Dari Sensor hingga Radio Desa: Inovasi Lokal Hadapi Krisis Iklim

Newsroom

Dari Sensor hingga Radio Desa: Inovasi Lokal Hadapi Krisis Iklim

Di sesi kedua Community Gathering “Pemanfaatan Teknologi untuk Ketahanan Iklim” yang digelar di Malaka Hotel, Jalan Halimun, Malabar, Kota Bandung pada Selasa (31/3/2026), Direktur Common Room Networks Foundation, Gustaff H. Iskandar memandu diskusi yang menghadirkan Project Management Officer Insan Infonesia, Rois Solihin, Chief Executive Officer Pakebun, Toni Prabowo dan Kordinator Teknis Jarindes Gelaralam, Willdan Hidayatullah. Secara bergantian ketiganya menyampaikan materi mengenai pemanfaatan teknologi seperti stasiun cuaca, sensor IoT serta sistem pengelolaan data bersama di bidang lingkungan, pertanian bahkan mitigasi bencana.


“Upaya membangun ketahanan iklim tidak lagi hanya mengandalkan kebijakan dari atas. Di tengah kompleksitas krisis lingkungan yang kian nyata, pendekatan berbasis komunitas justru menjadi kunci penting untuk menciptakan solusi yang berkelanjutan,” ujar Gustaff saat membuka sesi diskusi ini.

Co_LABS: Ruang Kolaborasi dan Eksperimen
Presentasi pertama diawali oleh Project Management Officer Insan Infonesia, Rois Solihin yang menyoroti bagaimana perubahan iklim telah menjadi realitas yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat, khususnya di wilayah pesisir dan pedesaan. Namun, menurutnya, tantangan terbesar bukan hanya soal dampak lingkungan, melainkan bagaimana membuat isu ini terasa dekat dan relevan.

“Perubahan iklim itu nyata, tapi sering terasa jauh bagi masyarakat. Padahal dampaknya sudah mereka rasakan sehari-hari hanya saja belum selalu disadari sebagai bagian dari krisis iklim,” ujarnya.


Ia menekankan bahwa pendekatan komunikasi menjadi krusial, terutama untuk menjembatani isu global dengan pengalaman lokal. “Kalau kita bicara perubahan iklim tanpa mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari seperti cuaca yang memengaruhi hasil tangkapan atau panen maka isu ini akan sulit dipahami dan direspons,” tambah Rois.

Dari kebutuhan itulah lahir Co_LABS (Community-based Innovation Lab for Climate Resilience), sebuah inisiatif kolaboratif yang menggabungkan pengetahuan lokal dengan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT). Program ini dirancang sebagai ruang belajar bersama, tempat masyarakat tidak hanya memahami perubahan iklim, tetapi juga ikut merancang solusi.

Menurut Rois, pendekatan ini menjadi pembeda utama dibanding proyek berbasis teknologi pada umumnya. “Kami tidak datang membawa solusi jadi. Kami datang membawa proses di mana masyarakat ikut mendefinisikan masalah dan merancang solusinya,” paparnya.

Program ini dijalankan di berbagai wilayah, termasuk Maros Sulawesi Selatan, dan Pulo Aceh dengan pendekatan partisipatif yang menempatkan masyarakat sebagai aktor utama. Perjalanan Co_LABS dimulai dari riset lapangan dan pemetaan pemangku kepentingan. Tim berinteraksi langsung dengan komunitas untuk memahami konteks sosial dan lingkungan secara menyeluruh. Data yang dikumpulkan kemudian menjadi dasar pengembangan teknologi. Namun, Rois mengingatkan bahwa teknologi tidak boleh berdiri sendiri.

“AI dan IoT itu hanya alat. Nilainya ada pada sejauh mana dia relevan dan bisa digunakan oleh masyarakat di lapangan. Kalau datanya tidak berasal dari realitas lokal, maka teknologi yang kita bangun berisiko tidak tepat guna,” lanjut Rois.

Salah satu hasil konkret dari program ini adalah pengembangan perangkat pemantauan lingkungan berbasis sensor, seperti Sentinel di Maros serta Solitude di Pulo Aceh. Perangkat ini digunakan untuk mengumpulkan data mikroiklim dan kualitas air secara real time. Data tersebut kemudian diolah menjadi informasi yang lebih mudah dipahami, termasuk prediksi cuaca harian melalui dashboard digital. Namun, Rois menegaskan bahwa teknologi ini masih dalam tahap pengembangan dan pembelajaran.

Dalam implementasinya, Co_LABS menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan kapasitas sumber daya manusia hingga kendala teknis di lapangan. “Salah satu tantangan terbesar kami adalah memastikan transfer pengetahuan berjalan. Karena tidak semua orang di lapangan punya latar belakang teknologi,” ujar Rois.

Selain itu, faktor lingkungan juga menjadi tantangan serius. “Perangkat yang kami bangun harus berhadapan langsung dengan kondisi ekstrem seperti hujan, badai, bahkan gangguan dari hewan. Perangkat Sentinel di Maros pernah menjadi sarang kepiting tambak. Ini membuat kami harus terus beradaptasi,” paparnya.

Meski menghadapi berbagai kendala, Co_LABS terus berkembang. Data yang telah dikumpulkan tetap diolah untuk pengembangan sistem yang lebih baik, termasuk dashboard versi terbaru. Bagi Rois, keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari teknologi yang dihasilkan, tetapi dari proses kolaborasi yang terbangun.

“Ketahanan iklim tidak bisa dibangun sendiri. Harus ada kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, akademisi, dan sektor lainnya,” pungkas Rois.

Pakebun: Membawa Smart Farming Lebih Dekat ke Petani
Pemanfaatan teknologi dalam menghadapi krisis iklim tidak hanya berbicara pada level global, tetapi juga bagaimana inovasi hadir secara konkret di tingkat petani. Hal ini menjadi benang merah dalam pemaparan Chief Executive Officer Pakebun, Toni Prabowo yang memperkenalkan Pakebun sebagai startup agritech dengan fokus pengembangan solusi berbasis Internet of Things (IoT) untuk sektor pertanian. Berdiri sejak 2022, Pakebun hadir dengan misi menyederhanakan teknologi agar bisa digunakan langsung oleh petani, baik dalam skala kecil maupun besar.


“Kami melihat pertanian hari ini tidak bisa lagi hanya mengandalkan intuisi. Perubahan iklim membuat pola tanam semakin sulit diprediksi, sehingga petani membutuhkan data untuk mengambil keputusan,” ujar Toni.

Menurut Toni, perubahan iklim berdampak langsung pada produktivitas pertanian mulai dari ketidakpastian cuaca hingga perubahan kualitas tanah. Dalam konteks ini, teknologi menjadi alat penting untuk membantu petani beradaptasi. Pakebun mengembangkan ekosistem smart farming yang terintegrasi, menggabungkan perangkat sensor, sistem otomatisasi, hingga aplikasi berbasis data. Sistem ini dirancang untuk memantau kondisi lingkungan secara real time dan meresponsnya secara otomatis.

“Tujuan kami bukan menggantikan petani, tetapi memperkuat kapasitas mereka dengan data dan sistem yang lebih presisi,” jelas Toni.

Dalam paparannya, Toni menjelaskan beberapa teknologi utama yang dikembangkan Pakebun, di antaranya adalah PlantGrow sebagai pusat kendali sistem yang mengolah data sensor dan mengatur penyiraman serta nutrisi tanaman, PlantHara sebagai sensor untuk membaca kondisi tanah seperti kelembaban, pH, suhu, hingga kandungan unsur hara, PlantClimate untuk memantau kondisi udara seperti suhu, kelembaban, tekanan, dan intensitas cahaya, PlantQua yang mengukur kualitas air termasuk EC/TDS dan ketinggian air dan PlantPower sebagai sistem pengatur distribusi daya listrik untuk seluruh perangkat

Semua perangkat ini saling terhubung dalam satu sistem yang memungkinkan pemantauan dan pengendalian dilakukan melalui aplikasi. “Dengan sistem ini, petani bisa tahu kapan harus menyiram, berapa nutrisi yang dibutuhkan, bahkan sebelum tanaman menunjukkan gejala stres,” lanjutnya.

Salah satu konsep yang ditekankan dalam presentasi adalah “close loop system” dalam pertanian terintegrasi. Artinya, setiap proses dalam sistem pertanian saling terhubung dan memanfaatkan kembali sumber daya yang ada secara efisien. Konsep ini diterapkan dalam desain greenhouse dan sistem pertanian terpadu yang dikembangkan Pakebun. “Kami mendorong pertanian yang tidak hanya produktif, tetapi juga efisien dan berkelanjutan. Setiap input harus terukur, setiap output harus bisa dimanfaatkan kembali,” ujar Toni.

Meski menawarkan berbagai keunggulan, Toni mengakui bahwa adopsi teknologi di sektor pertanian masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah kesiapan pengguna. “Teknologi secanggih apa pun tidak akan berdampak kalau tidak digunakan. Tantangan kami adalah membuat sistem ini mudah dipahami dan diakses oleh petani,” jelasnya.

Selain itu, faktor biaya dan infrastruktur juga menjadi pertimbangan penting, terutama untuk petani di daerah. Namun demikian, Toni optimistis bahwa tren digitalisasi pertanian akan terus berkembang, seiring meningkatnya kebutuhan akan efisiensi dan ketahanan terhadap perubahan iklim. Toni menegaskan bahwa masa depan pertanian akan sangat ditentukan oleh kemampuan mengelola data.

“Pertanian ke depan adalah tentang data bagaimana kita mengumpulkan, membaca, dan menggunakannya untuk membuat keputusan yang lebih baik,” ujarnya.

Melalui Pakebun, ia berharap teknologi tidak lagi menjadi sesuatu yang jauh dari petani, melainkan menjadi bagian dari praktik sehari-hari. Di tengah ancaman krisis iklim, pendekatan ini menawarkan harapan baru pertanian yang lebih adaptif, presisi, dan berkelanjutan di mana teknologi dan kearifan lokal berjalan beriringan.

Jarindes: Sistem Teknologi Komunikasi dari Komunitas Adat
Di tengah derasnya arus digitalisasi, tidak semua solusi teknologi harus bergantung pada sistem yang kompleks dan berbasis internet. Bagi masyarakat adat, kecepatan, ketahanan dan keterjangkauan justru menjadi kunci utama. Perspektif ini muncul dari paparan Koordinator Teknis Jarindes Gelaralam, Willdan Hidayatullah yang memperkenalkan JARINDES (Jaringan Informasi Desa) sebagai sistem komunikasi berbasis komunitas yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan informasi cepat dan andal bagi masyarakat adat Kasepuhan Gelar Alam.


“Kami butuh informasi yang cepat dan valid, terutama dalam situasi darurat. Tapi kami juga tidak bisa selalu bergantung pada internet,” ujar Willdan saat membuka sesi materinya.

Jarindes lahir dari kesadaran bahwa infrastruktur digital tidak selalu stabil di wilayah pedesaan dan adat. Oleh karena itu, sistem ini menggabungkan teknologi digital dan analog, menciptakan jalur komunikasi yang tetap berfungsi bahkan ketika jaringan internet terputus. “Teknologi harus menyesuaikan dengan kondisi wilayah. Di tempat kami, sistem yang tangguh justru yang sederhana dan bisa berdiri sendiri,” tambahnya.

Sistem Jarindes terdiri dari berbagai komponen seperti tower komunikasi, radio repeater, decoder broadcast, hingga perangkat operator yang terhubung dengan dashboard pusat. Informasi disebarkan melalui jaringan radio ke berbagai titik desa, memungkinkan komunikasi tetap berjalan dalam kondisi terbatas. Salah satu kekuatan utama Jarindes adalah desainnya yang berbasis komunitas. Sistem ini tidak hanya dibangun untuk masyarakat, tetapi juga oleh masyarakat itu sendiri. Operator Jarindes tersebar di berbagai tingkat mulai dari operator induk hingga perangkat desa seperti RT dan RW yang berperan dalam menyampaikan informasi secara cepat ke warga. Selain itu, penggunaan tenaga surya sebagai sumber daya menunjukkan upaya untuk menciptakan sistem yang mandiri dan berkelanjutan.

“Kami membangun sistem ini agar bisa dirawat sendiri oleh masyarakat. Jadi ketika ada masalah, tidak harus menunggu teknisi dari luar,” ungkap Willdan.

Dalam konteks ketahanan iklim, Jarindes memainkan peran penting sebagai sistem peringatan dini dan penyebaran informasi kebencanaan. Informasi mengenai cuaca ekstrem, potensi bencana, hingga kondisi darurat dapat disampaikan secara cepat ke masyarakat. “Saat bencana, waktu adalah hal paling penting. Informasi harus sampai ke warga secepat mungkin, tanpa tergantung pada satu sistem saja,” lanjut Willdan.

Namun, bagi Willdan, Jarindes bukan hanya soal perangkat dan jaringan. Ia juga menjadi alat untuk memperkuat nilai-nilai sosial di masyarakat. “Jarindes bukan cuma soal teknologi. Ini tentang gotong royong, kedisiplinan, dan bagaimana masyarakat bisa saling menjaga,” tambahnya.

Melalui proses pembangunan dan pengelolaan bersama, Jarindes turut mendorong keterlibatan aktif masyarakat, sekaligus memperkuat kapasitas lokal dalam menghadapi tantangan. Di tengah dominasi solusi berbasis teknologi tinggi, Jarindes menawarkan pendekatan yang berbeda, sederhana, kontekstual, dan berbasis kebutuhan nyata masyarakat.

Pendekatan ini menjadi pengingat bahwa ketahanan iklim tidak selalu harus dibangun dengan sistem yang kompleks. Justru dari akar rumput melalui inisiatif seperti Jarindes bisa lahir solusi yang relevan, adaptif, dan berkelanjutan. Dalam lanskap perubahan iklim yang penuh ketidakpastian, sistem seperti Jarindes menunjukkan bahwa kekuatan terbesar sering kali datang dari komunitas itu sendiri dari kemampuan untuk beradaptasi, berkolaborasi, dan membangun solusi yang sesuai dengan realitas mereka.

“Kami tidak mencari teknologi yang paling canggih, tapi yang paling berguna dan bisa bertahan di kondisi kami,” pungkasnya.

Pemanfaatan teknologi untuk ketahanan iklim menunjukkan bahwa solusi tidak selalu harus rumit, melainkan harus relevan dengan kebutuhan masyarakat. Baik melalui pendekatan berbasis data seperti Co_LABS dan Pakebun, maupun sistem sederhana seperti Jarindes, teknologi terbukti efektif ketika dikembangkan bersama komunitas. Kunci utamanya terletak pada kolaborasi, pemahaman konteks lokal, serta kemampuan menerjemahkan data menjadi aksi nyata. Pada akhirnya, ketahanan iklim bukan hanya soal inovasi, tetapi tentang bagaimana teknologi mampu memberdayakan manusia untuk beradaptasi dan bertahan.***

Share Article

Berita Terbaru

Newsroom

Berita dan pembaharuan terbaru
langsung dari Common Room.

Dari Sensor hingga Radio Desa: Inovasi Lokal Hadapi Krisis Iklim
This website uses cookies to improve your experience. By using this website you agree to our Privacy Policy.
Read more