Dari Refleksi ke Aksi: Strategi Sederhana UMKM Maros Menembus Pasar Digital

Newsroom

Dari Refleksi ke Aksi: Strategi Sederhana UMKM Maros Menembus Pasar Digital

Pelatihan Lanjutan Digital Marketing dan Produksi Konten untuk UMKM yang berlangsung di Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAP3) Maros, Sulawesi Selatan, Jumat (10/4/2026), memasuki sesi refleksi yang dipandu oleh Konsultan UMKM, Aziz Setyawijaya. Dalam sesi ini, peserta diajak untuk tidak sekadar mengingat materi sebelumnya, tetapi juga mengevaluasi sejauh mana penerapan yang telah dilakukan dalam usaha masing-masing.

Aziz membuka sesi dengan pertanyaan sederhana namun mengena seperti siapa saja yang sudah mulai mempraktikkan materi seperti penggunaan QRIS, pencatatan keuangan harian, hingga pemasaran melalui platform digital. Pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk untuk menggugah kesadaran peserta bahwa pelatihan tidak berhenti di ruang kelas, melainkan harus berlanjut dalam praktik nyata di lapangan.


Melalui pendekatan reflektif, Aziz mengajak peserta menjawab tiga pertanyaan kunci yaitu apa yang sudah berubah setelah pelatihan, apa yang masih menjadi kendala, serta peluang apa yang mulai terlihat. Beberapa contoh perubahan yang disoroti antara lain mulai memisahkan keuangan pribadi dan usaha, sementara tantangan yang masih sering muncul adalah konsistensi dalam pencatatan serta kebingungan menggunakan aplikasi digital. Di sisi lain, peluang mulai terbuka, seperti potensi menjangkau pasar di luar daerah melalui kanal digital.

Dalam pemaparannya, Aziz kembali menegaskan inti dari materi yang telah diberikan sebelumnya. Digitalisasi usaha, menurutnya, bukan lagi pilihan melainkan kebutuhan agar UMKM dapat bertahan dan berkembang. Pemanfaatan marketplace dan media sosial menjadi kunci dalam membuka akses pasar yang lebih luas. Selain itu, pengelolaan keuangan digital melalui aplikasi juga menjadi fondasi penting untuk mengetahui kondisi usaha secara akurat dan mendorong UMKM menjadi lebih bankable.

Ia juga mengingatkan pentingnya penggunaan sistem pembayaran digital seperti QRIS, e-wallet, dan mobile banking yang tidak hanya mempermudah transaksi, tetapi juga meningkatkan kepercayaan pelanggan. Namun, di balik kemudahan tersebut, Aziz menekankan kewaspadaan terhadap risiko digital seperti phishing, penipuan transfer, hingga investasi bodong. “Kalau terlalu bagus, biasanya itu penipuan,” menjadi salah satu pengingat yang ia tekankan kepada peserta.

Tak kalah penting, aspek keamanan data juga menjadi perhatian, mulai dari penggunaan PIN yang kuat, larangan membagikan OTP, hingga menyimpan bukti transaksi. Sementara itu, pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) diperkenalkan sebagai alat bantu yang potensial bagi UMKM, mulai dari riset pasar, pembuatan ide konten, hingga pengembangan produk.

Di akhir sesi refleksi, Aziz menyampaikan pesan yang menjadi penekanan utama dari seluruh rangkaian pelatihan. “Pelatihan kemarin bukan untuk diketahui, tapi untuk dilakukan. Yang akan berkembang bukan yang paling pintar, tapi yang paling konsisten,” ujarnya. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan UMKM di era digital tidak ditentukan oleh seberapa banyak pengetahuan yang dimiliki, melainkan oleh seberapa konsisten pelaku usaha dalam menerapkan setiap langkah kecil yang telah dipelajari.


Aziz kemudian mengarahkan peserta untuk masuk ke tahap yang lebih praktis melalui materi bertajuk Cerdas Pemasaran Digital: Solusi Sederhana untuk UMKM Maros Menembus Pasar Lebih Luas. Jika sebelumnya peserta diajak melihat kembali apa yang sudah dipelajari, pada sesi ini mereka didorong untuk mulai membangun sistem pemasaran yang lebih terstruktur dan efektif.

Aziz menyoroti salah satu tantangan utama yang dihadapi pelaku UMKM di Maros yaitu persoalan distribusi dan logistik yang membuat pemasaran menjadi kurang efisien. Ia menekankan bahwa solusi bukan sekadar menambah platform digital, melainkan membangun alur pemasaran yang tepat. “Bukan cuma jualan, tapi harus punya alur. Kalau alurnya tidak jelas, promosi sebanyak apa pun akan terasa mahal dan tidak efektif,” tegas Aziz.

Peserta kemudian diminta melakukan asesmen sederhana menggunakan kertas dan spidol, dengan menggambar alur perjalanan pelanggan mulai dari bagaimana mereka mengenal produk, menghubungi penjual, melakukan pembayaran, hingga produk sampai ke tangan konsumen. Pendekatan ini bertujuan agar pelaku UMKM memahami proses bisnisnya secara utuh sebelum mengoptimalkan teknologi yang ada.

Aziz memaparkan tujuh langkah strategi sederhana dan realistis yang bisa langsung diterapkan oleh UMKM. Ia menekankan pentingnya menentukan target pasar secara spesifik sejak awal, karena hal tersebut akan memengaruhi cara berkomunikasi, penentuan harga, hingga jenis konten yang dibuat. Identitas usaha juga perlu dirapikan, mulai dari nama, logo, deskripsi, hingga katalog produk, agar usaha terlihat lebih profesional dan meyakinkan di mata pelanggan.


Pada aspek pemasaran digital, Aziz mendorong pemanfaatan platform yang mudah dan dekat dengan masyarakat, seperti Facebook Marketplace dan WhatsApp Business. Ia menjelaskan bahwa Facebook dapat berfungsi sebagai pintu masuk untuk menjangkau calon pelanggan, sementara WhatsApp menjadi kanal utama untuk proses komunikasi hingga transaksi. Strategi ini dinilai lebih sederhana, hemat biaya, dan relevan bagi UMKM di daerah.

Konsistensi dalam membuat konten juga menjadi sorotan utama. Aziz mengusulkan pola konten mingguan yang mudah diterapkan, seperti menampilkan produk unggulan, testimoni pelanggan, proses produksi, hingga promo. Ia menegaskan bahwa konten tidak harus selalu rumit atau mahal, tetapi harus rutin dan relevan dengan kebutuhan pasar. Penggunaan foto yang jelas, video pendek, serta testimoni nyata dinilai mampu meningkatkan kepercayaan sekaligus minat beli konsumen.


Lebih jauh, Aziz mengingatkan bahwa aktivitas pemasaran tidak berhenti pada proses posting. Pelaku UMKM perlu melakukan evaluasi rutin dengan mencatat jumlah konten yang dibuat, interaksi yang masuk, hingga penjualan yang terjadi. Dari situ, mereka bisa memahami strategi mana yang efektif dan mana yang perlu diperbaiki.

Menutup sesi, Aziz menyampaikan prinsip penting dalam transformasi digital UMKM. Ia menegaskan bahwa keberhasilan pemasaran digital tidak terletak pada seberapa canggih teknologi yang digunakan, melainkan pada seberapa jelas dan konsisten proses yang dijalankan oleh pelaku usaha. “Mulai dari prosesnya, bukan teknologinya. Pahami dulu alurnya, baru kita optimalkan dengan tools. Perbaiki yang paling sederhana dulu,” pungkasnya.***

Share Article

Berita Terbaru

Newsroom

Berita dan pembaharuan terbaru
langsung dari Common Room.

Dari Refleksi ke Aksi: Strategi Sederhana UMKM Maros Menembus Pasar Digital
This website uses cookies to improve your experience. By using this website you agree to our Privacy Policy.
Read more