Di antara riuhnya produk-produk dari sektor perikanan, saat Baseline Study & Asesmen Kebutuhan di wilayah Maros bertepatan dengan pelaksanaan Hari Ikan Nasional (Harkannas) 21 November 2025 di Lapangan Pallantikang Maros pada Jumat (21/11/2025) Staf Lapangan Common Room, Kiky Andhika yang didampingi dua Pendamping UMKM Rois Solihin dan M. Indra K. H. mendapati satu produk kreatif nan cantik yang potensial dikenal publik lebih luas. Datang jauh-jauh dari rimbun pepohonan Taman Wisata Alam Bantimurung, kreativitas tumbuh dalam bentuk yang tak terduga. Dari kawasan yang dikenal sebagai The Kingdom of Butterflies ini, hadir sebuah usaha lokal yang memadukan seni, ketekunan, dan konservasi yaitu Cinta Souvenir milik pasangan Nur Alam dan suaminya.

Ketika ditemui, Nur Alam tampil ramah sambil memperlihatkan berbagai karya unik berbahan dasar kupu-kupu yang diawetkan. Ide usaha ini bermula dari pengamatan sederhana namun jeli. “Di kawasan Taman Wisata Bantimurung terdapat 274 spesies kupu-kupu yang ditangkarkan, beberapa di antaranya jenis endemik. Dalam kondisi hidup, kupu-kupu ini tidak boleh ditangkap. Namun ketika mati, barulah boleh dimanfaatkan,” jelasnya. Dari kebijakan konservasi itulah muncul peluang usaha kreatif yang tetap menghormati prinsip pelestarian.
Suvenir-suvenir ciptaan Cinta Souvenir hadir dalam berbagai bentuk: gantungan kunci mungil, hiasan dinding elegan, hingga bingkai kupu-kupu artistik yang memancarkan keindahan warna alami. Meski terlihat sederhana, proses pembuatannya membutuhkan ketelitian tingkat tinggi. Setiap kupu-kupu harus dipilah lebih dulu sebelum melalui serangkaian langkah: menggunting sayap dengan sangat hati-hati, mengeringkan, mencetak, merangkai, hingga menghaluskan bagian akhir agar tampil sempurna.

“Kadang satu bingkai besar bisa memakan waktu berhari-hari, tergantung jenis kupu-kupu dan kerumitannya,” ungkapnya sambil menunjukkan salah satu karya terbaik yang melibatkan beberapa spesies sekaligus. Dengan rentang harga mulai dari Rp7.000–Rp10.000 untuk gantungan kunci hingga mencapai Rp3.000.000 untuk bingkai premium, produk ini menjangkau berbagai kalangan dan kebutuhan.

Pemasaran Cinta Souvenir pun sudah melampaui batas Maros dan Sulawesi Selatan. Produk-produknya telah melanglang ke Jawa, Kalimantan, hingga Papua. Meski begitu, pusat aktivitas dan proses kreatif tetap berada di Bantimurung, dilakukan sepenuhnya oleh Nur Alam dan suaminya yang menghadirkan sentuhan personal dan kualitas yang konsisten.

Menariknya, Nur Alam tidak sekadar menjual suvenir; ia juga membawa misi edukasi. Setiap karya umumnya dilengkapi informasi mengenai spesies kupu-kupu yang digunakan, sehingga pembeli tak hanya membawa pulang barang cantik, tetapi juga sedikit pengetahuan tentang kekayaan biodiversitas Bantimurung.

Saat ini, penjualan masih bergantung pada kunjungan wisatawan serta permintaan dari lini kedinasan. Namun potensi Cinta Souvenir jelas jauh lebih besar. Dengan cerita, keunikan bahan, dan nilai konservasi yang menyertainya, karya-karya ini bukan hanya suvenir melainkan potongan kecil dari keindahan Bantimurung yang diabadikan dalam bingkai seni.***

