“Catat kendala, catat kemajuan sekecil mungkin.”
Pesan singkat namun reflektif ini menjadi penutup hari ketiga pelatihan “Literasi Digital Lanjutan untuk Meningkatkan Produktivitas Usaha Berbasis Internet” sebagai penguatan Program Sekolah Internet Komunitas (SIK) dalam mendukung Inklusi Ekonomi di Wilayah Pedesaan dan Terpencil. Kegiatan ini berlangsung di Gedung Balai Latihan Kerja (BLK) Don Bosco Sumba Barat Daya, Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, pada Kamis (29/1/2026).

Di hari terakhir, Manajer Program dan Kerja Sama Common Room, Tisha Amelia, bersama Koordinator Program Common Room, Andriani Kesa Alivia, mendampingi peserta menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) untuk kurang lebih dua bulan ke depan. Sesi ini dirancang agar peserta tidak berhenti pada pemahaman materi, melainkan mampu menerjemahkannya ke dalam langkah konkret.
“Pelatihan ini bukan garis akhir. Justru ini titik mulai. RTL membantu bapak-ibu memastikan bahwa ilmu yang didapat benar-benar dijalankan,” ujar Tisha Amelia dalam sesi pendampingan.

RTL disusun secara sistematis dengan memetakan target, langkah kerja, waktu pelaksanaan, serta indikator capaian. Materi seperti pencatatan keuangan harian, perhitungan laba rugi, hingga perencanaan konten promosi di media sosial menjadi fokus utama yang dituangkan dalam rencana aksi masing-masing usaha.
Andriani Kesa Alivia menekankan pentingnya disiplin dalam proses tersebut. “Sering kali usaha tidak berkembang bukan karena tidak bisa, tetapi karena tidak tercatat dan tidak dievaluasi. Dengan mencatat kendala, kita tahu apa yang harus diperbaiki. Dengan mencatat kemajuan, sekecil apa pun, kita tahu bahwa kita sedang bergerak,” jelasnya.

Menurutnya, konsistensi lebih penting daripada langkah besar yang sesekali dilakukan. “Tidak harus langsung sempurna. Yang penting bertahap dan terukur. Dua bulan ke depan ini adalah fase uji komitmen,” tambah Kesa.
Melalui penyusunan RTL, peserta diharapkan memiliki panduan berkelanjutan untuk memperbaiki kinerja usaha, menindaklanjuti temuan selama pelatihan, serta mencapai target secara efektif dan efisien. Dokumen RTL menjadi kompas yang menjaga agar pengembangan usaha tidak berhenti pada wacana atau semangat sesaat.









Sebagai bentuk komitmen lanjutan, para peserta akan mendapatkan pendampingan daring selama proses implementasi RTL. Pendampingan ini memungkinkan peserta berkonsultasi mengenai perkembangan usaha, mengevaluasi capaian, serta menyesuaikan strategi jika menghadapi kendala di lapangan.
Penutupan hari ketiga ini menegaskan bahwa literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga membangun pola kerja yang disiplin, terukur, dan berkelanjutan. Dari BLK Don Bosco Tambolaka, Sumba Barat Daya langkah kecil berupa kebiasaan mencatat dan merencanakan menjadi fondasi penting bagi UMKM untuk tumbuh lebih tangguh di era digital.***


