Digitalisasi Jadi Kunci Bertahan: UMKM Maros Didorong Manfaatkan Teknologi untuk Tingkatkan Produktivitas Usaha

Newsroom

Digitalisasi Jadi Kunci Bertahan: UMKM Maros Didorong Manfaatkan Teknologi untuk Tingkatkan Produktivitas Usaha

Setelah sebelumnya digelar di Sumba, Nusa Tenggara Timur, Common Room Networks Foundation kembali menyelenggarakan pelatihan bertajuk “Literasi Digital Lanjutan untuk Meningkatkan Produktivitas Usaha Berbasis Internet” sebagai bagian dari penguatan Program Sekolah Internet Komunitas (SIK). Kegiatan ini berlangsung di Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAP3), Maros, Sulawesi Selatan pada Selasa (3/2/2026).


Pelatihan ini bertujuan meningkatkan keterampilan teknis serta literasi digital para pelaku UMKM lokal agar mampu memanfaatkan internet secara aman, produktif, dan bermakna untuk mendukung produktivitas usaha dan inklusi ekonomi di wilayah pedesaan dan terpencil. Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Kepala BRPBAP3, Indra Jaya Asaad, yang menekankan pentingnya penguasaan teknologi digital bagi pelaku usaha agar mampu bersaing di era ekonomi digital.

Sesi pelatihan dipandu oleh Koordinator Program Common Room, Andriani Kesa Alivia, bersama Staf Lapangan Common Room, Kiky Andhika. Dalam sesi ini, peserta mendapatkan materi dari konsultan UMKM Aziz Setyawijaya yang membawakan topik “Pentingnya Digitalisasi Usaha UMKM Maros.”

Dalam pemaparannya, Aziz menjelaskan bahwa digitalisasi merupakan langkah penting bagi UMKM untuk dapat bertahan dan berkembang di tengah persaingan pasar yang semakin terbuka. Menurutnya, pemanfaatan teknologi digital oleh pelaku UMKM di Sulawesi Selatan masih belum optimal.


“Digitalisasi bukan lagi pilihan, tetapi syarat bertahan bagi UMKM di era sekarang. Tanpa digitalisasi, pelaku usaha akan sulit memperluas pasar, mengakses pembiayaan, bahkan bersaing dengan produk dari daerah lain,” jelas Aziz dalam sesi pelatihan.

Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa dari sekitar 1,2 juta pelaku UMKM di Sulawesi Selatan, hanya sekitar 10 persen atau sekitar 120.000 pelaku usaha yang benar-benar serius memanfaatkan teknologi digital secara utuh. Sebagian besar UMKM masih menggunakan media sosial sebatas untuk promosi produk, tanpa memanfaatkan sistem digital lainnya seperti pencatatan keuangan, manajemen stok, hingga integrasi pembayaran dan logistik digital.

Aziz juga menyoroti salah satu kendala utama yang sering dihadapi UMKM tradisional, yaitu sulitnya mendapatkan akses pembiayaan dari lembaga keuangan. Hal ini terjadi karena banyak pelaku usaha yang belum memiliki pencatatan keuangan yang rapi dan transparan.


“Bank biasanya membutuhkan laporan keuangan yang jelas sebelum memberikan kredit. Jika usaha hanya dicatat di ingatan atau di buku catatan sederhana, maka usaha tersebut akan sulit terlihat oleh lembaga keuangan,” ungkap Aziz.

Menurutnya, digitalisasi pencatatan keuangan menjadi salah satu langkah penting agar UMKM dapat meningkatkan kredibilitas usaha sekaligus membuka peluang mendapatkan investasi atau pembiayaan dari perbankan.

Aziz menggambarkan dua skenario yang mungkin terjadi pada UMKM yaitu tetap menjalankan usaha secara manual atau bertransformasi secara digital.

UMKM yang masih menjalankan bisnis secara manual berpotensi mengalami stagnasi omzet karena hanya menjangkau pasar lokal, tidak memiliki catatan keuangan yang memadai, serta berisiko kehilangan pelanggan karena kalah bersaing dengan pelaku usaha yang sudah memanfaatkan marketplace.

Sebaliknya, UMKM yang melakukan digitalisasi memiliki peluang meningkatkan omzet hingga tiga sampai lima kali lipat karena dapat menjangkau pasar yang lebih luas, bahkan hingga tingkat nasional dan internasional. Selain itu, usaha yang terdigitalisasi juga dinilai lebih stabil dan tahan terhadap krisis karena tidak bergantung pada pasar lokal semata.


Pada sesi praktik, peserta diajak melakukan diskusi kelompok untuk menganalisis produk UMKM yang mereka miliki. Analisis tersebut mencakup berbagai aspek penting dalam pengembangan bisnis, mulai dari target pelanggan, permasalahan pelanggan, solusi yang ditawarkan produk, hingga strategi pemasaran dan kanal penjualan.

Melalui latihan ini, peserta diharapkan dapat memahami lebih dalam bagaimana memetakan potensi usaha mereka sekaligus menemukan strategi yang tepat untuk mengembangkan bisnis secara digital.


Aziz menegaskan bahwa potensi produk lokal Maros sebenarnya cukup besar, namun masih perlu didorong dengan strategi inovasi dan digitalisasi yang lebih kuat.

“Produk-produk lokal sebenarnya punya peluang besar di pasar digital. Tantangannya adalah bagaimana pelaku usaha mampu membangun sistem usaha yang lebih tertib, mulai dari pencatatan, pemasaran, hingga distribusi,” pungkasnya.***

Share Article

Berita Terbaru

Newsroom

Berita dan pembaharuan terbaru
langsung dari Common Room.

Digitalisasi Jadi Kunci Bertahan: UMKM Maros Didorong Manfaatkan Teknologi untuk Tingkatkan Produktivitas Usaha
This website uses cookies to improve your experience. By using this website you agree to our Privacy Policy.
Read more