Ketangguhan tidak lahir dari kepanikan saat bencana datang, melainkan dari persiapan yang dirancang jauh sebelumnya. Hari terakhir Training of Trainers (ToT) 2026 Sekolah Internet Komunitas (SIK) Angkatan ke-4, Kamis (15/1/2026), di Gedung Citraweb Solusi Teknologi Training Center, Yogyakarta menjadi ruang praktik “Penguatan Kelembagaan dan Pemetaan Risiko Berbasis Komunitas”. Sesi ini difasilitasi oleh DRR Senior Project Officer Caritas Germany, Lioni Beatrik, yang menekankan pentingnya kesiapsiagaan sebagai bagian dari penguatan struktur, memetakan ancaman, mengukur kapasitas, dan merumuskan langkah konkret membangun komunitas yang lebih siap menghadapi krisis.

Mengawali materi, Lioni merujuk pada Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. “Bencana bukan hanya peristiwa alam, tetapi rangkaian kejadian yang mengancam dan mengganggu kehidupan serta penghidupan masyarakat, baik karena faktor alam, non-alam, maupun manusia,” jelasnya. Ia mengingatkan bahwa dampak bencana tidak hanya berupa kerusakan fisik dan korban jiwa, tetapi juga kerugian ekonomi serta dampak psikologis yang sering kali berlangsung panjang.
Memahami Siklus Bencana sebagai Proses Berulang
Dalam praktik penyusunan siklus bencana, peserta dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil untuk menyusun urutan fase kebencanaan. Diskusi memperlihatkan beragam perspektif, mulai dari penekanan pada peringatan dini hingga rekonstruksi. Namun dari dialog lintas kelompok, muncul kesadaran bersama bahwa pencegahan dan mitigasi harus ditempatkan secara jelas sebelum kesiapsiagaan.
“Sering kali kita terjebak pada respons darurat, padahal fase pra-bencana adalah kunci pengurangan risiko,” ujar Lioni. Ia menegaskan bahwa siklus bencana bukan tahapan yang berdiri sendiri, melainkan proses yang berulang dan saling terhubung.

Praktik pengelompokan kegiatan kebencanaan semakin memperjelas pemahaman tersebut. Peserta mengidentifikasi bahwa pra-bencana mencakup pemetaan risiko, pendataan kelompok rentan, penentuan jalur evakuasi, simulasi, dan penyimpanan dokumen penting. Saat bencana berfokus pada penyelamatan jiwa dan respons cepat. Sementara pasca-bencana mencakup rehabilitasi infrastruktur, pemulihan ekonomi, dan pendampingan psikososial.
Risiko, Kapasitas, dan Peran Strategis SIK
Sesi kemudian berlanjut pada pembahasan rumus pengurangan risiko bencana yaitu “Risiko = Ancaman × Kerentanan / Kapasitas”.

“Kalau kita ingin menurunkan risiko, kita harus menurunkan ancaman dan kerentanan, sekaligus meningkatkan kapasitas,” tegas Lioni. Ia mencontohkan pentingnya akses ramah disabilitas di lokasi evakuasi, akses informasi yang inklusif, serta penguatan kapasitas komunitas melalui pengetahuan dan teknologi.
Dalam diskusi, peserta menilai SIK memiliki peran strategis dalam seluruh siklus bencana, khususnya dalam penguatan informasi dan komunikasi. Inisiatif seperti pembangunan pemancar radio darurat, jaringan desa (jaringdes), penyediaan internet darurat di titik strategis, hingga menjembatani pengetahuan lokal dengan sistem peringatan dini berbasis sains menjadi bagian dari kontribusi konkret SIK.
“Teknologi bukan tujuan akhir, tetapi alat untuk memperkuat kapasitas komunitas,” ungkap Lioni. Ia menambahkan bahwa pemulihan pascabencana seharusnya tidak hanya mengembalikan kondisi seperti semula, tetapi menjadi momentum untuk membangun kapasitas yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Mulai Dari Peta, Akhiri dengan Aksi Nyata
Dalam praktik pemetaan jalur evakuasi berbasis peta desa hipotetik, peserta merancang rambu evakuasi, jalur aman menuju titik kumpul, akses khusus bagi penyandang disabilitas, hingga penggunaan panel surya dan internet satelit sebagai dukungan komunikasi darurat. Gagasan penguatan lumbung pangan komunitas juga muncul sebagai strategi ketahanan jangka panjang.

Menutup sesi, Lioni menegaskan bahwa kesiapsiagaan memerlukan pendekatan terpadu. “Kebencanaan tidak bisa dilihat sebagai isu terpisah dari pembangunan. Ia harus menjadi bagian dari cara kita merencanakan masa depan desa,” katanya.
Sesi ini mempertegas bahwa penguatan kelembagaan dan pemetaan risiko berbasis komunitas merupakan fondasi penting bagi ketangguhan SIK. Dengan menggabungkan pengetahuan, praktik lapangan, teknologi, dan partisipasi aktif warga, kesiapsiagaan bencana tidak lagi sekadar wacana, melainkan kerja kolektif yang berkelanjutan.***

