Catatan-catatan kecil berwarna neon memenuhi lembar kertas plano di tengah ruangan kediaman perwakilan Sekolah Ineternet Komunitas (SIK) Ciptagelar. Ada yang bertuliskan “sungai”, “pipa”, “macet”, hingga “bencana longsor”. Satu per satu peserta menunjuk jalur aliran air di lahan mereka, membicarakan saluran yang tersumbat, pompa yang belum tersedia, hingga harapan agar lahan garapan tak lagi kesulitan air jika kemarau datang. Dari diskusi sederhana itu, sebuah gagasan besar mulai dirancang yaitu membangun sistem irigasi pintar berbasis Internet of Things (IoT) yang tumbuh dari kebutuhan nyata warga sendiri.

Dalam Workshop Identifikasi dan Pemetaan Alokasi Sumber Daya di Kampung Adat Ciptagelar, Kabupaten Sukabumi pada Minggu (17/5/2026), konsultan dan fasilitator smart irrigation system, Rois Solihin mengajak peserta menyusun “peta perjalanan air” berbasis pengalaman sehari-hari warga. “Teknologi itu tidak boleh datang sebagai barang asing yang dipaksakan masuk ke kampung. Ia harus lahir dari persoalan yang benar-benar dirasakan warga,” ujar Rois di tengah diskusi. Menurutnya, sistem irigasi berbasis IoT hanya akan berjalan jika masyarakat memahami fungsi dan manfaatnya sejak awal proses perencanaan.
Diskusi berkembang dari hal-hal sederhana yang selama ini dianggap biasa. Ada yang menunjuk persoalan saluran air yang rusak, ada pula yang mengusulkan teknologi filter dan penampungan air sebagai kebutuhan mendesak. Dari situ, percakapan bergerak lebih jauh tentang bagaimana teknologi bisa membantu tanpa memutus hubungan masyarakat dengan cara bertani yang sudah diwariskan turun-temurun.
Workshop itu tidak berhenti pada pemetaan masalah. Di lembar lain, peserta mulai menyusun matriks kebutuhan untuk membangun sistem irigasi berbasis Internet of Things (IoT). Mereka mendata apa saja yang diperlukan seperti sensor kelembaban tanah, gateway internet desa, panel surya, sistem kontrol pompa otomatis, hingga dashboard pemantauan. Semua dicatat secara terbuka, diinvetarisasi mana yang sudah tersedia, mana yang masih menjadi kesenjangan, dan siapa yang bisa terlibat mengisinya.

Rois menegaskan bahwa keberhasilan teknologi pertanian bukan terletak pada kecanggihan perangkat semata. “Sensor bisa dipasang dalam satu hari, tapi membangun sistem yang bisa dipelihara bersama itu prosesnya jauh lebih panjang,” katanya. Karena itu, ia mendorong peserta untuk tidak hanya fokus pada pengadaan alat, tetapi juga pada kesiapan sumber daya manusia dan pola kerja kolektif di lapangan.
Di sisi lain, kebutuhan sumber daya manusia juga dibahas dengan rinci. Mulai dari teknisi IoT, operator sistem, petugas pemeliharaan lapangan, hingga pendamping petani. Dalam forum itu terlihat bahwa teknologi tidak hanya soal alat, tetapi juga tentang siapa yang akan menjaga, memperbaiki, dan memastikan sistem tetap berjalan dalam jangka panjang. Karena itu, pelatihan dan penguatan kapasitas warga menjadi salah satu kebutuhan utama yang muncul dalam diskusi.

Suasana workshop terasa seperti ruang belajar bersama. Tidak ada jawaban yang langsung dianggap paling benar. Setiap catatan kecil yang ditempel menjadi bagian penting dari percakapan kolektif. Ketika membahas biaya pengadaan perangkat, instalasi, hingga dana pemeliharaan, peserta menyadari bahwa keberlanjutan sistem tidak bisa bergantung pada satu pihak saja. Semua perlu terlibat, mulai dari komunitas lokal, mitra teknis, hingga organisasi pendukung.
Di tengah proses itu, gambar rancangan teknis lahan mulai terbentuk. Sketsa sederhana memperlihatkan hubungan antara panel surya, pompa air, sensor, tangki penampungan, dan jalur distribusi menuju petak-petak lahan pertanian. Garis-garis yang digambar tangan itu mungkin terlihat sederhana, tetapi di baliknya tersimpan upaya besar untuk membangun sistem yang sesuai dengan kondisi Ciptagelar, sebuah wilayah yang masih menjaga hubungan erat antara manusia, alam, dan tradisi.

“Kalau masyarakat ikut merancang dari awal, mereka juga akan merasa memiliki sistem ini. Itu yang membuat teknologi bisa bertahan lebih lama,” tutur Rois. Baginya, kolaborasi menjadi pondasi utama agar inovasi tidak berhenti sebagai proyek sesaat, melainkan berkembang menjadi pengetahuan bersama yang terus dirawat.
Dari diskusi kecil ini, langkah besar mulai dirancang. Teknologi menjadi terasa lebih dekat ketika dibangun secara kolektif, menyatu dengan konteks lokal, dan berpijak pada kebutuhan sehari-hari masyarakat. Di Ciptagelar, kolaborasi bukan sekadar konsep yang diucapkan dalam forum, melainkan cara kerja yang terus dirawat untuk menjaga keberlanjutan komunitas dan alam di sekitarnya.***

