Menganyam Masa Depan dari Nipah Rammang-Rammang: Kisah Perempuan di Balik Kelompok Kerajinan Khairunnisa

Newsroom

Menganyam Masa Depan dari Nipah Rammang-Rammang: Kisah Perempuan di Balik Kelompok Kerajinan Khairunnisa

Di ujung Dermaga 2 Rammang-Rammang, derap langkah kaki wisatawan yang menapaki jembatan beradu dengan deru mesin perahu yang menyusuri sungai. Sore yang tenang dan gemerisik daun nipah yang tumbuh subur di sepanjang sungai menyambut kedatangan tim Baselining Program Penguatan dan Pelatihan Sekolah Internet Komunitas yang terdiri atas Staf Lapangan Common Room, Kiky Andhika dan Pendamping UMKM Rois Solihin serta M. Indra K. H. Tujuannya kali ini adalah singgah ke lokasi Kelompok Kerajinan Khairunissa yang dimotori oleh Hj. Saripa.


Berada di antara lanskap yang sudah diakui UNESCO sebagai Global Geopark sejak 2023 lalu, kelompok kerajinan ini lebih dari sekadar menganyam kerajinan tangan. Mereka menganyam harapan. Saat ditemui di kediamannya, dengan cekatan Saripa menunjukkan caranya menyulap daun nipah menjadi beragam anyaman. Ia tersenyum saat ditanya bagaimana semua ini dimulai.

“Dari pelatihan itu kami sepakat membuat kelompok supaya keterampilan yang kami dapat tidak berhenti begitu saja. Kami ingin terus produksi dan bisa membantu pendapatan keluarga,” katanya, mengingat kembali pelatihan menganyam yang diberikan Dinas Pariwisata Bulukumba dan UNESCO pada 2021, tepat saat pandemi memukul ekonomi rumah tangga.

Sejak saat itu, lahirlah Kelompok Kerajinan Khairunnisa, beranggotakan 10–15 perempuan dari lingkungan sekitar. Mereka datang bukan hanya membawa bahan baku, tapi juga cerita, tawa, dan kebutuhan untuk tetap kuat bersama. Bahan baku mereka tidak perlu dicari jauh, nipah dan rotan tumbuh melimpah di halaman belakang desa, seakan menunggu untuk diubah menjadi sesuatu yang bernilai.

Produk-produk buatan mereka sederhana namun memikat: keranjang seharga 10.000–15.000 rupiah, piring anyaman 5.000–10.000 rupiah, serta tas-tas nipah yang kerap menjadi incaran wisatawan. “Wisatawan biasanya beli untuk oleh-oleh. Mereka suka karena kerajinan kami dibuat dari bahan alami yang khas daerah sini,” ujar Saripa, sambil menunjukkan tas anyaman yang baru selesai dikerjakan.

Namun, keberlangsungan usaha tidak selalu seindah pola anyamannya. Rammang-Rammang hidup dari pariwisata; ketika kunjungan menurun, penjualan ikut merosot. Ketergantungan pada wisatawan membuat kelompok ini tidak punya banyak ruang bergerak. “Kalau sepi wisatawan, penjualan ikut menurun. Kami berharap ada cara supaya produk kami bisa dijual lebih jauh,” tutur Saripa.


Karena itulah, harapan muncul ketika Program Penguatan & Pelatihan Sekolah Internet Komunitas hadir di desa mereka. Pelatihan digital dianggap sebagai pintu ke masa depan. “Kami ingin belajar jualan online. Kalau bisa masuk internet, mungkin orang di luar Sulawesi juga bisa lihat dan beli produk kami,” kata Saripa, matanya berbinar seakan sudah melihat peluang yang lebih luas.

Dari sisi legalitas, kelompok Khairunnisa tidak berjalan setengah-setengah. Mereka telah mengantongi dukungan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta izin usaha dari desa. Langkah ini membuat mereka semakin percaya diri untuk menatap peluang baru. “Legalitas itu penting supaya usaha kami dianggap serius,” tambah Saripa.


Menjalankan usaha sambil bekerja sebagai pengawas di Dinas Pendidikan tentu bukan hal mudah bagi Saripa. Namun, ia tidak pernah mengeluh. Baginya, membina kelompok ini punya nilai emosional tersendiri. “Nipah ini bagian dari kehidupan kami sejak dulu. Sayang kalau tidak dimanfaatkan. Dengan kelompok ini, kami bisa lestarikan tradisi sekaligus mendapatkan penghasilan,” ucapnya.

Senja menjemput di Rammang-Rammang, suasana makin sepi. Secara berangsur wisatawan meninggalkan kawasan karst ini. Tapi di balik keheningan yang kembali menyelimuti Rammang-Rammang, sesuatu terus bergerak: tekad perempuan-perempuan yang mengubah daun nipah menjadi masa depan.


Dengan dukungan teknologi, legalitas usaha yang kuat, dan semangat kebersamaan, Kelompok Kerajinan Khairunnisa kini bersiap membuka lembaran baru, menganyam peluang dari desa wisata yang tenang menuju pasar digital yang tak berbatas. Mereka bukan sekadar pembuat kerajinan; mereka adalah penjaga tradisi dan perajut harapan.***

Share Article

Berita Terbaru

Newsroom

Berita dan pembaharuan terbaru
langsung dari Common Room.

Menganyam Masa Depan dari Nipah Rammang-Rammang: Kisah Perempuan di Balik Kelompok Kerajinan Khairunnisa
This website uses cookies to improve your experience. By using this website you agree to our Privacy Policy.
Read more