Bagaimana memastikan sebuah usaha tidak hanya menghasilkan keuntungan, tetapi juga menciptakan perubahan sosial yang nyata? Pertanyaan inilah yang mengemuka dalam hari ketiga Training of Trainers (ToT) 2026 Sekolah Internet Komunitas (SIK) Angkatan ke-4 pada Rabu (14/1/2026)di Gedung Citraweb Solusi Teknologi Training Center, Yogyakarta. Melalui materi Social Enterprise, Theory of Change, dan Social Business Model Canvas, para peserta diajak melampaui sekadar konsep bisnis, menuju perancangan usaha yang berkelanjutan sekaligus berdampak bagi komunitas. Sesi ini difasilitasi oleh Direktur Bina Swadaya Konsultan, Ana Budi Rahayu, dan SPV Program Bina Swadaya Konsultan, Albertin Yesica Stevani Tumimomor.
Ana Budi Rahayu menegaskan bahwa membangun usaha berbasis komunitas tidak cukup hanya dengan niat baik, tetapi membutuhkan kerangka berpikir yang sistematis dan terukur. “Social enterprise bukan sekadar usaha yang punya kepedulian sosial. Ia harus punya model bisnis yang sehat sekaligus misi sosial yang jelas dan terukur dampaknya,” tegas Ana.

Memetakan Pemahaman Awal Peserta
Sesi diawali dengan pengantar dan pre-test untuk memetakan pemahaman awal peserta mengenai konsep social enterprise, Theory of Change (ToC), dan Social Business Model Canvas (SBMC). Pre-test juga menggali kekhawatiran dan harapan peserta.
Sebagian peserta mengaku khawatir karena materi dianggap konseptual dan baru. Namun di sisi lain, mereka berharap mendapatkan pemahaman yang aplikatif untuk mengembangkan usaha dan inisiatif komunitas di daerah masing-masing. Temuan ini menjadi dasar bagi fasilitator untuk menyesuaikan pendekatan pembelajaran agar lebih kontekstual dan partisipatif.
Social Enterprise: Misi Sosial sebagai Inti
Dalam pemaparan konsep dasar, Ana menjelaskan bahwa social enterprise adalah model usaha yang bertujuan menyelesaikan persoalan sosial, ekonomi, atau lingkungan dengan menggunakan mekanisme pasar. “Keuntungan bukan tujuan akhir, tetapi alat untuk memperluas dampak. Tanpa keberlanjutan finansial, dampak sosial akan sulit bertahan,” ujarnya.
Ia menekankan empat karakteristik utama social enterprise: memiliki misi sosial yang jelas dan berbasis persoalan nyata; menghadirkan inovasi sosial yang berpotensi mengubah sistem; memiliki model bisnis yang menopang keberlanjutan; serta konsisten dalam praktik pemberdayaan.

Albertin Yesica Stevani menambahkan bahwa social enterprise berada dalam spektrum yang luas. “Ada organisasi sosial yang membangun unit usaha untuk menopang programnya, ada juga bisnis yang sejak awal dirancang untuk menjawab persoalan sosial. Keduanya bisa menjadi social enterprise selama misi sosialnya menjadi inti,” jelasnya.
Namun, tantangan tetap nyata. Keterbatasan modal, kapasitas manajerial, skala produksi, akses pendanaan, hingga kesulitan merekrut SDM menjadi persoalan yang sering dihadapi pelaku social enterprise.
Theory of Change: Merancang Perubahan Secara Terukur
Materi kemudian berlanjut pada Theory of Change sebagai kerangka berpikir dalam merancang perubahan sosial. Peserta diajak memahami alur logis dari identifikasi masalah, penentuan input dan aktivitas, hingga perumusan output, outcome, dan dampak jangka panjang.
“Sering kali kita sibuk pada aktivitas, tetapi lupa menanyakan: perubahan apa yang sebenarnya ingin kita capai?” ungkap Ana. Ia menegaskan bahwa Theory of Change membantu memastikan program tidak berhenti pada kegiatan, tetapi benar-benar menghasilkan perubahan.

Melalui simulasi pengurutan gambar dan diskusi kelompok, peserta belajar bahwa perubahan sosial tidak terjadi secara instan. Ada asumsi, relasi antaraktor, dan tahapan yang harus dipetakan dengan jelas. Konsep ini juga dikaitkan dengan manajemen proyek dan penyusunan indikator kinerja (KPI) agar capaian dapat diverifikasi dan diukur.
Social Business Model Canvas: Menjembatani Dampak dan Keberlanjutan
Pada sesi Social Business Model Canvas (SBMC), fasilitator memaparkan elemen-elemen utama seperti value proposition, customer segment, channels, revenue streams, key resources, hingga community reinvestment dan social innovation.
Yesica menekankan bahwa SBMC membantu pelaku usaha melihat keterkaitan antara aspek bisnis dan dampak sosial. “Model bisnis sosial yang kuat adalah yang mampu menjawab dua pertanyaan sekaligus: bagaimana usaha ini bertahan, dan bagaimana ia memberi manfaat bagi masyarakat,” katanya.

Peserta kemudian mengisi SBMC berdasarkan usaha atau inisiatif masing-masing. Teridentifikasi beragam model: ada yang memisahkan aktivitas bisnis dan sosial, ada pula yang mengintegrasikannya secara utuh. Presentasi peserta memunculkan berbagai studi kasus kontekstual, mulai dari pengelolaan internet komunitas, pertanian ramah lingkungan, usaha berbasis sumber daya lokal, hingga layanan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.
Rencana Tindak Lanjut: Dari Konsep ke Aksi
Pada sesi akhir, peserta menyusun rencana tindak lanjut untuk tiga bulan ke depan. Rencana tersebut mencakup tujuan, langkah strategis, kebutuhan sumber daya dan anggaran, pihak yang terlibat, serta dampak sosial yang diharapkan.
Beberapa peserta menargetkan pengembangan layanan internet desa dan peningkatan kapasitas teknisi lokal. Peserta lain fokus pada penguatan UMKM berbasis komunitas, program pendidikan, serta pemberdayaan kelompok rentan.

Ana mengingatkan pentingnya konsistensi pascapelatihan. “Pelatihan ini bukan titik akhir. Justru ini awal untuk memastikan setiap inisiatif yang dijalankan punya arah perubahan yang jelas dan dampak yang terukur. Membangun usaha berbasis komunitas bukan hanya soal bertahan secara finansial, tetapi juga tentang merancang perubahan sosial yang nyata dan berkelanjutan,” pungkasnya.***

