Menghidupkan Kembali Keterampilan Bertahan Hidup di Kota Melalui Lokakarya Aquaponik pada Hari Ketiga ToT SIK Angkatan ke-4

Newsroom

Menghidupkan Kembali Keterampilan Bertahan Hidup di Kota Melalui Lokakarya Aquaponik pada Hari Ketiga ToT SIK Angkatan ke-4

Di tengah padatnya kota dan semakin jauhnya masyarakat urban dari sumber pangannya sendiri, hari ketiga Training of Trainers (ToT) Sekolah Internet Komunitas (SIK) Angkatan ke-4 menghadirkan jawaban yang konkret dan aplikatif. Para peserta diajak menyelami lokakarya Pengoperasian Alat, Pemeliharaan, dan Pemecahan Masalah untuk Aquaponik sebuah sesi yang memadukan teknologi, ekologi, dan semangat kemandirian pangan komunitas di Gedung Citraweb Solusi Teknologi Training Center, Sleman, Yogyakarta pada Rabu (14/1/2026). Lokakarya ini dipandu oleh Chief Executive Officer Pakebun, Toni Prabowo, dan Chief Marketing Officer Pakebun, Hanief Fatchudin.


Sejak awal sesi, Toni Prabowo menekankan bahwa berkebun adalah keterampilan dasar manusia yang kini perlahan memudar di kota-kota besar. “Berkebun itu adalah basic survival skill. Sayangnya, masyarakat urban semakin jauh dari tanah dan proses produksi pangannya sendiri,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa lahirnya Pakebun merupakan inisiatif rintisan di bawah PT Penta Digital Nusantara yang berangkat dari kegelisahan tersebut. Pakebun berupaya mengembalikan praktik berkebun ke ruang-ruang kota melalui integrasi teknologi digital dan Internet of Things (IoT), sekaligus membangun kesadaran generasi muda untuk mampu memproduksi pangan secara mandiri.

Hanief Fatchudin menambahkan bahwa tantangan utama pertanian perkotaan bukan hanya soal lahan sempit, tetapi juga keterbatasan waktu dan pengetahuan teknis. “Banyak orang kota ingin menanam, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana, atau tidak punya waktu untuk merawatnya setiap hari. Di sinilah teknologi bisa membantu,” jelasnya.


Smart Farming dan Ekosistem Teknologi Pakebun

Dalam lokakarya ini, peserta diperkenalkan pada ekosistem smart farming yang dikembangkan Pakebun. Salah satu perangkat utamanya adalah Airis (Automatic Irrigation System), sistem penyiraman, pemupukan, dan pengembunan tanaman otomatis yang dapat diatur melalui aplikasi berbasis internet. Dengan Airis, pengguna dapat menentukan jadwal dan intensitas penyiraman sesuai kebutuhan tanaman.


Perangkat lain seperti Plantgrow berfungsi sebagai pusat kendali yang mengolah data sensor dan mengatur distribusi nutrisi. Sensor lingkungan Planthara mendeteksi kelembaban tanah, suhu, pH, kadar mineral, hingga unsur NPK, sementara Plantqua, Plantclimate, dan Plantpower mendukung pemantauan air, iklim, dan energi.

Toni menjelaskan, “Peran manusia tetap penting, tetapi teknologi membantu mengurangi pekerjaan manual yang repetitif. Misalnya pada budidaya melon 70 hari, manusia fokus pada polinasi, sementara penyiraman dan nutrisi berjalan otomatis.” Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana integrated farming design termasuk greenhouse dan sistem closed loop yang dapat diterapkan secara efisien di lahan terbatas.

Aquaponik sebagai Strategi Ketahanan Pangan

Aquaponik diperkenalkan sebagai solusi urban farming yang ramah lingkungan, efisien, dan edukatif. Sistem ini mengintegrasikan akuakultur (budidaya ikan) dan hidroponik dalam satu sirkulasi air tertutup. Limbah amonia dari ikan diolah oleh bakteri nitrifikasi menjadi nitrat, yang kemudian diserap tanaman sebagai nutrisi. Air yang telah tersaring kembali ke kolam ikan dalam kondisi lebih bersih.

“Aquaponik bukan hanya soal menanam tanpa tanah. Ini tentang membangun ekosistem yang seimbang,” ujar Hanief. Ia menekankan pentingnya menjaga kestabilan nutrisi, kualitas air, oksigen, suhu, dan pH agar sistem berjalan optimal.

Dalam diskusi, peserta menanyakan kebutuhan cahaya matahari dan keberlanjutan hasil panen. Fasilitator menjelaskan bahwa sistem tetap membutuhkan 6–8 jam cahaya alami per hari. Menariknya, hasil panen setelah siklus pertama justru cenderung meningkat. “Setelah panen pertama, bakteri dalam media tanam sudah berkembang lebih stabil. Itu membuat sistem semakin matang,” jelas Toni.

Praktik Lapangan dan Pembelajaran Kontekstual

Sesi praktik menjadi bagian penting lokakarya. Peserta mengamati langsung perakitan sistem aquaponik dan konfigurasi Airis, memahami alur kerja perangkat, hingga mekanisme penyiraman otomatis. Diskusi juga berkembang pada penggunaan air hujan yang memiliki tingkat keasaman tinggi. Fasilitator membagikan teknik sederhana pemanenan air hujan, yakni membuang 10 menit pertama aliran hujan untuk menghindari kandungan polusi sebelum memanfaatkannya dalam sistem.


Salah satu peserta Apri dari SIK Ciptagelar menyampaikan refleksinya, “Kami baru menyadari bahwa teknologi IoT bisa diterapkan secara praktis untuk produksi pangan komunitas. Ini bukan sekadar alat, tapi cara berpikir baru tentang ketahanan pangan.” Peserta lain menambahkan bahwa model mini integrated farming berukuran 4×6 meter terasa realistis untuk diterapkan di komunitasnya.

Lokakarya ini menegaskan bahwa urban farming termasuk aquaponik bukan hanya solusi teknis, melainkan pendekatan ekologis dan sosial. Ia membuka peluang kemandirian pangan, mengurangi jejak karbon distribusi, memanfaatkan ruang kota yang terbatas, sekaligus memperkuat solidaritas komunitas.

Menutup sesi, Toni Prabowo menegaskan, “Ketahanan pangan tidak selalu harus dimulai dari skala besar. Ia bisa dimulai dari halaman kecil, dari komunitas, dari sistem yang terintegrasi dan dikelola bersama.”


Hari ketiga ToT SIK Angkatan ke-4 pun menjadi momentum penting bagi para peserta untuk tidak hanya memahami teknologi, tetapi juga membawa pulang gagasan bahwa pangan, teknologi, dan komunitas dapat bertemu dalam satu ekosistem berkelanjutan.***

Share Article

Berita Terbaru

Newsroom

Berita dan pembaharuan terbaru
langsung dari Common Room.

Menghidupkan Kembali Keterampilan Bertahan Hidup di Kota Melalui Lokakarya Aquaponik pada Hari Ketiga ToT SIK Angkatan ke-4
This website uses cookies to improve your experience. By using this website you agree to our Privacy Policy.
Read more