Common Room Kenalkan Smart Irrigation di Sukadana Lombok Utara, Solusi Air Presisi untuk Pertanian Masa Depan

Newsroom

Common Room Kenalkan Smart Irrigation di Sukadana Lombok Utara, Solusi Air Presisi untuk Pertanian Masa Depan

Demonstrasi plot (demplot) Kelompok Wanita Tani (KWT) Pucuk Merah di Dusun Sukadana, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, menjadi ruang belajar inovasi pertanian saat digelarnya Workshop Capacity Building – Agriculture IoT Smart Irrigation System pada Rabu (22/4/2026). Kegiatan ini menghadirkan Konsultan dan fasilitator peningkatan kapasitas smart irrigation system, Rois Solihin yang menyampaikan materi bertajuk “Solusi Air Presisi untuk Masa Depan.”

Workshop berlangsung hangat dan berbeda dari pelatihan formal pada umumnya. Para peserta duduk lesehan di atas tikar lante berbahan anyaman rotan, menciptakan suasana santai namun tetap fokus di bawah kanopi anggur. Dipandu Program Admin Common Room Networks Foundation, Ilfani Auliya kegiatan ini menghadirkan peserta dari latar belakang profesi yang beragam, mulai dari ibu rumah tangga, perangkat desa, guru, kelompok pemuda, hingga perawat. Keberagaman tersebut menunjukkan bahwa isu pertanian dan ketahanan air menjadi kepentingan bersama lintas profesi.


Dalam pemaparannya, Rois Solihin menegaskan bahwa pertanian masa depan harus bergerak dari pola tradisional menuju sistem berbasis data. Ia menjelaskan, selama ini banyak petani masih mengandalkan perkiraan saat menyiram tanaman, sehingga air sering terbuang dan hasil panen tidak maksimal. Hal ini persis seperti apa yang disampaikan oleh Ketua KWT Pucuk Merah, Saptahani. “Kadang kami hanya mengandalkan “feeling” saat menyiram anggur, kalau dirasa masih kering kami siram terus-terusan. Padahal ternyata hal itu bisa berdampak buruk bagi tanaman,” terang Saptahani.

Sejak 2020 lalu KWT Pucuk Merah mulai menanam sebanyak 10 varietas anggur dengan memanfaatkan pekarangan rumah berukuran 18,5 x 5 meter sebagai area tanam. Semula kelompok tani ini hanya menanam jenis sayuran saja di sela aktivitas kegiatan sehari-harinya, namun seiring berjalannya waktu dan bertambahnya referensi tontonan media sosial mereka mulai mengembangkan jenis tanaman anggur seperti Oscar, Jupiter, Everest, Baikonur, Basanti, Red Rose, Dubovski Pink, Early Adora, Trans, dan Dixon.


“Dari cerita petani Pucuk Merah, kita mesti mengubah cara kerja dari perasaan menjadi data. Data menggantikan tebakan,” tegas Rois saat menjelaskan konsep smart irrigation.

Menurutnya, smart irrigation merupakan sistem irigasi otomatis yang memanfaatkan sensor kelembaban tanah, suhu, dan kondisi cuaca secara real-time. Sistem ini mampu menyalurkan air tepat saat tanaman membutuhkannya, sehingga penggunaan air menjadi jauh lebih efisien.

Ia menyampaikan bahwa teknologi tersebut mampu menghemat penggunaan air hingga 30–50 persen, terutama di wilayah yang menghadapi tantangan kekeringan dan menurunnya debit air seperti sejumlah kawasan pertanian di Lombok Utara.


Rois juga menekankan bahwa Internet of Things (IoT) menjadi jembatan antara lahan pertanian dan petani modern. Melalui konektivitas digital, sensor di lapangan dapat berkomunikasi langsung dengan pompa air maupun telepon pintar milik petani.

“Data mengalir secara real-time, keputusan bisa diambil otomatis dan presisi,” ujarnya.

Selain hemat air, sistem ini dinilai mampu menekan beban kerja petani. Penyiraman tidak lagi harus dilakukan manual setiap hari. Waktu yang biasanya habis untuk mengangkut air atau membuka tutup saluran dapat dialihkan ke kegiatan produktif lain seperti perawatan tanaman, pemasaran hasil panen, hingga pengembangan usaha tani.


Dalam sesi lain, Rois menjelaskan bahwa tanaman yang memperoleh suplai air optimal akan menghasilkan kualitas panen lebih baik. Ukuran buah lebih seragam, pertumbuhan lebih sehat, dan cita rasa lebih baik. Ia bahkan menyebut potensi sayuran dan cabai premium dari Sukadana dapat menembus pasar bernilai tinggi apabila sistem budidaya terus ditingkatkan.

Ia juga menyoroti aspek ekonomi. Menurutnya, investasi awal untuk sistem irigasi cerdas dapat kembali dalam waktu relatif singkat melalui penghematan air, efisiensi pupuk, serta peningkatan produktivitas panen.

“Teknologi tepat guna bukan beban biaya, tetapi investasi yang memberi hasil terukur,” kata Rois.

Tak hanya bicara alat, Rois menekankan pentingnya keberlanjutan. Ia mendorong keterlibatan pemuda desa agar mampu melakukan perawatan dasar, membaca data sensor, dan menangani gangguan ringan pada perangkat. Dengan begitu, desa tidak bergantung penuh pada tenaga dari luar.


Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Banyak peserta aktif bertanya tentang cara pemasangan sensor, sumber energi panel surya, biaya operasional, hingga peluang penerapan di kebun rumah tangga. Format diskusi yang cair membuat materi teknologi terasa dekat dan mudah dipahami.

Workshop ini menjadi penanda bahwa transformasi pertanian tidak selalu harus dimulai dari skala besar. Dari sebuah demplot sederhana di Dusun Sukadana, Lombok Utara gagasan tentang air presisi, efisiensi, dan pertanian cerdas mulai tumbuh bersama masyarakat. Dengan kolaborasi lintas profesi dan semangat belajar bersama, Sukadana menunjukkan langkah nyata menuju masa depan pertanian yang lebih tangguh dan berkelanjutan.***

Share Article

Berita Terbaru

Newsroom

Berita dan pembaharuan terbaru
langsung dari Common Room.

Common Room Kenalkan Smart Irrigation di Sukadana Lombok Utara, Solusi Air Presisi untuk Pertanian Masa Depan
This website uses cookies to improve your experience. By using this website you agree to our Privacy Policy.
Read more