Perakitan dan Pemasangan OSPIT (Open Source Solar Powered Irrigation Tools) dan Transfer Pengetahuan resmi dimulai di dua lokasi, yaitu Balai Latihan Kerja (BLK) Don Bosco, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur dan Desa Sukadana, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Kegiatan ini menjadi langkah awal implementasi sistem Smart Irrigation berbasis Internet of Things (IoT) yang dikembangkan secara kolaboratif bersama anggota Sekolah Internet Komunitas (SIK) di dua lokasi tersebut.

Pada hari pertama Senin (20/7/2026) di BLK Don Bosco, Sumba Barat Daya, sebelum satu perangkat pun dipasang di lahan tim teknis yaitu IoT Engineer Pakebun, Agus Budiantoro, Koordinator Program Common Room, Andriani Kesa Alivia dan Staff Finance Common Room, Putri Firdausya melaksanakan pre-test untuk menguji kemampuan peserta serta mengulas ulang hasil survey di waktu sebelumnya, penjelasan singkat mengenai OSPIT, pengenalan alat dan fungsi, serta perakitan dan pemasangan perangkat OSPIT. Tahapan awal ini menjadi fondasi penting untuk memastikan peserta siap mengoperasikan perangkat secara optimal sesuai dengan kondisi dan kebutuhan pertanian di masing-masing wilayah.
Hasil survei lapangan yang telah dilakukan sebelumnya kembali dibahas sebagai pijakan untuk memahami kebutuhan pertanian setempat. Dari sana, peserta mulai mengenal setiap komponen OSPIT beserta fungsinya sebelum akhirnya merakit dan memasang perangkat secara bersama-sama. Pendekatan ini sengaja dirancang agar peserta tidak hanya memahami hasil akhirnya, tetapi juga mengetahui bagaimana sebuah sistem dibangun. Setiap kabel yang disambungkan, setiap sensor yang dipasang, hingga setiap konfigurasi yang dilakukan menjadi bagian dari proses belajar yang berlangsung langsung di lapangan.



Memasuki hari berikutnya Selasa (21/7/2026), pekerjaan berlanjut pada pembangunan jaringan irigasi. Bersama tim Common Room dan Pakebun, peserta menyesuaikan panjang drip tape, memasang pipa distribusi, serta menyusun jalur irigasi mengikuti kondisi lahan. Setelah seluruh rangkaian instalasi selesai, sistem OSPIT akhirnya berhasil dinyalakan untuk pertama kalinya menggunakan dry battery sebagai sumber daya sementara. Momen tersebut menjadi penanda bahwa seluruh komponen yang sebelumnya hanya berupa bagian-bagian terpisah mulai bekerja sebagai satu sistem. Walaupun masih menggunakan sumber listrik sementara sebelum panel surya dipasang, pengoperasian awal ini menjadi langkah penting untuk memastikan setiap perangkat berfungsi sesuai rencana.


Tantangan berikutnya datang ketika sistem mulai diintegrasikan dengan panel surya. Pada hari ketiga Rabu (22/7/2026), peserta memasang panel surya serta sensor kelembapan tanah sebelum melakukan uji coba menghidupkan OSPIT menggunakan energi matahari. Percobaan pertama belum berjalan sempurna. Sebuah bug muncul ketika sistem diuji. Namun, alih-alih menjadi hambatan, situasi tersebut justru menjadi bagian penting dari proses pembelajaran. Tim teknis bersama peserta melakukan penelusuran terhadap sumber permasalahan, melakukan penyesuaian pada sistem, dan akhirnya berhasil mengembalikan OSPIT ke kondisi normal.


Setelah sistem kembali berjalan, perhatian beralih pada data. Informasi yang dikirimkan sensor mulai ditampilkan melalui antarmuka OSPIT maupun dashboard berbasis web. Melalui jaringan Wi-Fi yang telah dikonfigurasi, sistem juga dapat dipantau sekaligus dikendalikan dari jarak jauh. Perlahan, seluruh komponen mulai dari panel surya, sensor, jaringan komunikasi, hingga dashboard monitoring mulai saling terhubung sebagai satu kesatuan yang bekerja secara otomatis.

Hari terakhir Kamis (23/7/2026) menjadi penanda bahwa proses pembangunan teknologi mulai bergeser menjadi proses membangun pengelolaan. Seluruh sistem yang telah dipasang ditinjau kembali melalui sesi review, kemudian peserta dibagi ke dalam kelompok maintenance yang bertanggung jawab pada dua bidang utama, yaitu perawatan perangkat elektronik serta pemeliharaan jaringan drip tape dan tanaman. Pembagian peran tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan sebuah teknologi tidak hanya ditentukan oleh kualitas perangkatnya, tetapi juga oleh orang-orang yang akan merawatnya setelah tim pendamping kembali.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan kunjungan penyuluh dari Dinas Pertanian, perwakilan Fakultas Informatika Universitas Stella Maris, Fakultas Agroteknologi Universitas Katolik Weetebula, serta LSM Wahana Visi Indonesia. Diskusi, sesi tanya jawab, hingga pengerjaan post-test menjadi ruang untuk mengevaluasi pemahaman peserta sekaligus memperkuat jejaring kolaborasi antara komunitas, akademisi, pemerintah dan organisasi masyarakat.



Pada akhirnya, empat hari di BLK Don Bosco bukan sekadar tentang memasang sistem irigasi berbasis IoT. Yang lahir dari proses tersebut adalah pengalaman belajar bersama, kemampuan teknis yang tumbuh melalui praktik langsung, serta rasa memiliki terhadap teknologi yang dibangun secara gotong royong. Ketika pengetahuan berpindah tangan kepada komunitas, OSPIT tidak lagi hanya menjadi seperangkat alat di tengah lahan pertanian, melainkan menjadi awal dari upaya bersama untuk menghadirkan pertanian yang lebih efisien, adaptif terhadap perubahan iklim dan berkelanjutan.***

