Dari Tukang Solder ke Inovator Pertanian Kota: Inovasi Toni Prabowo Menyulam Teknologi dan Tanah

Newsroom

Dari Tukang Solder ke Inovator Pertanian Kota: Inovasi Toni Prabowo Menyulam Teknologi dan Tanah

Di sebuah sudut kota yang sibuk, di antara deretan rumah dan jalanan yang bising, ada suara lembut air mengalir dari sistem penyiraman otomatis. Suara itu mungkin tidak terdengar istimewa, tetapi di baliknya tersimpan kisah transformasi yang luar biasa—kisah Toni Prabowo, seorang mantan tukang solder yang kini menekuni pertanian digital di kawasan Manglayang, Kabupaten Bandung.

Toni bukan datang dari laboratorium canggih atau menara gading teknologi. Ia memulai dari bawah, menyolder papan sirkuit untuk proyek-proyek kampus demi mencukupi hidup. Lulusan SMK ini kemudian menempuh pendidikan tinggi Teknik Informatika dan Sistem Informasi Unikom, tapi ia dengan jujur mengakui bahwa pelajaran sesungguhnya datang dari proyek-proyek lapangan. Dari dunia freelance yang penuh tantangan, ia melangkah ke Telkom sebagai tenaga ahli outsourcing, sebelum akhirnya memilih jalan mandiri—mendirikan Pentarium di tahun 2020.


Awalnya, Pentarium hadir sebagai penyedia solusi Internet of Things (IoT) untuk industri. Salah satu proyek perdananya di Lippo Karawaci menghadirkan sensor ketinggian air otomatis untuk mencegah banjir—menggantikan metode manual yang sebelumnya dijalankan oleh satpam setiap dua jam. Teknologi LoRa-based yang digunakan bukan hanya efisien, tapi juga menjadi batu loncatan bagi kepercayaan lebih besar dari dunia industri.

Namun Toni tidak berhenti di situ. Ia mulai membayangkan teknologi yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari—yang bisa dipakai oleh ibu rumah tangga, warga kawasan padat penduduk, bahkan petani di lereng pegunungan. Maka lahirlah Pakebun di tahun 2023, sebuah lini turunan dari Pentarium yang secara khusus menangani teknologi pertanian, terutama untuk lingkungan urban.

“Tujuannya sederhana,” kata Toni, “Kami ingin menjadikan bertani lebih mudah diakses oleh siapa saja.” Pakebun menawarkan sistem irigasi tetes, selang drip tape, sensor kelembapan, hingga kontrol suhu dan CCTV—semua bisa dikendalikan dari ponsel. Tapi bagi Toni, menjual alat bukanlah akhir dari cerita. Ia lebih tertarik membangun pemahaman.


Alih-alih langsung menawarkan kecanggihan, Pakebun mengedukasi secara bertahap. Mulai dari cara menyiram manual, lalu naik ke timer, hingga ke sistem otomatis berbasis sensor. Pendekatan ini tidak hanya mencerdaskan pengguna, tapi juga memperkenalkan pentingnya efisiensi air dan kesehatan tanaman. “Tanah yang basah terus bisa bikin akar busuk. Sensor memastikan air baru mengalir kalau tanah benar-benar kering,” jelas Toni.

Proyek-proyek percontohan pun mulai dijalankan. Salah satunya adalah kebun di lingkungan perumahan lengkap dengan greenhouse dan sistem penyiraman otomatis. Di Sumedang, Pakebun menggandeng siswa SMK untuk memasang sistem drip tape, membuktikan bahwa teknologi bisa bersinergi dengan pendidikan vokasi.


Namun seperti inovator lainnya, Tony menghadapi tantangan. Salah satunya adalah rendahnya literasi pemasangan alat. Banyak pengguna yang membeli drip tape tapi bingung saat hendak menggunakannya. Maka Pakebun tak hanya menjual, tapi juga menyediakan video tutorial, paket instalasi, dan dukungan langsung. Semua dilakukan dengan semangat berbagi pengetahuan.

Ironisnya, meski teknologinya sudah matang, Pakebun masih kesulitan dalam pemasaran. “Minusnya di Pakebun tuh nggak ada sales,” ujar Toni, sambil tertawa kecil. Sebagian besar penjualan masih datang dari rekomendasi mulut ke mulut atau toko online. Tapi ia tidak putus asa. Hobi riset dan semangat berkebunnya tetap membara, keinginannya terkini adalah merakit robot pertanian untuk membantu pekerjaan lapangan.

Dalam setiap pernyataannya, terlihat jelas bahwa Toni tidak sekadar menjual alat, ia sedang membangun masa depan pertanian yang lebih cerdas dan inklusif. Ia paham bahwa teknologi bukan pengganti petani, melainkan perpanjangan tangan mereka. “Bapak nanti tetap kerja, tapi bukan nyiram lagi. Bisa ngegemburin tanah atau metikin daun kering,” ujarnya suatu ketika kepada petani yang khawatir usai melontarkan pertanyaan, “Nanti kita kerja apa?”.


Kini, dengan visi dan ketekunan yang terus menyala, Toni berharap bisa membentuk tim pemasaran yang kuat dan membawa teknologi pertanian digital ke lebih banyak orang. Tidak hanya ke industri besar, tapi ke balkon-balkon kecil, pekarangan rumah, dan lahan-lahan desa yang selama ini jauh dari sentuhan inovasi. Dari solder ke sensor, dari kabel ke kebun, Toni Prabowo telah membuktikan bahwa inovasi sejati tumbuh dari akar yang kuat dan hati yang tak pernah lelah menanam harapan.***

Share Article

Berita Terbaru

Newsroom

Berita dan pembaharuan terbaru
langsung dari Common Room.

Dari Tukang Solder ke Inovator Pertanian Kota: Inovasi Toni Prabowo Menyulam Teknologi dan Tanah
This website uses cookies to improve your experience. By using this website you agree to our Privacy Policy.
Read more