Common Room Networks Foundation resmi menggelar pelatihan bertajuk “Literasi Digital Lanjutan untuk Meningkatkan Produktivitas Usaha Berbasis Internet” sebagai bagian dari penguatan Program Sekolah Internet Komunitas (SIK). Kegiatan ini berlangsung di Gedung Balai Latihan Kerja (BLK) Don Bosco, Tambolaka, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, pada Selasa (27/1/2026) yang diikuti oleh 22 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal.
Pelatihan ini dirancang untuk menjawab tantangan kesenjangan digital yang masih dihadapi wilayah pedesaan dan terpencil. Tidak hanya soal keterbatasan infrastruktur internet, kesenjangan juga muncul dalam bentuk rendahnya keterampilan teknis, literasi digital, hingga hambatan gender dan bahasa yang membatasi pemanfaatan teknologi secara optimal. Akibatnya, banyak pelaku UMKM belum mampu mengakses peluang pasar yang lebih luas dan memanfaatkan internet sebagai alat strategis pengembangan usaha.
Melalui pendekatan literasi digital tingkat lanjut, kegiatan ini mendorong peserta untuk tidak sekadar menggunakan internet secara dasar, tetapi mampu mengintegrasikannya dalam pengelolaan usaha, pemasaran, hingga transaksi digital secara aman dan berkelanjutan. Program ini terintegrasi dengan Sekolah Internet Komunitas (SIK) yang telah berjalan di sejumlah lokasi percontohan di Indonesia.

Direktur BLK Don Bosco Sumba Barat Daya, Br. Ephrem Santos, SDB., dalam sambutan pembukaannya menegaskan komitmen keberlanjutan program ini. Ia menyampaikan bahwa pelatihan tidak berhenti pada transfer pengetahuan, melainkan akan disertai pendampingan berkelanjutan.
“Program pendampingan ini akan digelar secara berkelanjutan untuk memastikan adanya peningkatan kapasitas, keberlanjutan usaha, dan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya UMKM dan kelompok perempuan di desa. Fokus dari pelatihan ini adalah membangun usaha yang punya pasar jelas, meningkatkan keterampilan lokal, serta mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif melalui pelatihan, praktik langsung, dan pendampingan jangka panjang,” ujar Br. Ephrem.
Selama tiga hari ke depan, peserta akan mendapatkan materi yang mencakup literasi digital lanjutan dan produktivitas UMKM berbasis konektivitas internet. Topik yang dibahas antara lain pengelolaan keuangan usaha berbasis digital, pencatatan keuangan sederhana menggunakan aplikasi, manajemen arus kas, serta pemanfaatan layanan keuangan digital seperti e-wallet, mobile banking, dan QRIS. Peserta juga akan dibekali pemahaman mengenai risiko digital, seperti penipuan daring, pinjaman online bermasalah, hingga keamanan data dan privasi dalam transaksi digital.
Di sisi lain, pelatihan juga menekankan strategi praktis digitalisasi usaha, termasuk optimalisasi platform digital untuk pemasaran, komunikasi bisnis, serta studi kasus UMKM yang berhasil meningkatkan produktivitas melalui teknologi. Metodologi pelaksanaan mengedepankan pelatihan interaktif, studi kasus, simulasi penggunaan platform digital, hingga sesi refleksi dan coaching pascapelatihan.

Manajer Program dan Kerja Sama Common Room, Tisha Amelia, mengapresiasi kolaborasi yang terjalin dengan BLK Don Bosco serta antusiasme peserta. Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara peningkatan penjualan dan tata kelola usaha yang sehat.
“Kami sangat mengapresiasi kerja sama dengan BLK Don Bosco serta partisipasi aktif para pelaku UMKM. Harapannya, melalui pelatihan dan pendampingan ini, para peserta tidak hanya memperoleh hasil usaha yang lebih memuaskan, tetapi juga diimbangi dengan kemampuan pencatatan keuangan yang lebih baik. Usaha yang bertumbuh harus didukung oleh tata kelola yang tertata agar dapat berkelanjutan,” ungkap Tisha.
Program ini secara khusus memprioritaskan pelaku usaha perempuan dan kelompok rentan sebagai bagian dari upaya mengurangi kesenjangan keterampilan digital di tingkat komunitas. Dengan meningkatnya kapasitas teknis dan literasi digital, diharapkan UMKM desa mampu mengakses pasar yang lebih luas, meningkatkan daya saing, serta memperkuat ketahanan usaha di tengah transformasi ekonomi digital.

Ke depan, kegiatan ini juga ditargetkan menghasilkan model pelatihan berbasis komunitas yang terdokumentasi dan dapat direplikasi di wilayah lain. Materi dan modul yang dikembangkan dirancang agar reusable dan scalable, sehingga mendukung pengembangan program literasi digital dan inklusi ekonomi secara lebih luas di berbagai daerah Indonesia.
Pelatihan “Literasi Digital Lanjutan untuk Meningkatkan Produktivitas Usaha Berbasis Internet” ini tidak hanya digelar di Sumba Barat Daya. Program serupa juga akan dilaksanakan di Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAPPP) Maros, Sulawesi Selatan, sebagai upaya memperluas dampak penguatan literasi digital dan produktivitas UMKM di wilayah pesisir dan perikanan.***

