Dari Jaringan ke Irigasi Pintar, Peserta Rural ICT Camp Uji Kemampuan dalam Kompetisi Teknologi

Newsroom

Dari Jaringan ke Irigasi Pintar, Peserta Rural ICT Camp Uji Kemampuan dalam Kompetisi Teknologi

Bukan sekadar menguji siapa yang paling cepat menyelesaikan tantangan, kompetisi pada hari ketiga Rural ICT Camp 2026 mempertemukan pengetahuan teknis dengan kemampuan bekerja bersama. Berlangsung di Aula 2 Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan Maros (BRPBAPPP) Maros, Rabu (16/9/2026), empat kelompok peserta dari berbagai Sekolah Internet Komunitas (SIK) mengikuti praktik dan kompetisi yang memadukan jaringan internet lanjutan, keamanan digital, manajemen bandwidth, hingga pemanfaatan Open Source Solar-powered Irrigation Tools (OSPIT) untuk pertanian dan irigasi pintar.

Sebelum kompetisi dimulai, peserta yang berasal dari sejumlah wilayah Sekolah Internet Komunitas (SIK) di Indonesia ini mendapatkan pembekalan mengenai keamanan digital, jaringan internet lanjutan, dan OSPIT. Materi tersebut menjadi bekal untuk menyelesaikan dua tantangan teknis, yakni Network Security & Traffic Control melalui firewall filtering serta manajemen bandwidth dan voucher billing system melalui Hotspot dan User Manager. Setelah kedua tugas tersebut selesai, peserta harus menghubungkan jaringan yang telah mereka bangun dengan sistem OSPIT sebagai tahap akhir praktik.

Dede Irawan dari Internet Desa Digital membekali peserta dengan pengetahuan teknis jaringan internet lanjutan yang kemudian diterapkan dalam kompetisi. Ia menekankan bahwa membangun jaringan bukan sekadar melakukan konfigurasi, tetapi juga memastikan jaringan dapat digunakan untuk menjawab kebutuhan komunitas. “Peserta perlu memahami bahwa membangun jaringan bukan hanya soal melakukan konfigurasi, tetapi juga bagaimana mengelola jaringan agar dapat digunakan dan menjawab kebutuhan komunitas,” ujar Dede.


Materi keamanan digital yang disampaikan Relawan TIK kemudian menjadi dasar bagi peserta untuk mengatur lalu lintas jaringan secara lebih terkontrol. Peserta menerapkan konsep firewall filtering, termasuk penyaringan akses terhadap aplikasi tertentu, dalam tugas pertama kompetisi. Tanpa bantuan telepon genggam, mereka harus membaca persoalan, menentukan konfigurasi, berdiskusi, dan memeriksa kembali hasil pekerjaan sebelum tugas dinyatakan selesai.

Tahap kedua membawa peserta pada persoalan manajemen jaringan yang lebih kompleks. Setiap kelompok harus menyelesaikan konfigurasi bandwidth dan voucher billing system berdasarkan jobsheet yang telah diberikan panitia. Dalam proses tersebut, peserta mengandalkan pengetahuan, komunikasi, serta pembagian peran untuk menyelesaikan pekerjaan dalam batas waktu yang ditentukan. Sistiandy Syahbana dari BlankOn melihat proses tersebut sebagai bagian penting dari pembelajaran karena kemampuan teknis perlu berjalan bersama kemampuan berkomunikasi dan berkolaborasi dalam menghadapi persoalan di lapangan.

Setelah menyelesaikan dua tugas teknis, peserta memasuki tahap final dengan menghubungkan jaringan internet ke sistem OSPIT. Toni Prabowo dari Pakebun memperkenalkan OSPIT sebagai teknologi yang menghubungkan pemanfaatan energi surya, konektivitas, dan sistem irigasi untuk mendukung kebutuhan pertanian. “OSPIT menunjukkan bahwa konektivitas dapat dimanfaatkan lebih jauh untuk mendukung kebutuhan pertanian. Peserta tidak hanya membangun jaringan, tetapi juga melihat bagaimana jaringan tersebut dapat terhubung dengan teknologi irigasi pintar dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” jelas Toni.


Tantangan OSPIT menjadi ujian terakhir untuk menghubungkan berbagai materi yang telah dipelajari peserta. Kelompok yang menyelesaikan firewall filtering dan manajemen bandwidth harus menyalurkan koneksi internet untuk mengaktifkan sistem irigasi pintar tersebut. Dalam waktu terbatas, peserta memasang panel surya, mengaktifkan perangkat, dan menyelesaikan pekerjaan pada aplikasi OSPIT sehingga kemampuan teknis, koordinasi, serta ketepatan kerja diuji secara bersamaan.

Format kompetisi juga sengaja menghilangkan penggunaan telepon genggam dan gawai pribadi. Aturan tersebut mendorong peserta mengandalkan kemampuan analisis, komunikasi, dan kerja sama ketika menghadapi kendala. Akhmat Safrudin selaku Koordinator Capacity Building Regional Asia LocNet menekankan bahwa kompetisi tidak hanya menguji kecepatan peserta dalam menyelesaikan tugas. “Peserta tidak hanya dituntut menyelesaikan tugas dengan cepat, tetapi juga harus menunjukkan ketepatan, kemampuan memecahkan masalah, dan kerja sama dalam tim,” tegasnya.


Empat kelompok kemudian dinilai berdasarkan ketepatan dan penyelesaian seluruh tahapan kompetisi. Akhmat Safrudin bertindak sebagai juri validasi bersama Dede Irawan, Sistiandy Syahbana dari BlankOn, dan Toni Prabowo dari Pakebun. Setelah seluruh tantangan diperiksa, Kelompok 2 yang beranggotakan Aji Kusmayadi dari SIK Ciracap, Ambrosius dari SIK Mentawai wilayah Tiop, Fitri dari SIK Ngata Toro, Ruslia Ipa dari SIK Pulau Taliabu dan Muhamad Rapi dari SIK Ciptagelar meraih juara pertama, Kelompok 1 yang beranggotakan Ajir dari SIK Pulo Aceh, Nasrun Mustafa dari SIK Taliabu, Dina Erdawati Komala dari SIK Lombok Utara dan Nuranisa Aripin dan SIK Ngata Toro menjadi juara kedua, sedangkan Kelompok 3 dengan anggota Pardison Situmorang dari SIK Mentawai wilayah Saliguma, Apri dari SIK Ciptagelar, Nurul Anjelina dari SIK Pulo Aceh serta Syakirah Syahrir dari SIK Maros dan Kelompok 4 dengan anggota Revasya dari SIK Ciptagelar, Alcide Saleilei dari SIK Mentawai wilayah Tiop, Ardi dari SIK Maros, Saraiyah dari SIK Lombok dan Selah Aprilia dari SIK Ciracap
menempati posisi juara ketiga bersama. Juri juga menetapkan Ajir dari SIK Pulo Aceh sebagai peserta paling aktif dalam kompetisi.

Kompetisi tersebut menutup salah satu rangkaian pembelajaran teknis pada hari ketiga Rural ICT Camp 2026 dengan mempertemukan pengetahuan dan praktik dalam satu pengalaman bersama. Peserta tidak hanya menguji kemampuan mengelola jaringan dan keamanan digital, tetapi juga belajar menghubungkan konektivitas dengan teknologi pertanian dan irigasi pintar. Dari konfigurasi router hingga mengaktifkan OSPIT, rangkaian ini memperlihatkan bagaimana keterampilan teknis dapat diterapkan melalui kerja sama untuk menjawab kebutuhan masyarakat rural.***

Share Article

Berita Terbaru

Newsroom

Berita dan pembaharuan terbaru
langsung dari Common Room.

Dari Jaringan ke Irigasi Pintar, Peserta Rural ICT Camp Uji Kemampuan dalam Kompetisi Teknologi
This website uses cookies to improve your experience. By using this website you agree to our Privacy Policy.
Read more