Perubahan besar dalam dunia pemasaran digital menuntut pelaku UMKM untuk bergerak lebih cepat dan adaptif. Hal ini mengemuka dalam Pelatihan Lanjutan Digital Marketing dan Produksi Konten untuk UMKM di Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAP3) Maros, Sulawesi Selatan pada Sabtu (11/4/2026), saat Konsultan UMKM, Aziz Setyawijaya membuka sesi dengan penekanan bahwa kekuatan brand hari ini tidak lagi bertumpu pada produk semata, melainkan pada cerita yang mampu membangun kedekatan dengan audiens.
“Pemasaran bukan lagi tentang barang yang Anda buat, tetapi tentang cerita yang Anda sampaikan,” ujar Aziz, mengutip pemikiran Seth Godin. Pernyataan ini menjadi benang merah dalam seluruh materi yang disampaikan bahwa kekuatan sebuah brand kini terletak pada narasi, bukan sekadar fitur atau harga.

Aziz juga menggarisbawahi bahwa perubahan dalam dunia digital terjadi sangat cepat. “Semua berubah,” menjadi pengingat bahwa pelaku UMKM tidak bisa lagi mengandalkan cara-cara konvensional dalam memasarkan produk. Adaptasi terhadap platform digital seperti Instagram, Facebook, dan WhatsApp Business menjadi keharusan, bukan pilihan.
Dalam sesi tersebut, peserta diajak melakukan refleksi melalui sejumlah indikator sederhana untuk mengukur sejauh mana bisnis mereka telah terdigitalisasi. Mulai dari konsistensi mengunggah konten, kelengkapan profil usaha, interaksi dengan audiens, hingga perencanaan konten.
“Skor di atas 80 menunjukkan kesiapan untuk “go digital”, sementara skor di bawah 40 menandakan bahwa pemanfaatan media sosial masih belum optimal,” ujarnya.
Lebih lanjut, Aziz menekankan pentingnya content planning sebagai fondasi dalam membangun brand yang kuat. Tanpa perencanaan, konten yang dihasilkan cenderung tidak konsisten dan sulit membangun kedekatan dengan audiens. Ia juga memperkenalkan konsep storyboard konten untuk membantu pelaku UMKM merancang alur cerita yang menarik dan terarah.

Salah satu poin penting yang turut disoroti adalah penggunaan Call to Action (CTA). Menurut Aziz, CTA adalah elemen krusial dalam setiap konten digital karena berfungsi mengarahkan audiens untuk melakukan tindakan tertentu. “CTA harus jelas dan menggunakan kata kerja aktif, seperti ‘Beli’, ‘Daftar’, atau ‘Pelajari’,” jelasnya. Ia juga membedakan antara CTA untuk penjualan, seperti “Beli Sekarang” atau “Pesan Sebelum Kehabisan”, dengan CTA untuk meningkatkan interaksi, seperti “Like & Share” atau “Komen ‘MAU’ untuk info lebih lanjut”.
Sebagai penutup, Aziz memberikan sejumlah tugas praktis bagi peserta UMKM di Maros, antara lain menyelesaikan pengaturan WhatsApp Business, memiliki akun Instagram usaha, membuat tautan Linktree, mendaftarkan lokasi di Google My Business, serta menyusun perencanaan konten bulanan. Langkah-langkah ini diharapkan menjadi pijakan awal dalam membangun branding yang lebih kuat dan terstruktur di ranah digital.

“Keberhasilan UMKM di era digital sangat ditentukan oleh kemampuan mereka beradaptasi, membangun cerita, dan menjalin interaksi yang konsisten dengan audiens. Branding bukan lagi sekadar identitas visual, melainkan pengalaman yang dirasakan oleh pelanggan di setiap titik interaksi digital,” pungkasnya.

