Dari Tata Kelola hingga Target Market: Penguatan Fondasi Ekonomi dan Manajemen Komunitas di Hari Kedua ToT SIK Angkatan ke-4

Newsroom

Dari Tata Kelola hingga Target Market: Penguatan Fondasi Ekonomi dan Manajemen Komunitas di Hari Kedua ToT SIK Angkatan ke-4

“Banyak komunitas runtuh bukan karena kekurangan semangat, tetapi karena tidak punya sistem.” Pernyataan ini membuka sesi Kelas B bersama Editor in Chief digitalMama, Catur Ratna Wulandari dalam hari kedua Training of Trainers (ToT) Sekolah Internet Komunitas Angkatan ke-4 di Gedung Citraweb Solusi Teknologi Training Center, Yogyakarta, Selasa (13/1/2026). Sejak awal, peserta diajak memahami bahwa keberlanjutan komunitas ditentukan oleh tata kelola keuangan yang sehat, manajemen organisasi yang jelas, dan strategi ekonomi yang realistis.


Melalui pendekatan reflektif dan aplikatif, peserta diajak melihat bahwa keuangan, manajemen organisasi, dan usaha komunitas merupakan satu kesatuan sistem yang saling terkait. Ketiganya menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan komunitas dalam jangka panjang dalam tajuk materi “Penguatan Tata Kelola Keuangan, Manajemen Organisasi Komunitas, dan Penguatan Ekonomi Komunitas”.

“Banyak komunitas memiliki semangat besar, tetapi tidak semuanya bertahan karena belum membangun sistem. Padahal sistem dibutuhkan untuk menjaga semangat itu tetap hidup,” ujar Catur Ratna Wulandari saat membuka sesi.

Materi Kelas B dibagi ke dalam empat fokus utama, yakni pengelolaan keuangan praktis komunitas, manajemen organisasi esensial, penyusunan dan penerapan SOP keuangan, serta penguatan ekonomi komunitas sebagai strategi keberlanjutan organisasi.

Mengelola Keuangan Praktis: Fondasi Kepercayaan Organisasi

Sesi pertama menekankan bahwa pengelolaan keuangan organisasi berakar dari kebiasaan individu dan keluarga. Lima landasan utama pengelolaan keuangan komunitas yaitu kesadaran, perencanaan, pencatatan, transparansi, dan evaluasi ditekankan sebagai prasyarat organisasi yang sehat.


“Organisasi yang kuat bukan yang dananya besar, tetapi yang mampu mengelola sumber daya terbatas secara sadar dan bertanggung jawab,” tegas Catur.

Pencatatan keuangan diposisikan sebagai kewajiban mutlak, sementara transparansi dipandang sebagai kunci menjaga kepercayaan anggota. Dalam diskusi, fasilitator juga membedakan antara kebutuhan dan keinginan organisasi, serta menegaskan pentingnya kesepakatan prioritas bersama.

Manajemen Organisasi Esensial: Sistem untuk Menjaga Kerja Kolektif

Sesi kedua membahas manajemen organisasi sebagai sistem kerja, bukan sekadar ruang berkumpul. Struktur minimal organisasi terdapat ketua, sekretaris, dan bendahara yang dipandang tidak boleh dihilangkan meskipun dirangkap.

 “Tanpa pembagian peran yang jelas, organisasi akan cepat lelah karena beban hanya ditanggung oleh segelintir orang,” jelas Catur.

Administrasi, rapat dengan agenda dan catatan keputusan, serta dokumentasi kelembagaan diperkenalkan sebagai “ingatan organisasi” yang memastikan keberlanjutan meskipun terjadi pergantian pengurus.

SOP Keuangan: Sistem Bersama untuk Uang Bersama

Pada sesi berikutnya, Catur Ratna menekankan pentingnya penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) keuangan sebagai acuan kerja bersama.

 “Banyak konflik organisasi bukan karena niat buruk, tetapi karena tidak ada aturan tertulis yang disepakati bersama,” ungkapnya.


SOP keuangan diposisikan sebagai alat perlindungan organisasi dan pengurus, dengan prinsip pemisahan peran antara pencatat, pemberi persetujuan, dan pengawas. SOP juga dinilai sebagai prasyarat penting dalam kerja-kerja pendanaan dan pengembangan usaha komunitas.

Penguatan Ekonomi Komunitas dan Penentuan Target Market Usaha

Sesi terakhir difokuskan pada penguatan ekonomi komunitas sebagai strategi keberlanjutan organisasi. Fasilitator menekankan bahwa produk dan jasa berbasis komunitas memiliki nilai lebih karena dekat dengan konsumen, transparan, dan berdampak langsung bagi ekonomi lokal.

 “Usaha komunitas harus dihitung dengan sadar. Perhitungan usaha adalah bentuk penghargaan terhadap kerja sendiri,” tegas Catur.

Peserta kemudian diajak menentukan target market secara lebih spesifik, tidak hanya berdasarkan demografi, tetapi juga perilaku, kebutuhan, serta konteks sosial dan budaya. Hasil presentasi peserta menunjukkan keragaman konteks usaha komunitas di berbagai wilayah, sejumlah peserta diajak untuk menyajikannya melalui gambar sederhana.


Syakirah Syahrir dari SIK Maros yang merupakan pendamping pelaku usaha kuliner abon ikan, menjelaskan bahwa target pasarnya berkembang seiring waktu. “Awalnya abon ikan kami menyasar ibu rumah tangga dan ibu pekerja yang butuh solusi praktis untuk bekal sehari-hari. Tapi setahun terakhir, kami mulai memasok dapur SPPG Program Makan Bergizi Gratis, terutama saat libur sekolah ketika mereka membutuhkan pangan kering. Dari situ kami melihat peluang baru untuk usaha dan kolaborasi dengan layanan publik,” ungkapnya.


Sementara itu, Dina Erawati Kumala dari SIK Lombok Utara menegaskan bahwa segmentasi pasar produknya sengaja diarahkan pada kelompok tertentu dengan nilai budaya yang kuat. “Target pasar kami perempuan dengan pendidikan S1 ke atas, terutama dari kalangan pejabat dinas. Produk utama kami kain tenun Lombok, dijual mulai Rp350.000. Dalam praktiknya, pembeli sering memberi harga lebih tinggi karena tenun dianggap lebih bernilai dan dipakai untuk acara adat maupun kegiatan resmi,” jelasnya.


Perwakilan SIK Ngata Toro, Nuranisa Arifin membagikan pengalamannya melihat peluang pasar di lingkungannya sendiri. “Saya menjual baju, daster, tas, dan sepatu dengan target ibu-ibu di wilayah kami. Di sini penjual pakaian masih sedikit, jadi peluangnya cukup besar dan hasilnya lumayan membantu ekonomi keluarga,” paparnya.


Lain lagi dengan Alcide Saleilei dari SIK Mentawai yang menyampaikan bahwa karakter produk menentukan segmentasi pasar usahanya. “Komoditas utama saya kepiting ukuran besar, harganya cukup mahal. Karena itu target market kami pejabat atau tamu resmi yang datang ke Mentawai dan punya daya beli yang sesuai,” jelasnya.


Adapun  Apri dari SIK Ciptagelar menjelaskan bahwa keterbatasan akses wilayah menjadi pertimbangan utama dalam menentukan pasar. “Di Ciptagelar, potensi budidaya domba sangat besar, tapi aksesnya jauh. Karena itu target pasar kami adalah pengepul domba dari berbagai daerah. Ini strategi paling realistis agar hasil ternak tetap bisa dipasarkan secara berkelanjutan,” ungkapnya.

Menanggapi presentasi peserta, Catur Ratna Wulandari menegaskan bahwa kejelasan target market merupakan fondasi penting dalam usaha komunitas.

 “Semakin jelas siapa yang ingin kita layani, semakin besar peluang usaha itu bertahan. Usaha komunitas tidak harus besar, tapi harus relevan dengan kebutuhan pasar dan kapasitas komunitasnya.”

Sebagai penguatan, Catur memperkenalkan “business model canvas” sebagai alat bantu untuk memetakan usaha komunitas secara menyeluruh, mulai dari mitra kunci, aktivitas utama, nilai yang ditawarkan, hingga strategi pemasaran luring dan daring yang sesuai dengan kapasitas organisasi.


Secara keseluruhan, hari kedua ToT SIK Angkatan ke-4 menegaskan bahwa keberlanjutan komunitas bertumpu pada dua pilar utama, yaitu tata kelola keuangan yang kuat dan strategi ekonomi komunitas yang realistis serta terencana. SOP keuangan menjadi fondasi organisasi, sementara penguatan ekonomi komunitas menjadi jalan jangka panjang agar komunitas tetap hidup, relevan, dan berdampak bagi lingkungan sekitarnya.***

Share Article

Berita Terbaru

Newsroom

Berita dan pembaharuan terbaru
langsung dari Common Room.

Dari Tata Kelola hingga Target Market: Penguatan Fondasi Ekonomi dan Manajemen Komunitas di Hari Kedua ToT SIK Angkatan ke-4
This website uses cookies to improve your experience. By using this website you agree to our Privacy Policy.
Read more