Artificial Intelligence (AI), dalam bahasa Indonesia disebut kecerdasan buatan atau akal imitasi, semakin hadir dalam keseharian kerja jurnalistik, mulai dari merapikan transkrip wawancara hingga membantu merancang proposal program. Namun di balik kemudahan itu, muncul paradoks yang menarik yaitu para pengguna mengandalkannya hampir setiap hari, tetapi tetap menolak menganggapnya lebih dari sekadar alat.
Dalam Forum Bincang dan Diskusi “Artificial Intelligence di Newsroom” yang digelar oleh Labtek Indie, Project Multatuli dan Bandung Bergerak pada Rabu (11/2/2026) di Byasa Dianti, Jalan Madura, Kota Bandung, Principal Consultant Labtek Indie, Amanda Paramita menyebut fenomena ini sebagai shadow reliance. Dalam riset yang ia lakukan bersama timnya, mayoritas responden menyebut AI hanya sebagai alat bantu. Namun frekuensi penggunaannya menunjukkan cerita yang berbeda.
“Ini bukan cerita tentang AI yang semakin pintar melainkan cerita tentang manusia yang makin terbiasa menyerahkan proses,” ungkap Mita.
Menurutnya, ada sejumlah paradoks yang muncul dari pola penggunaan tersebut. Pengguna AI menunjukkan hubungan yang sangat intim dengan teknologi ini yaitu dipakai untuk berpikir, menyusun draft, bahkan mengekspresikan keluh kesah. Namun tetap menjaga jarak emosional dengan menyebutnya sekadar alat.
Mita merangkum tiga paradoks utama dalam penggunaan AI. “Pertama, penggunaan sangat intim, tetapi pengakuan emosional rendah. Kedua, efisiensi tinggi, disertai kecemasan tinggi. Terakhir, ketergantungan besar, tetapi disertai penyangkalan kuat,” lanjut Mita.
Fenomena ini sering terlihat di sektor pendidikan maupun pekerjaan pengetahuan. Mahasiswa menggunakannya saat mentor tidak tersedia, guru mengandalkannya untuk mengatasi beban administratif, sementara pekerja memanfaatkannya untuk menyusun draft atau memetakan ide. Namun, bagi kebanyakan orang, AI tetap berada di “lingkar luar” kehidupan sosial. Ini berarti cukup dekat untuk diandalkan, tetapi terlalu mekanis untuk benar-benar dipercaya.
Menariknya, intensitas penggunaan AI tidak selalu berbanding lurus dengan kepercayaan. Mita menemukan bahwa pengguna berat justru lebih sering memverifikasi hasil AI dibandingkan pengguna sesekali. Pengguna yang akrab dengan AI memahami bahwa sistem ini bisa “berhalusinasi”, menghasilkan informasi yang tampak meyakinkan tetapi tidak akurat. Karena itu mereka cenderung melakukan pengecekan ulang dengan berbagai sumber, bahkan dengan mesin lain.
“Keakraban dengan AI justru melahirkan kewaspadaan, bukan kepatuhan,” ujarnya.
Ketegangan antara efisiensi dan kekhawatiran ini memunculkan disonansi kognitif. Responden yang sama yang takut menjadi “pemikir malas”, pada saat yang sama menyebut manfaat terbesar AI adalah cepat, instan, dan efisien.

Refleksi yang lebih praktis datang dari meja redaksi digitalMamaID, sebuah media online independen yang fokus pada topik seputar parenting, literasi dan gaya hidup digital untuk kelompok ibu. Editor in Chief digitalMamaID, Catur Ratna Wulandari bercerita jika redaksi digitalMamaID terdiri dari tim kecil, delapan ibu dan satu anggota laki-laki yang bekerja secara jarak jauh. Tanpa proses rekrutmen formal, sebagian anggota tim justru datang menawarkan diri untuk terlibat dalam produksi konten.
Dalam kondisi tim kecil dengan peran yang sering tumpang tindih, AI menjadi alat bantu penting untuk meringankan pekerjaan. AI digunakan dalam beberapa fungsi, diantaranya pada divisi administrative AI digunakan untuk menyusun surat menyurat, membantu pencatatan keuangan dan mengatur alur kerja. Pada divisi editorial, AI membantu mentranskrip wawancara, menerjemahkan materi dan menajamkan atau meringkas naskah. Sementara pada divisi program, AI digunakan untuk brainstorming ide kegiatan, menyusun proposal dan membantu terjemahan dokumen.
Namun Catur menegaskan bahwa AI bukanlah satu-satunya alat produksi. “Semakin baik kerja sama tim, AI justru semakin sedikit digunakan,” ujarnya.
Selain itu, keterbatasan anggaran juga menjadi faktor. Bagi redaksi kecil, biaya berlangganan berbagai layanan AI masih relatif mahal. Di sisi lain, persoalan etika dan representasi konten juga terus menjadi bahan diskusi di dalam tim.

Sementara itu Jurnalis Rio Tuasikal mengingatkan bahwa penggunaan AI dalam jurnalisme tetap memiliki batasan fundamental. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa sistem otomatis belum mampu menggantikan kemampuan dasar jurnalis.
Sebuah studi menyebut jurnalisme robot “tidak dapat menentukan kausalitas dan mengajukan pertanyaan.” Penelitian lain menemukan naskah yang dihasilkan AI belum sepenuhnya memenuhi prinsip keberimbangan dan tanggung jawab sosial.
Meski demikian, teknologi AI tetap memiliki peran penting dalam proses produksi berita, terutama dalam pekerjaan berbasis data. Beberapa fungsi yang kini mulai dimanfaatkan antara lain untuk meriset atau mencari informasi, membersihkan data, mengambil data dari gambar hingga menganalisis dan memvisualisasikan data. AI juga memungkinkan jurnalis mengunggah berbagai jenis data seperti Excel, PDF, dokumen teks, hingga gambar untuk dianalisis lebih lanjut.
Dalam serial liputan tentang dampak automasi di media, Rio merangkum pengalaman sejumlah pekerja media yang mengungkapkan sikap beragam terhadap AI. Contohnya kepala tim grafis iNews, Nino, mengatakan penggunaan teknologi tidak boleh menurunkan kualitas kerja redaksi. Dengan jumlah sumber daya manusia yang semakin minimalis, di sisi lain berusaha tidak mengurangi kualitas.
Sementara itu, reporter Tech in Asia, Gilang mengungkapkan kekhawatiran yang berbeda. Saat kita tidak menggunakan AI sama sekali, tapi AI terus berkembang. Sementara kita akan terlambat menyadarinya hingga terlambat untuk memposisikan diri.
Bagi sebagian jurnalis senior, AI juga tidak dapat menggantikan sifat dasar kerja jurnalistik. Managing Editor Jakarta Globe, Heru Andriyanto, menilai produk jurnalistik tidak dapat diproduksi seperti barang manufaktur.
Di luar ruang redaksi, perkembangan AI juga membawa konsekuensi baru bagi industri media. Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia, Heru Tjatur mengungkapkan bahwa aktivitas bot AI yang merayapi situs berita menambah beban infrastruktur digital media. Ia memperkirakan sekitar 20 hingga 30 persen biaya infrastruktur website media online habis hanya untuk melayani bot crawler tersebut.
Dari catatan liputan ini Rio menyampaikan pandangan sejumlah pengamat yang menekankan bahwa teknologi seharusnya tetap diposisikan sebagai alat, bukan pengganti jurnalis. Dosen Ilmu Komunikasi Monash University Indonesia, Dyah Pitaloka, menilai teknologi memang dapat membantu jurnalis mencapai target kerja. Namun hal itu tidak boleh mengikis aspek yang menjadi inti profesi jurnalistik. Teknologi membantu jurnalis mencapai target, tetapi tidak mengikis kepentingan mereka terhadap fakta dan kebenaran, serta kepedulian terhadap kelompok minoritas.
Pada akhirnya, perkembangan AI di ruang redaksi bukan sekadar soal teknologi yang semakin canggih. Ia juga mencerminkan bagaimana manusia bernegosiasi dengan alat yang mereka ciptakan, memanfaatkannya untuk efisiensi, sekaligus terus menjaga jarak agar proses berpikir tetap berada di tangan manusia.***

