Di tengah masih lebarnya kesenjangan akses digital di berbagai wilayah Indonesia, Sekolah Internet Komunitas (SIK) atau School of Community Networks (SCN) hadir sebagai ruang belajar dan gerakan masyarakat untuk membangun kemandirian digital dari tingkat komunitas. Sejak diluncurkan di Kasepuhan Ciptagelar pada 2021, program ini berkembang ke berbagai daerah dengan pendekatan yang tidak hanya menghadirkan konektivitas internet, tetapi juga memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengelola teknologi, mengembangkan usaha, hingga menjawab tantangan lingkungan dan perubahan iklim.
Setiap wilayah memiliki cerita dan pencapaiannya sendiri. Di Pulo Aceh, misalnya, SIK berhasil membangun jaringan internet komunitas yang dikelola bersama BUMDes Gampong Meulingge. Meski berada di wilayah kepulauan yang menantang, masyarakat mampu menghadirkan layanan internet bagi warga sekaligus mengembangkan inovasi teknologi berupa Solitude, perangkat pemantauan sumber daya air dan pengumpulan data iklim mikro berbasis Internet of Things (IoT). Kehadiran teknologi ini menjadi langkah awal pemanfaatan data lingkungan untuk mendukung ketahanan iklim di wilayah pesisir.

Di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, terdapat dua model keberhasilan yang menonjol. SIK Ciptagelar di Kasepuhan Gelaralam berkembang menjadi salah satu jaringan internet komunitas terbesar di Indonesia. Jaringan yang dikelola masyarakat adat ini melayani puluhan kampung dan desa dengan ribuan pengguna setiap hari. Pendapatan yang dihasilkan tidak hanya digunakan untuk menjaga keberlanjutan layanan, tetapi juga mendukung pelestarian lingkungan melalui program penanaman sekitar 45 ribu pohon. Keberadaan jaringan internet komunitas juga turut memperkuat eksistensi masyarakat adat Ciptagelar hingga memperoleh pengakuan resmi dari Pemerintah Kabupaten Sukabumi.

Sementara itu, SIK Ciracap menunjukkan bagaimana internet komunitas dapat berkembang menjadi usaha sosial yang berkelanjutan. Melalui PT Internet Desa Digital (iDes), layanan internet yang semula berbasis komunitas kini menjangkau sembilan desa di dua kecamatan. Selain menyediakan konektivitas, SIK Ciracap juga aktif menyelenggarakan pelatihan, kursus, dan berbagai kegiatan peningkatan kapasitas digital bagi masyarakat setempat.

Di Bali, SIK Desa Tembok berhasil mengembangkan layanan Fiber to The Home (FTTH) yang mulai dikelola bersama Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Kehadiran jaringan ini membuka peluang baru bagi masyarakat desa untuk memperoleh layanan internet yang lebih stabil sekaligus menciptakan sumber pendapatan lokal. Pengembangan aplikasi komunitas dan pemanfaatan menara bambu sebagai infrastruktur jaringan turut menunjukkan kemampuan masyarakat dalam mengadaptasi teknologi sesuai kondisi wilayah mereka.

Pencapaian menarik juga terlihat di Desa Sukadana, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Di wilayah ini, jaringan internet komunitas dikelola oleh kelompok perempuan petambak udang vaname. Internet dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas ekonomi, komunikasi, serta pengembangan kapasitas kelompok perempuan melalui pelatihan literasi digital. Model ini menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi alat pemberdayaan yang memperkuat peran perempuan dalam pembangunan ekonomi lokal.

Di Pulau Sumba, dua lokasi SIK berkembang dengan karakter yang berbeda namun saling melengkapi. SIK BLK Don Bosco di Sumba Barat Daya berfokus pada dukungan pendidikan dan pelatihan vokasi melalui penyediaan akses internet bagi peserta didik. Di sisi lain, SIK Mata Redi di Sumba Tengah mulai mengembangkan model bisnis layanan internet berbasis VSAT yang menjangkau kampung-kampung terpencil. Bahkan, layanan ini mulai dikomersialkan di wilayah yang berada dekat pembangkit listrik tenaga surya, membuka peluang baru bagi pengembangan ekonomi desa berbasis teknologi.


Di Sulawesi Selatan, SIK Maros berperan sebagai pusat pengembangan kapasitas sumber daya manusia. Program ini berhasil membentuk komunitas pembelajar yang aktif mengikuti pelatihan dan literasi digital. Fokus utama di wilayah ini adalah memperkuat pengetahuan dan keterampilan masyarakat sebagai fondasi sebelum pengembangan layanan internet yang lebih luas.

Sementara itu, di Sulawesi Tengah, SIK Ngata Toro memperlihatkan bagaimana internet komunitas dapat berjalan berdampingan dengan tata kelola masyarakat adat. Bersama lembaga adat setempat, jaringan internet dimanfaatkan untuk pendidikan, komunikasi, dan transaksi digital, sekaligus menjadi sumber pendapatan yang mendukung keberlanjutan operasional layanan.

Di bagian timur Indonesia, SIK Taliabu di Maluku Utara menjadi salah satu contoh paling berhasil dalam pengembangan kewirausahaan berbasis internet komunitas. Dengan lebih dari seratus titik akses internet yang menjangkau satu desa, layanan ini mampu menghasilkan pendapatan puluhan juta rupiah setiap bulan. Dukungan pemerintah desa dan alokasi dana desa menjadikan Taliabu sebagai contoh kolaborasi yang kuat antara masyarakat, pemerintah lokal, dan pengelola jaringan internet komunitas.

Beragam capaian tersebut menunjukkan bahwa Sekolah Internet Komunitas bukan sekadar program penyediaan akses internet. SIK telah berkembang menjadi ekosistem pembelajaran yang menghubungkan teknologi dengan kebutuhan nyata masyarakat. Melalui penguatan kapasitas, pengembangan kewirausahaan, inovasi teknologi, serta dukungan terhadap ketahanan iklim dan pembangunan berkelanjutan, SIK membuktikan bahwa transformasi digital dapat tumbuh dari komunitas dan untuk komunitas.
Saat ini di empat wilayah SIK yaitu Ciptagelar dan Ciracap di Sukabumi, Desa Sukadana di Lombok Utara, dan Balai Latihan Kerja Don Bosco di Sumba Barat Daya sedang dikembangkan Smart Irrigation System (SIS) atau sistem irigasi pintar berbasis Internet of Things (IoT). Inisiatif ini lahir dari kebutuhan yang sama yaitu bagaimana mengelola air secara lebih efisien di tengah perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian masyarakat.


Melalui pendekatan partisipatif, para petani, pengelola SIK, teknisi jaringan dan mitra teknologi bersama-sama memetakan kondisi lahan, sumber air, kebutuhan pertanian, serta kesiapan komunitas. Proses ini tidak hanya menghasilkan data lapangan yang lebih akurat, tetapi juga menjadi ruang belajar bagi masyarakat untuk memahami bagaimana teknologi dapat bekerja sesuai konteks lokal.
Di empat lokasi tersebut pengembangan Smart Irrigation System diawali dengan validasi kondisi geografis, infrastruktur irigasi yang sudah ada, serta pola kebutuhan air pertanian setempat. Data tersebut kemudian digunakan untuk menyusun desain teknis sistem irigasi berbasis IoT yang memanfaatkan sensor, aktuator, dan sistem pemantauan digital. Teknologi ini dirancang agar petani dapat mengetahui kondisi lahan secara real time dan mengatur distribusi air secara lebih efisien sesuai kebutuhan tanaman.


Bagi lokasi dampingan pengembangan sistem irigasi pintar menjadi bagian dari upaya yang lebih luas untuk memperkuat ketahanan pangan dan ketahanan iklim masyarakat. Dengan memanfaatkan jaringan internet komunitas yang telah tersedia, teknologi IoT memungkinkan pengumpulan data lingkungan secara berkelanjutan sehingga keputusan terkait pengelolaan air dapat dilakukan berdasarkan informasi yang lebih akurat.
Yang menarik, proses pengembangan Smart Irrigation System tidak hanya berfokus pada aspek teknologi. Komunitas juga dilibatkan dalam pemetaan sumber daya, pembagian peran, hingga perencanaan operasional dan keberlanjutan sistem. Pendekatan ini memastikan bahwa teknologi yang dikembangkan tidak berhenti sebagai proyek percobaan, melainkan dapat menjadi bagian dari praktik sehari-hari masyarakat. Bagi Sekolah Internet Komunitas, Smart Irrigation System menandai babak baru dalam perjalanan mereka. Jika pada awalnya internet digunakan untuk komunikasi, pendidikan, dan transaksi digital, kini konektivitas tersebut mulai menjadi fondasi bagi lahirnya berbagai inovasi yang menjawab persoalan nyata masyarakat.
Perjalanan lain pun terus berlanjut. Setelah berkembang di Aceh, Jawa Barat, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, dan Maluku Utara, jaringan Sekolah Internet Komunitas kini bertambah dengan hadirnya dua lokasi baru di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, yaitu SIK Desa Katurei di Kecamatan Siberut Barat Daya dan SIK Desa Saliguma di Kecamatan Siberut Tengah. Kedua lokasi tersebut dikembangkan untuk memperkuat akses internet, literasi digital, serta kapasitas masyarakat di wilayah kepulauan yang selama ini menghadapi tantangan konektivitas. Di saat yang sama, SIK Sungai Nibung di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, menjadi anggota termuda dalam jaringan ini. Kehadirannya menandai perluasan gerakan internet komunitas ke wilayah pesisir Kalimantan yang memiliki kebutuhan besar terhadap akses informasi, pendidikan, dan penguatan ekonomi berbasis digital.



Dengan bertambahnya tiga lokasi baru tersebut, Sekolah Internet Komunitas kini membentuk jaringan pembelajaran yang tersebar dari ujung barat Indonesia di Pulo Aceh hingga wilayah timur dan kepulauan terluar Nusantara. Jaringan ini menjadi bukti bahwa pembangunan digital yang inklusif tidak selalu harus dimulai dari kota-kota besar, melainkan dapat tumbuh dari desa, kampung adat, wilayah pesisir, dan pulau-pulau terpencil ketika masyarakat diberi kesempatan untuk menjadi pelaku utama dalam pengelolaan teknologi dan konektivitas mereka sendiri.***

