang lebih luas, bukan hanya untuk berkomunikasi, tetapi juga untuk memperkuat usaha dan jejaring pelaku UMKM,” kata Tisha.
Pelibatan perempuan menjadi salah satu karakter penting dalam pelaksanaan SCILLS. Di Sumba, sekitar 90 persen pelaku usaha yang terlibat merupakan perempuan. Di Maros, program juga banyak melibatkan perempuan dan menunjukkan bagaimana keterhubungan dengan ekosistem pendukung dapat membuka peluang baru bagi pelaku usaha. Salah satu peserta bahkan memperoleh akses pendanaan dari Dompet Dhuafa setelah terhubung dengan jejaring pendukung melalui program.
Hasil pembelajaran program menunjukkan adanya perkembangan dalam praktik pengelolaan usaha. Catatan program menyebut sekitar 88 persen UMKM di Maros telah rutin melakukan pencatatan keuangan. Data yang dipaparkan juga mencatat nilai omzet sekitar Rp2 miliar di Maros dan sekitar Rp400 juta di Sumba, meskipun angka tersebut perlu dibaca dengan mempertimbangkan perbedaan skala usaha peserta. Tisha menekankan bahwa keberhasilan program tidak cukup diukur dari omzet, tetapi juga dari peningkatan kemampuan digital, pengelolaan usaha, komunikasi dengan pelanggan, dan kemampuan membangun jejaring.
“Peserta belajar bukan hanya dari materi yang kami berikan. Mereka belajar dari praktik, dari kesalahan, dari diskusi, dan dari keberanian untuk bertanya,” ujar Tisha. Karena itu, pengembangan program selanjutnya diarahkan pada penguatan kepemimpinan lokal, penyiapan mentor lokal, keberlanjutan peer-to-peer learning, serta penghubungan pelaku UMKM dengan pemerintah dan jejaring pendukung. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membuat proses pembelajaran terus berjalan setelah program berakhir.
Sementara itu, Dini Zakia membagikan pengalaman program pendidikan dan konektivitas di sekolah-sekolah wilayah pesisir yang rentan terhadap bencana. Program tersebut menjangkau 39 sekolah dasar dan berkembang dari pengalaman menghadapi berbagai tantangan, termasuk pandemi ketika kebutuhan terhadap layanan digital meningkat sementara kapasitas sekolah, keluarga, dan infrastruktur belum selalu memadai. “Kami melihat konektivitas tidak bisa berdiri sendiri. Sekolah juga perlu memiliki kapasitas untuk menggunakan dan mengelola teknologi sesuai dengan kebutuhan mereka,” kata Dini.

Dini juga mengangkat sejumlah risiko yang muncul seiring meningkatnya penggunaan teknologi di kalangan anak dan keluarga. Program menemukan kasus anak yang terdampak judi online serta keterbatasan kapasitas sebagian orang tua dalam mendampingi anak di ruang digital. Namun, ia juga menunjukkan praktik positif ketika anak muda menggunakan media sosial untuk membangun personal branding dan mengembangkan potensinya. Pengalaman para guru tersebut kemudian dihimpun dalam sebuah buku yang disusun berdasarkan pembelajaran selama sekitar dua tahun dan melibatkan 117 guru.
Pada sesi berikutnya, Dr. Sudaryano R. Lamangkona memperkenalkan SAPA UMKM, platform yang sedang dikembangkan Kementerian UMKM untuk membantu pelaku usaha masuk dan berkembang dalam ekosistem digital. “Kami ingin teknologi menjawab kebutuhan nyata UMKM, mulai dari pencatatan keuangan, akses pembiayaan, sertifikasi, sampai membangun jejaring dengan pelaku usaha lainnya,” ujar Sudaryano. Melalui fitur pencatatan keuangan, sertifikasi halal, SNI, PIRT, komunikasi antarpelaku usaha, hingga pengembangan fungsi transaksi digital, SAPA UMKM diarahkan menjadi sarana onboarding bagi UMKM dalam ekosistem digital.

Rangkaian sesi tersebut memperlihatkan bahwa konektivitas tidak hanya berkaitan dengan tersedianya akses internet. Pengalaman SCILLS, program pendidikan di wilayah pesisir, dan pengembangan SAPA UMKM menunjukkan bagaimana teknologi dapat terhubung dengan penguatan keterampilan, pendidikan, pengelolaan usaha, akses pembiayaan, serta jejaring komunitas. Rural ICT Camp 2026 kemudian menempatkan konektivitas sebagai bagian dari ekosistem yang memungkinkan masyarakat membangun kapasitas dan mengembangkan peluang secara lebih berkelanjutan.***

