Berangkat dari kebutuhan komunikasi yang tangguh di wilayah terpencil dan rawan bencana, Asia Capacity Building Coordinator of the LocNet Initiative and Country Liaison Officer for Indonesia, Akhmat Safrudin memperkenalkan HERMES (High-frequency Emergency and Rural Multimedia Exchange System) sebagai solusi alternatif yang tidak bergantung pada jaringan internet konvensional. Teknologi ini membuka peluang bagi komunitas untuk tetap terhubung dalam situasi darurat sekaligus memperkuat ketahanan menghadapi krisis dan perubahan iklim.

Pengenalan awal mengenai teknologi HERMES dilakukan di Common Room Networks Foundation, Cigadung, Bandung, Senin (4/5/2026). Kegiatan ini turut diikuti oleh tim Common Room, Koordinator Teknis Jarindes Gelaralam, Willdan Hidayatullah serta perwakilan Sekolah Internet Komunitas (SIK) Ciptagelar, Apri. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya bersama untuk menghadirkan teknologi yang kontekstual, adaptif dan berpihak pada kebutuhan komunitas.


Melalui pendekatan berbasis komunitas, peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga langsung mempraktikkan penggunaan, instalasi hingga pemeliharaan sistem HERMES. Transfer pengetahuan ini menjadi langkah penting dalam membangun kemandirian teknologi di tingkat lokal agar komunitas mampu mengoperasikan, merawat bahkan mereproduksi perangkat sesuai kebutuhan mereka sendiri.
“HERMES dirancang agar komunitas dapat tetap berkomunikasi meski tanpa jaringan internet ataupun infrastruktur telekomunikasi konvensional,” ujar Akhmat Safrudin dalam sesi pelatihan. Ia menegaskan bahwa penguasaan teknologi di tingkat komunitas menjadi kunci penting untuk membangun sistem komunikasi yang tangguh dan berkelanjutan.
Setelah pelatihan teknis di Cigadung, rangkaian kegiatan dilanjutkan melalui Workshop & Transfer Pengetahuan HERMES yang digelar pada Selasa (5/5/2026) di Hemangini Hotel, Bandung. Kegiatan yang dipandu Direktur Common Room Networks Foundation, Gustaff H. Iskandar ini menjadi ruang belajar bersama mengenai pentingnya membangun konektivitas berbasis komunitas di wilayah tanpa akses internet.

Dalam sesi presentasinya, Akhmat menjelaskan bahwa HERMES merupakan sistem komunikasi digital berbasis radio HF (high frequency) dengan frekuensi berkisar antara 3 hingga 30 megahertz (MHz), meski tergolong gelombang pendek namun memungkinkan masyarakat mengirim pesan, email hingga dokumen penting lintas wilayah tanpa bergantung pada jaringan seluler maupun internet. “Konektivitas tidak selalu harus mahal dan tersentralisasi. Komunitas bisa membangun dan mengelola infrastrukturnya sendiri,” katanya.
Ia juga menyoroti bagaimana teknologi HERMES telah diterapkan di berbagai komunitas rural di kawasan Amerika Latin, termasuk Amazon, Brasil dan Ekuador. Menurutnya, pengalaman tersebut relevan dengan kondisi Indonesia yang masih memiliki banyak wilayah dengan keterbatasan akses komunikasi. “Pendekatan community-centred connectivity membuat teknologi lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat,” tambah Akhmat.
Selain memperkenalkan HERMES, workshop juga membahas OMPPT (Open Maximum Power Point Tracker), perangkat open hardware pengelola tenaga surya yang mendukung sistem komunikasi dan sensor berbasis komunitas. Teknologi ini memungkinkan perangkat komunikasi tetap berjalan di wilayah dengan keterbatasan pasokan listrik.

“Teknologi terbuka memberi kesempatan bagi masyarakat untuk memahami, memperbaiki hingga mengembangkan sistem sesuai kebutuhan lokal mereka,” jelas Akhmat. Ia menekankan bahwa keterbukaan perangkat keras dan perangkat lunak menjadi fondasi penting dalam membangun teknologi yang mandiri dan berkelanjutan.
Tak hanya itu, IT Expert Budi Rahardjo turut memperkaya diskusi dengan pemaparan mengenai weather station berbasis komunitas. Ia menjelaskan komponen, fungsi hingga ekosistem perangkat pemantauan cuaca yang dapat digunakan masyarakat untuk mendukung sistem peringatan dini dan pengumpulan data lingkungan secara mandiri.

Menurut Budi, keberadaan weather station sangat penting terutama di wilayah yang minim layanan meteorologi. “Data lingkungan yang dimiliki komunitas sendiri akan membantu masyarakat mengambil keputusan lebih cepat saat menghadapi potensi bencana,” ungkapnya.
Sementara itu, Owner QIMTronics, Yana S. Raharja membagikan pengalaman dalam mengembangkan inovasi teknologi berbasis kebutuhan lokal. Ia menilai teknologi seharusnya tidak hanya berorientasi pada kecanggihan, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat.

“Teknologi akan lebih bermakna ketika dapat dimiliki, dipelajari dan dikembangkan langsung oleh komunitas,” kata Yana. Melalui pengalamannya bersama QIMTronics, ia memperlihatkan bagaimana pendekatan teknologi lokal dapat mendorong kemandirian masyarakat sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas.
Rangkaian Workshop & Transfer Pengetahuan HERMES ini menjadi titik temu antara teknologi, pengetahuan dan semangat kolaborasi lintas komunitas. Melalui pengenalan HERMES, weather station hingga perangkat energi terbuka seperti OMPPT, para peserta diajak melihat bahwa konektivitas tidak hanya soal akses internet, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat dapat membangun sistem komunikasi yang inklusif, mandiri dan berkelanjutan dari akar rumput.***

