Hari ketiga Training of Trainers (ToT) Sekolah Internet Komunitas (SIK) Angkatan ke-4 di Gedung Citraweb Solusi Teknologi Training Center, Sleman, Yogyakarta, menghadirkan materi bertajuk “Literasi Digital untuk IoT Pemantauan Lingkungan dan Kesiapsiagaan Bencana.” Sesi Kelas B difasilitasi oleh Rural Technology Researcher, Rois Solihin dan Mohamad Indra Komara Hamdhany pada Rabu (14/1/2026).
Berbeda dari sesi teknis jaringan pada hari-hari sebelumnya, peserta kali ini diajak melangkah lebih jauh memahami untuk apa teknologi digunakan dalam konteks sosial, lingkungan, dan kebencanaan.

“IP address dan netmask itu penting. Tapi yang lebih penting adalah: teknologi ini kita pakai untuk apa? Bagaimana ia bisa menyelamatkan nyawa atau membantu komunitas membaca risiko?” tanya Rois Solihin.
Kedua fasilitator berbagi pengalaman mereka di bidang IT security, decision support system, serta pengembangan frugal IoT bersama Common Room. Mereka mengakui selama ini lebih banyak bekerja di balik layar sebagai analis dan pengembang sistem, dan melalui forum ini ingin kembali berbagi pengetahuan langsung kepada komunitas.
“Kami terbiasa membangun sistem dari belakang layar. Lewat SIK ini, kami ingin sistem itu dipahami dan dimiliki oleh komunitas,” tambah Indra.
Krisis Iklim dan Urgensi Literasi Digital
Materi inti diawali dengan pembahasan krisis iklim yang meningkatkan ancaman bencana di berbagai wilayah, termasuk Indonesia. Dalam konteks tersebut, literasi digital dipandang sebagai kemampuan kunci untuk memahami informasi iklim yang semakin kompleks.
Rois menekankan tiga aspek utama literasi digital: akses informasi, evaluasi kritis, dan keamanan daring (online safety).
“Kita hidup dalam banjir data. Masalahnya bukan lagi kekurangan informasi, tapi polusi data. Kalau tidak punya kemampuan memilah, kita mudah tersesat,” jelas Rois.
Peserta diingatkan bahwa batas antara dunia daring dan luring semakin kabur. Informasi pribadi kerap dibagikan tanpa pertimbangan risiko, sementara perlindungan data di Indonesia masih lemah.

“Literasi digital bukan sekadar bisa pakai gawai. Ia adalah kemampuan untuk memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara bertanggung jawab,” tegas Indra.
Literasi digital juga dipadukan dengan literasi sains sebagai kemampuan memahami konsep ilmiah sebagai dasar pengambilan keputusan berbasis bukti. Keduanya dinilai penting dalam merespons isu lingkungan dan kebencanaan.
Misinformasi Iklim dan Tantangan Indonesia
Rois kembali memaparkan tingginya tingkat misinformasi terkait krisis iklim di Indonesia. Faktor penyebabnya beragam, mulai dari teori konspirasi hingga narasi religius yang disalahpahami. Media sosial dan grup WhatsApp keluarga disebut sebagai jalur utama penyebaran hoaks.
“Dorongan untuk jadi yang pertama menyebarkan informasi sering kali mengalahkan dorongan untuk memverifikasi,” ujar Rois.
Peserta diajak membiasakan jeda sebelum menyebarkan informasi, bahkan menunggu beberapa hari untuk memastikan validitasnya. Sebagai bagian dari upaya melawan misinformasi, Rois memperkenalkan platform faktaiklim.prosa.ai serta berbagai teknik verifikasi, seperti pencarian gambar terbalik, pemeriksaan metadata visual, hingga identifikasi video lama yang didaur ulang.
IoT untuk Pemantauan Lingkungan dan Keselamatan
Materi kemudian bergeser pada pemanfaatan Internet of Things (IoT) untuk mitigasi dan adaptasi iklim. Fasilitator berbagi pengalaman kolaborasi dengan Common Room dalam pengembangan dashboard pemantauan cuaca berbasis sensor IoT.
Sensor yang terpasang mampu memantau tekanan udara, suhu, dan anomali cuaca secara real time, serta berpotensi dikembangkan untuk analisis dan peramalan sederhana.
“IoT bukan teknologi mahal yang jauh dari komunitas. Dengan pendekatan frugal, kita bisa membangun sistem pemantauan yang relevan dengan kebutuhan lokal,” jelas Indra.
Saat diskusi, Ajir dari SIK Aceh membagikan pengalaman memanfaatkan aplikasi Windy untuk membantu nelayan menentukan waktu berlayar. “Data angin di Windy sangat membantu nelayan membaca kondisi sebelum melaut. Informasi sederhana tapi berdampak langsung pada keselamatan,” ungkap Ajir.
Contoh tersebut memperlihatkan bagaimana data digital dapat dimanfaatkan secara praktis untuk pengambilan keputusan di tingkat komunitas.
Praktik Kanvas Kesiapsiagaan Bencana
Sesi praktik menjadi penutup hari ketiga. Peserta diminta mengisi Kanvas Kesiapsiagaan Bencana dengan mengacu pada Sendai Framework, yang mencakup pemahaman risiko, penguatan tata kelola, investasi pengurangan risiko, dan peningkatan kesiapsiagaan.
Kanvas diisi secara manual berdasarkan konteks wilayah masing-masing, mulai dari kondisi geografis, riwayat bencana, infrastruktur tersedia, hingga sistem peringatan dini.

“Data kebencanaan itu dinamis. Ia harus terus diperbarui. Kalau tidak, keputusan kita akan berbasis data yang sudah kadaluarsa,” tegas Rois.
Secara bergantian peserta mempresentasikan kanvas mereka masing-masing. Secara umum dari hasil presentasi menunjukkan bahwa seluruh wilayah SIK berada pada kawasan dengan tingkat kerentanan bencana yang tinggi, baik gempa bumi, tsunami, banjir, longsor, puting beliung, hingga kekeringan. SIK Pulo Aceh, Lombok Utara, Mentawai, dan Ciracap menghadapi ancaman gempa dan tsunami karena berada di wilayah pesisir dan kepulauan. Sementara itu, Ciptagelar, Maros, dan Ngata Toro lebih banyak menghadapi risiko longsor, banjir bandang, serta dampak perubahan struktur tanah akibat kondisi geografis pegunungan, karst, dan lembah.
Dampak bencana yang terjadi di berbagai wilayah relatif serupa, yakni kerusakan rumah warga, korban jiwa, terputusnya akses transportasi, gangguan ekonomi, hingga trauma psikologis masyarakat. Beberapa wilayah seperti Pulo Aceh bahkan mengalami isolasi pascabencana karena keterbatasan akses dan minimnya dukungan lembaga eksternal pada masa-masa awal kejadian besar.
Dari sisi tata kelola, terdapat variasi pendekatan. Beberapa wilayah telah memiliki dukungan BPBD, tim reaksi cepat, serta relawan desa. Namun ada pula yang masih mengandalkan solidaritas warga dan kelembagaan adat sebagai garda terdepan penanganan bencana. Infrastruktur dasar seperti jalur evakuasi, fasilitas kesehatan, balai desa, sirine tsunami, hingga sistem peringatan dini sudah tersedia di sebagian wilayah, meski masih membutuhkan penguatan dan pemerataan.
Peserta menekankan pentingnya investasi pada sistem peringatan dini, pembangunan infrastruktur tahan gempa, normalisasi sungai dan penguatan tanggul, penanaman mangrove dan pohon, pembangunan shelter evakuasi, hingga penguatan kapasitas relawan dan BPBD. Selain itu, peningkatan kesiapsiagaan dilakukan melalui edukasi kebencanaan sejak dini, pemetaan risiko, pelatihan rutin SOP tanggap darurat, pelibatan tokoh adat dan komunitas, serta kolaborasi lintas sektor.

Dari hasil presentasi ini semakin menegaskan bahwa kesiapsiagaan bencana tidak hanya bergantung pada infrastruktur, tetapi juga pada kesadaran kolektif, tata kelola yang jelas, dan partisipasi aktif masyarakat dalam membangun ketahanan wilayahnya masing-masing. Lebih lanjut lagi, literasi digital, literasi sains, dan pemanfaatan IoT menjadi kombinasi penting agar komunitas tidak hanya terkoneksi, tetapi juga tangguh dalam menghadapi krisis iklim dan ancaman bencana.***

