Program penguatan kapasitas pengelola internet komunitas terus dilakukan di wilayah terpencil Indonesia. Di Dusun Sikebukat, Desa Saliguma, Kecamatan Siberut Tengah, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, para peserta Sekolah Internet Komunitas (SIK) Mentawai wilayah Saliguma mengikuti rangkaian pelatihan yang berfokus pada peningkatan kemampuan teknis jaringan internet serta penguatan tata kelola organisasi.
Kegiatan bertajuk “Peningkatan Kapasitas Teknis Jaringan Internet Dasar dan Tata Kelola Organisasi” ini berlangsung selama beberapa hari dan menghadirkan berbagai materi yang dirancang untuk membantu masyarakat memahami cara membangun, mengelola, dan memanfaatkan jaringan internet secara mandiri di tingkat komunitas.
Pada Jumat (27/2/2026), Staf Lapangan Common Room, Kiky Andhika, menyampaikan materi mengenai “Road Map Sekolah Internet Komunitas”. Materi tersebut menjelaskan langkah-langkah strategis yang dapat dilakukan komunitas desa untuk membangun dan mengembangkan layanan internet berbasis masyarakat.

Dalam pemaparannya, Kiky menjelaskan bahwa pengembangan internet komunitas tidak hanya berfokus pada penyediaan akses, tetapi juga pada pembangunan sistem yang berkelanjutan.
“Road map Sekolah Internet Komunitas ini menjadi panduan bagi masyarakat untuk mengembangkan layanan internet secara bertahap. Dimulai dari pembangunan infrastruktur internet dasar, penguatan tata kelola organisasi, hingga pengembangan jaringan melalui penambahan akses poin dan strategi topologi jaringan,” ujar Kiky.
Ia menambahkan bahwa pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu mengatasi kesenjangan digital yang masih terjadi di banyak wilayah terpencil di Indonesia.
“Dengan perencanaan yang tepat, jaringan internet di desa dapat berkembang secara bertahap hingga mampu menjangkau lebih banyak warga dengan koneksi yang stabil dan merata,” tambahnya.

Selain membahas aspek teknis pembangunan jaringan, program Sekolah Internet Komunitas juga menekankan pentingnya literasi digital bagi masyarakat. Materi yang diberikan mencakup berbagai aspek, mulai dari keamanan data pribadi, kesadaran terhadap dampak negatif penggunaan internet, hingga pemanfaatan teknologi digital untuk kegiatan ekonomi lokal.
Melalui pelatihan ini, internet diharapkan tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga alat pemberdayaan masyarakat. Pemanfaatan internet dapat mendukung berbagai sektor di desa seperti pertanian, perikanan, hingga pariwisata.
Kiky menjelaskan bahwa pendekatan pembelajaran dalam program ini juga mendorong kolaborasi antar komunitas melalui metode peer-to-peer learning (P2P learning).
“Kami mendorong proses belajar antar komunitas. Pengalaman yang berhasil di satu wilayah dapat dibagikan kepada komunitas lain sehingga pengembangan internet desa bisa berjalan lebih cepat dan efektif,” jelasnya.

Pada hari terakhir kegiatan, peserta juga mendapatkan materi mengenai “Topologi Jaringan Internet” yang disampaikan oleh Koordinator SIK Ciracap, Dede Irawan. Dalam sesi ini, peserta diajak memahami bagaimana alur koneksi internet dibangun, didistribusikan, dan dikelola agar dapat menjangkau lebih banyak pengguna.
Dede menjelaskan bahwa pengelolaan jaringan internet komunitas memerlukan perencanaan yang matang, tidak sekadar memasang perangkat atau menarik kabel.
“Jaringan internet di komunitas bukan sekadar memasang perangkat dan menarik kabel. Ada perencanaan, strategi, dan pemahaman tentang bagaimana koneksi itu didistribusikan secara efektif agar bisa menjangkau lebih banyak warga,” ujar Dede.

Melalui pemahaman mengenai topologi jaringan, para peserta diharapkan mampu merancang sistem distribusi internet yang efisien sesuai dengan kondisi geografis dan kebutuhan masyarakat di wilayah mereka.
Program Sekolah Internet Komunitas di Saliguma menjadi salah satu upaya untuk memperkuat kapasitas masyarakat desa dalam membangun dan mengelola infrastruktur internet secara mandiri. Dengan kombinasi pelatihan teknis, penguatan organisasi, serta peningkatan literasi digital, masyarakat diharapkan mampu menghadirkan layanan internet yang tidak hanya tersedia, tetapi juga bermanfaat bagi perkembangan sosial dan ekonomi lokal.

Melalui kolaborasi antara masyarakat, pendamping lapangan, serta jaringan komunitas lain yang telah lebih dahulu mengembangkan internet desa, layanan internet berbasis komunitas di Mentawai diharapkan dapat terus berkembang dan menjangkau lebih banyak warga di wilayah terpencil.***

