Dapur Para Perempuan Sabanga yang Menghidupkan Nilai dari Laut

Newsroom

Dapur Para Perempuan Sabanga yang Menghidupkan Nilai dari Laut

Menutup perjalanan Baselining Program Penguatan dan Pelatihan Sekolah Internet Komunitas di Maros Sulawesi Selatan, tim yang terdiri atas Staf Lapangan Common Room, Kiky Andhika dan Pendamping UMKM Rois Solihin serta M. Indra K. H. singgah ke dapur produksi Kelompok Pengolah dan Pemasar Hasil Perikanan (Poklahsar) Bina Pesisir bersama penyuluh Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAP3) Maros pada Sabtu (22/11/2025). Sore hari di Dusun Sabanga, Desa Bonto Bahari, Maros, masih menyisakan aktivitas belasan perempuan di dapur Poklahsar. Mereka mengenakan celemek menghadapi sisa rutinitas yang tak pernah benar-benar ringan: mengolah ratusan kilogram hasil tangkapan laut setiap hari. Dari sinilah Poklahsar Bina Pesisir Maros berdiri, sebuah kelompok pengolah hasil perikanan yang sejak 2017 menjadi ruang pemberdayaan bagi 20 perempuan pesisir.


Setiap harinya dapur ini tak pernah sepi, 200 sampai 300 kilo kepiting dan udang kerap diolah. Ketika pintu ruang produksi dibuka, aroma khas laut langsung menyapa. Belasan perempuan duduk melingkar, tangannya cekatan memisahkan daging kepiting dari cangkangnya. Suasana penuh percakapan ringan, tetapi ritme kerja mereka teratur dan penuh konsentrasi.

Mesti diakui bagian tersulit saat pengolahan adalah memisahkan daging halus agar tidak rusak. Ada kualitasnya dan itulah yang menentukan harga. Daging kualitas terbaik umumnya dipasok ke restoran, produsen camilan premium, hingga industri frozen food.


Di luar ruang utama, tumpukan cangkang kepiting ditata rapi. Limbah ini ternyata bukan sekadar sampah. Bina Pesisir bekerja sama dengan kelompok lain untuk memanfaatkannya sebagai bahan tambahan pembuatan pelet pakan ikan. Mereka beranggapan sayang jika harus terbuang percuma dibuang. Prinsip “semua bisa jadi rezeki” semakin menegaskan bahwa proses produksi mereka berupaya minim limbah.


Meskipun sudah menghasilkan produk bernilai tinggi seperti saus, ebi kering, hingga bahan baku industri olahan, pemasaran Poklahsar Bina Pesisir masih berputar di wilayah Maros. Beberapa produknya dibeli oleh UMKM lain untuk kemudian dikemas ulang dan dipasarkan kembali. Situasi ini menunjukkan bahwa sebenarnya produk mereka sudah cukup diminati, hanya saja belum memiliki kekuatan identitas visual dan izin edar.


Harapan memiliki izin PIRT dan sertifikat halal menjadi tujuan utama mereka agar penjualan bisa lebih luas. Namun, ketidaktahuan memulai prosedurnya yang menjadi hambatan. Adanya pendampingan lebih intens dari instansi terkait sangat mereka butuhkan. Desain kemasan yang lebih menarik juga menjadi kebutuhan mendesak agar produk olahan mereka lebih kompetitif di pasar modern.

Bagi perempuan Sabanga, laut bukan sekadar sumber penghidupan. Di balik aktivitas sehari-hari para perempuan Bina Pesisir, ada cerita tentang ketangguhan dan solidaritas. Mereka mengolah kepiting, udang, dan hasil laut lain bukan hanya demi pendapatan tambahan, tetapi juga untuk menjaga warisan pengetahuan olahan makanan khas pesisir.


Kemandirian kelompok ini dibangun dari kerja kolektif, keterampilan yang diwariskan turun-temurun, dan semangat untuk memberikan nilai tambah bagi hasil tangkapan nelayan sekitar. Setiap kepiting yang dikupas, setiap udang yang dibersihkan, dan setiap botol saus yang diproduksi adalah wujud kecil dari mimpi yang lebih besar, membawa produk olahan pesisir Maros dikenal lebih luas. Poklahsar Bina Pesisir bukan hanya sebuah kelompok usaha. Ia adalah cermin bagaimana perempuan pesisir menjadi penggerak ekonomi lokal: diam-diam, tekun, tetapi penuh daya.***

Share Article

Berita Terbaru

Newsroom

Berita dan pembaharuan terbaru
langsung dari Common Room.

Dapur Para Perempuan Sabanga yang Menghidupkan Nilai dari Laut
This website uses cookies to improve your experience. By using this website you agree to our Privacy Policy.
Read more