Konsultan UMKM, Aziz Setyawijaya membuka sesi pertama pelatihan “Literasi Digital Lanjutan untuk Meningkatkan Produktivitas Usaha Berbasis Internet” dalam rangka Penguatan Program Sekolah Internet Komunitas (SIK) di Gedung Balai Latihan Kerja (BLK) Don Bosco, Tambolaka, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, Selasa (27/1/2026). Dalam sesi bertajuk Digitalisasi Usaha dan Dasar Digitalisasi Keuangan, Aziz menegaskan bahwa digitalisasi bukan lagi pilihan, melainkan syarat bertahan hidup bagi UMKM di era ekonomi digital.
Mengawali materinya, Aziz memaparkan fakta bahwa sekitar 80 persen UMKM di Sumba masih menjalankan usaha secara manual, sementara tingkat literasi digital nasional telah mencapai rata-rata 30–40 persen. Artinya, UMKM di Sumba tertinggal dua hingga tiga tahun dibandingkan kompetitor di daerah lain.
“Kalau kita tetap manual, pasar lokal maupun nasional akan diambil alih oleh pelaku usaha dari daerah lain yang sudah lebih dulu digital. Digitalisasi bukan pilihan, tapi syarat survival,” tegas Aziz di hadapan para peserta.

Ia menggambarkan dua skenario yang bisa terjadi dalam 12 bulan ke depan. Pada skenario pertama, UMKM yang tetap manual berisiko mengalami stagnasi omzet, tidak memiliki pencatatan keuangan yang layak sehingga sulit mengakses kredit bank, dan kehilangan pelanggan di marketplace karena kalah cepat dari kompetitor luar daerah. Sebaliknya, pada skenario kedua, UMKM yang terdigitalisasi berpeluang meningkatkan omzet hingga tiga sampai lima kali lipat, memperluas pasar hingga nasional bahkan internasional, serta memiliki ketahanan usaha yang lebih kuat saat terjadi krisis.
Menurut Aziz, salah satu hambatan terbesar UMKM untuk berkembang bukan hanya pemasaran, tetapi juga lemahnya tata kelola keuangan. Banyak pelaku usaha masih mencampur kas pribadi dan kas usaha, serta mengandalkan ingatan atau catatan sederhana yang tidak sistematis.
“Bank atau investor tidak bisa menilai usaha yang tidak punya laporan keuangan. Kalau keuangan hanya dicatat di kepala atau di buku corat-coret, usaha itu ‘tidak terlihat’ di mata lembaga keuangan. Di sinilah pentingnya pembukuan digital,” jelasnya.
Dalam sesi kedua, Aziz memperkenalkan dasar-dasar pengelolaan keuangan usaha berbasis digital yang dirancang praktis dan mudah dipahami, bahkan bagi pelaku UMKM tanpa latar belakang teknologi informasi. Materi mencakup pemisahan kas pribadi dan kas usaha, pengenalan komponen laporan keuangan dasar seperti buku kas, laporan laba rugi, dan pencatatan aset, hingga pemahaman konsep Harga Pokok Produksi (HPP).

Peserta diajak melakukan latihan langsung, mulai dari membedakan jenis transaksi (uang masuk dan uang keluar), menyusun buku kas harian dengan format tanggal – deskripsi – uang masuk – uang keluar – saldo, hingga membuat rekap bulanan dan menghitung laba rugi sederhana. Melalui studi kasus usaha kecil, peserta belajar menganalisis apakah usaha mereka benar-benar menghasilkan keuntungan, biaya mana yang paling besar, dan bagaimana strategi mengendalikan pengeluaran.
“Kalau pelaku UMKM paham angka usahanya sendiri, dia bisa ambil keputusan yang tepat: apakah harga perlu dinaikkan, biaya harus ditekan, atau produksi perlu ditambah. Usaha yang sehat itu bukan hanya ramai pembeli, tapi juga jelas hitungan labanya,” ujar Aziz.
Ia menekankan bahwa tujuan akhir dari digitalisasi dan pembukuan bukan sekadar rapi administrasi, melainkan membentuk UMKM yang profitabel, akuntabel, dan bankable. Dengan pencatatan yang disiplin dan berbasis data, pelaku usaha memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan akses pembiayaan, investasi, serta memperluas skala usaha.

Pelatihan ini tidak hanya mengasah keterampilan teknis, tetapi juga membangun kebiasaan akuntabilitas dan disiplin mencatat setiap transaksi. Melalui pendekatan interaktif dan praktik langsung, para peserta didorong untuk menjadikan internet dan alat digital sebagai mitra strategis dalam meningkatkan produktivitas usaha.
Melalui sesi ini, program Sekolah Internet Komunitas (SIK) kembali menegaskan komitmennya dalam mendorong inklusi ekonomi di wilayah pedesaan dan terpencil. Digitalisasi usaha dan pengelolaan keuangan berbasis digital diharapkan menjadi fondasi bagi UMKM Sumba untuk naik kelas, memperluas pasar, dan membangun ketahanan ekonomi komunitas secara berkelanjutan.***

