Membangun Ekosistem Pangan di Lahan Terbatas Lewat Aquaponik

Newsroom

Membangun Ekosistem Pangan di Lahan Terbatas Lewat Aquaponik

Halaman kecil di Common Room Networks Foundation, Cigadung, Bandung menjadi lokasi berlangsungnya sesi pelatihan aquaponik yang menghadirkan kolaborasi antara tim Common Room dan Pakebun pada Senin (6/4/2026). Chief Executive Officer Pakebun, Toni Prabowo hadir mendampingi sekaligus menyampaikan materi tentang aquaponik sebagai solusi urban farming yang relevan di tengah keterbatasan lahan perkotaan.


Dalam pemaparannya, Toni menjelaskan bahwa aquaponik merupakan sistem pertanian berkelanjutan yang mengintegrasikan budidaya ikan dan tanaman dalam satu siklus tertutup. Sistem ini bekerja melalui hubungan saling menguntungkan antara ikan, bakteri, dan tanaman. Limbah ikan berupa amonia akan diolah oleh bakteri menjadi nitrit dan kemudian nitrat, yang selanjutnya dimanfaatkan tanaman sebagai nutrisi, sebelum air kembali bersih ke kolam ikan.


Ia menekankan bahwa konsep ini bukan sekadar teknik bertani, melainkan sebuah ekosistem yang harus dipahami secara utuh. “Aquaponik itu bukan hanya menanam dan memelihara ikan, tapi bagaimana kita membangun satu sistem yang saling menghidupi antara ikan, bakteri, dan tanaman,” ujarnya. Bahkan, menurutnya, hal yang selama ini dianggap sebagai limbah justru menjadi bagian penting dalam siklus kehidupan tanaman. “Yang biasanya dianggap limbah, di aquaponik justru menjadi sumber kehidupan bagi tanaman,” tambahnya.

Keberhasilan sistem ini sangat ditentukan oleh kualitas air. Ikan sebagai organisme utama sangat sensitif terhadap perubahan oksigen, suhu, pH, dan zat berbahaya. Oleh karena itu, pengelolaan air menjadi aspek krusial, termasuk penggunaan aerator dan penambahan bakteri starter. Toni mengingatkan bahwa ketidakseimbangan kecil saja bisa berdampak besar. “Kalau airnya tidak dijaga, bukan cuma ikan yang mati, tapi seluruh sistem bisa runtuh,” jelas Toni.


Selain itu, sistem filtrasi menjadi komponen penting dalam menjaga stabilitas ekosistem. Filter mekanis berfungsi menyaring kotoran padat, filter biologis menjadi tempat hidup bakteri nitrifikasi, dan filter kimia membantu menjernihkan air. Ia menegaskan pentingnya peran mikroorganisme dalam sistem ini. “Bakteri adalah jantung dari sistem aquaponik. Tanpa mereka, siklus nutrisi tidak akan berjalan,” tambahnya.

Dari sisi tanaman, nutrisi utama berasal dari nitrogen dalam bentuk nitrat yang berperan dalam pembentukan klorofil, protein, dan enzim. Dengan sistem yang seimbang, tanaman dapat tumbuh tanpa tambahan pupuk kimia. “Tanaman di aquaponik, di Cigadung kita tanam kangkung dan bayam tidak butuh pupuk kimia tambahan jika siklusnya sudah seimbang,” jelasnya. Toni menambahkan bahwa kondisi lingkungan seperti suhu ideal 24–32°C serta pencahayaan yang cukup menjadi faktor penting dalam mendukung pertumbuhan tanaman.


Dalam pelatihan tersebut, peserta juga diperkenalkan pada penerapan teknologi berbasis Internet of Things (IoT) yang dikembangkan oleh Pakebun. Melalui sensor dan aplikasi digital, berbagai parameter seperti pH, suhu, kelembapan, dan intensitas cahaya dapat dipantau secara real-time. Sistem ini dapat diakses melalui aplikasi mobile, web, maupun secara offline. Menurut Toni, teknologi memiliki peran besar dalam meningkatkan efisiensi. “Dengan teknologi, kita bisa meminimalkan kesalahan manusia dan memastikan sistem tetap stabil,” ujarnya. Toni juga menekankan pentingnya literasi data dalam pertanian modern. “Urban farming ke depan bukan hanya soal bertani, tapi juga bagaimana kita membaca data dan mengambil keputusan dari situ,” papar Toni.

Peserta pelatihan juga diajak memahami alur praktik aquaponik secara langsung, mulai dari pembibitan menggunakan netpot, pemberian bakteri starter dan pupuk organik cair, perawatan rutin seperti pemberian pakan ikan dan pembersihan filter, hingga proses panen. Dalam hal ini, Toni mengingatkan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga konsistensi. “Kunci dari aquaponik itu bukan canggihnya alat, tapi konsistensi dalam merawat sistemnya,” tambahnya.


Melalui kegiatan pelatihan ini, Toni berharap masyarakat mulai melihat pertanian sebagai bagian dari solusi masa depan, terutama di wilayah urban. “Kita tidak harus punya lahan luas untuk mulai bertani. Dengan sistem seperti aquaponik, ruang terbatas pun bisa jadi sumber pangan,” ungkapnya.

Kolaborasi antara Pakebun dan Common Room di Cigadung ini menjadi contoh nyata bagaimana edukasi, teknologi, dan praktik langsung dapat berjalan beriringan dalam mendorong pertanian urban yang lebih cerdas dan berkelanjutan. Aquaponik tidak hanya menawarkan metode bercocok tanam yang efisien, tetapi juga membuka peluang menuju kemandirian pangan di tengah tantangan kehidupan perkotaan.***

Share Article

Berita Terbaru

Newsroom

Berita dan pembaharuan terbaru
langsung dari Common Room.

Membangun Ekosistem Pangan di Lahan Terbatas Lewat Aquaponik
This website uses cookies to improve your experience. By using this website you agree to our Privacy Policy.
Read more