Kesetaraan gender tidak hanya berbicara tentang membuka ruang yang lebih luas bagi perempuan. Kesetaraan juga mengajak laki-laki melihat kembali peran, pengalaman, kebiasaan, dan norma yang selama ini membentuk cara mereka menjalani kehidupan. Perspektif tersebut menjadi pembuka sesi “Penguatan Pemahaman Peran Laki-laki dalam Kesetaraan Gender” dalam rangkaian Rural ICT Camp 2026 di Lab Air BRPBAPPP Maros, Selasa (15/9/2026), ketika peserta laki-laki diajak merefleksikan maskulinitas, pekerjaan domestik, ekspresi emosi, hingga relasi kuasa.
Forum yang difasilitasi Prasasti Dewi dan Putri Farkhah dari ICT Watch, Ellen Kusuma dari Combine Resource Institution, serta Dewi Nugraheni dari Citraweb ini dimulai dengan refleksi mengenai kondisi emosional peserta. Mereka memilih gambar yang dianggap mewakili perasaan masing-masing, kemudian memperkenalkan diri dan menjelaskan alasan di balik pilihannya. Dari proses tersebut, peserta membangun kesepakatan untuk menciptakan ruang interaksi yang aman sebelum masuk ke pembahasan mengenai konstruksi peran laki-laki dan perempuan.
Ferdhi Putra dari Combine Resource Institution kemudian mengajak peserta membongkar anggapan bahwa laki-laki harus selalu kuat dan mampu menyelesaikan masalah sendiri. Ia menyoroti kebiasaan di lingkungan pertemanan laki-laki yang kerap menganggap tidak bercerita sebagai sesuatu yang normal. “Laki-laki juga membutuhkan ruang aman untuk membicarakan perasaan dan persoalan yang mereka hadapi,” ujar Ferdi, sambil mengajak peserta melihat kerentanan bukan sebagai kelemahan, melainkan bagian dari pengalaman manusia.
Ferdi juga mengajak peserta mengubah cara pandang terhadap pekerjaan domestik. “Pekerjaan domestik bukan semata-mata pekerjaan perempuan, tetapi merupakan basic life skills yang perlu dimiliki setiap orang,” tegasnya. Pernyataan itu menemukan konteksnya dalam pengalaman beberapa peserta diskusi yang mengatakan bahwa keluarga telah membagi pekerjaan secara cukup setara, tetapi tekanan sosial terkadang membuat laki-laki enggan melakukan pekerjaan domestik karena khawatir perempuan dalam keluarganya mendapat stigma atau ejekan dari lingkungan.
Pembahasan kemudian bergerak pada otoritas formal dan informal yang memengaruhi relasi laki-laki dan perempuan. Ferdi menunjukkan bahwa ketimpangan juga muncul dalam aspek pengupahan, akses cuti, cuti melahirkan, hingga kebijakan terkait menstruasi. “Kita perlu melihat bahwa setiap orang menghadapi tantangan yang berbeda dalam membangun kesetaraan,” menjadi garis penting diskusi, karena pengalaman keluarga, budaya, lingkungan sosial, dan nilai yang diterima sejak kecil ikut membentuk cara seseorang memahami peran gender.
Diskusi ini kemudian membahas toxic masculinity dan tekanan sosial yang membentuk cara laki-laki menampilkan dirinya. Beberapa peserta mengatakan bahwa laki-laki sebenarnya membutuhkan ruang untuk berbicara, tetapi sejak kecil banyak laki-laki diajarkan untuk selalu kuat. Mereka menggambarkan kondisi tersebut seperti sistem sosial yang terus-menerus “memprogram” laki-laki untuk mengikuti standar maskulinitas tertentu. Peserta lain menegaskan bahwa persoalan maskulinitas tidak hanya berasal dari laki-laki, tetapi juga dibentuk oleh sistem, keluarga, budaya, dan norma sosial.
Dari pembahasan tersebut, peserta mulai melihat pentingnya vulnerability dan emotional awareness. Saat berdiskusi, peserta menekankan bahwa laki-laki perlu memiliki kemampuan mengenali emosi dan mengekspresikannya secara terkendali. Mereka menjelaskan bahwa kemarahan pun dapat menjadi bentuk komunikasi apabila seseorang mampu mengarahkannya dengan tepat, bukan sekadar membiarkannya menjadi ledakan emosi. Dewi Nugraheni dari Citraweb kemudian membagikan pengalamannya mengajarkan emotional awareness kepada anak-anak, khususnya anak laki-laki. “Anak perlu belajar mengenali dan mengatur emosinya,” ujarnya, agar mereka tidak menjadikan gadget atau perilaku lain sebagai satu-satunya bentuk pelarian.

Refleksi berlanjut melalui 24-Hour Clock yang mengajak peserta memetakan aktivitas, beban pikiran, serta kerja yang terlihat dan tidak terlihat dalam keseharian. Peserta diajak menyadari bahwa kerja perawatan selama ini lebih banyak dilakukan perempuan dan sering kali tidak terlihat sebagai sebuah bentuk kerja. Ajir dari Sekolah Internet Komunitas (SIK) Aceh kemudian membagikan praktik di komunitasnya. Ia menjelaskan bahwa organisasinya tidak hanya mempertimbangkan posisi dalam menentukan kompensasi, tetapi juga memperhitungkan beban kerja. “Ruang aman dan kesetaraan bisa dimulai dari diri sendiri, kemudian diterapkan dalam keluarga dan diperluas ke komunitas,” ungkap Ajir.
Aji Kusmayadi dari SIK Ciracap juga menceritakan perubahan yang ia alami setelah mendapatkan pembelajaran mengenai gender. Ia memulai perubahan tersebut dari kehidupan keluarga, termasuk dengan tidak lagi menganggap bahwa kopi atau kebutuhan pribadinya harus selalu disiapkan oleh perempuan. “Pembelajaran mengenai gender mengubah cara saya melihat pembagian peran di keluarga,” kata Aji, yang kemudian membawa refleksi tersebut ke dalam kebijakan dan praktik kerja di komunitas. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa perubahan cara pandang dapat dimulai dari kebiasaan sehari-hari sebelum berkembang menjadi perubahan di tingkat organisasi.
Direktur Common Room Networks Foundation, Gustaff H. Iskandar kemudian memperkenalkan shared responsibility dan shared leadership sebagai pendekatan untuk membangun praktik kesetaraan di Common Room. “Kepemimpinan tidak selalu harus dipahami sebagai sesuatu yang dimiliki satu orang,” jelas Gustaff. Ia menjelaskan bahwa shared responsibility berarti membagi tugas, kerja perawatan, koordinasi, partisipasi, rasa memiliki, dan akuntabilitas, sementara shared leadership membuka ruang bagi banyak orang untuk mendengar, berbagi pengaruh, dan berkontribusi dalam proses pengambilan keputusan. Gustaff menambahkan bahwa Common Room terus belajar dan mengembangkan praktik bersama tersebut.

Ruang refleksi kemudian kembali pada pengalaman personal peserta melalui sesi berbagi cerita berdasarkan foto yang mereka pilih dari galeri ponsel. Gustaff menceritakan pengalaman ketika anak bungsunya mengalami mental breakdown pada masa pandemi dan harus berpindah sekolah. Ia merefleksikan pengalaman tersebut sebagai proses penting untuk membangun kembali komunikasi dan hubungan antara orang tua dan anak. Lain lagi dengan Pardison Situmorang dari SIK Mentawai wilayah Sikebukat, Desa Saliguma juga mengakui bahwa pandangannya berubah setelah bergabung dengan SIK. “Dulu saya menganggap laki-laki memang tidak perlu bercerita, tetapi pengalaman di SIK membuat saya melihat pentingnya ruang bagi laki-laki untuk berbagi dan berekspresi,” tuturnya.
Pada akhirnya, sesi “Penguatan Pemahaman Peran Laki-laki dalam Kesetaraan Gender” ini memperlihatkan bahwa kesetaraan gender dapat dimulai dari keberanian laki-laki untuk merefleksikan dirinya sendiri. Peserta tidak hanya membicarakan pembagian pekerjaan domestik atau posisi dalam keluarga, tetapi juga belajar mengenali emosi, menerima kerentanan, berbagi tanggung jawab, dan membuka ruang bagi orang lain untuk berkontribusi. Melalui shared responsibility dan shared leadership, para peserta melihat kesetaraan sebagai proses yang dapat dimulai dari diri sendiri, tumbuh dalam keluarga, lalu berkembang menjadi praktik bersama di komunitas dan organisasi. Pembahasan Gender Equality Playbook for Men pun hadir sebagai ruang refleksi agar laki-laki turut mengambil bagian dalam membangun relasi yang lebih adil, aman, dan saling mendukung.***

