Cerita Perjalanan Membangun OSPIT di Lombok Utara, Belajar Mengelola Air, Belajar Mengelola Teknologi

Newsroom

Cerita Perjalanan Membangun OSPIT di Lombok Utara, Belajar Mengelola Air, Belajar Mengelola Teknologi

Tidak ada teknologi yang langsung bekerja begitu saja di lahan pertanian. Sebelum air mengalir melalui ratusan titik irigasi, ada proses mengukur, merangkai, mencoba, memperbaiki, hingga memahami bagaimana setiap komponen saling bekerja. Itulah yang berlangsung selama empat hari di Desa Sukadana, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat saat Perakitan dan Pemasangan OSPIT (Open Source Solar Powered Irrigation Tools) dan Transfer Pengetahuan.


Di bawah rindangnya kanopi anggur di Desa Sukadana, Lombok Utara, peserta pelatihan duduk melingkar sambil memperhatikan berbagai komponen yang tersusun di hadapan mereka. Tidak ada ruang kelas, meja praktik, ataupun laboratorium berpendingin udara. Yang ada hanyalah lahan pertanian yang dalam beberapa hari ke depan akan berubah menjadi ruang belajar terbuka tentang bagaimana teknologi dapat bekerja berdampingan dengan kebutuhan petani. Suasana itulah yang mengawali rangkaian pelatihan dengan pendampingan Chief Executive Officer Pakebun, Toni Prabowo, Program Admin Common Room, Ilfani Auliya dan Staf Lapangan Common Room, Kiky Andhika. Bersamaan dengan pelaksanaan di Sumba Barat Daya, kegiatan di Desa Sukadana menjadi bagian dari upaya Common Room bersama Pakebun dan Sekolah Internet Komunitas (SIK) untuk menghadirkan sistem Smart Irrigation berbasis Internet of Things (IoT) yang tidak hanya berfungsi di lahan, tetapi juga dapat dipahami oleh masyarakat yang akan menggunakannya.

Hari pertama Senin (20/7/2026) tidak langsung diisi dengan pemasangan perangkat. Sebelum bekerja di lapangan, peserta kembali mengulas materi yang telah dipelajari sebelumnya, mengenal setiap komponen OSPIT beserta fungsinya, mempelajari cara merakit selang dripper, sekaligus mendiskusikan lokasi pemasangan perangkat, jalur distribusi air dan kebutuhan perlengkapan pendukung. Tahapan ini menunjukkan bahwa membangun sistem irigasi bukan sekadar persoalan memasang alat. Setiap keputusan, mulai dari menentukan posisi perangkat hingga merancang aliran air, memerlukan pemahaman terhadap kondisi lahan dan kebutuhan tanaman. Karena itu, seluruh proses dilakukan bersama agar peserta memahami alasan di balik setiap langkah yang diambil.


Proses tersebut berlanjut pada hari berikutnya Selasa (21/7/2026) ketika peserta mulai membangun jaringan distribusi air. Bersama tim Common Room dan Pakebun, mereka memasang 119 titik dripper yang akan menjadi jalur penyaluran air menuju tanaman. Pekerjaan yang tampak sederhana ini membutuhkan ketelitian karena setiap titik harus dipasang sesuai rancangan agar distribusi air berlangsung merata dan efisien. Di saat yang sama, sistem mulai memasuki tahap pengujian. Komunikasi antarperangkat, pembacaan sensor, serta mekanisme irigasi otomatis mulai diperiksa agar seluruh komponen dapat bekerja sebagai satu kesatuan. Sedikit demi sedikit, rangkaian perangkat yang sebelumnya masih berupa komponen terpisah mulai menunjukkan bagaimana teknologi dapat membantu mengelola air secara lebih tepat sasaran. Namun, keberhasilan sebuah teknologi tidak hanya ditentukan oleh perangkat yang terpasang. Teknologi baru benar-benar memberi manfaat ketika orang yang menggunakannya memahami cara kerja di baliknya.


Memasuki hari ketiga Rabu (22/7/2026), fokus kegiatan pun bergeser dari pembangunan sistem menuju pembangunan kapasitas masyarakat. Peserta mempelajari prinsip kerja Smart Irrigation berbasis IoT, mengenali hubungan antara sensor dengan perangkat irigasi, membaca data yang ditampilkan sistem, hingga mengoperasikan dashboard monitoring sebagai alat bantu dalam pengambilan keputusan. Seluruh materi disampaikan melalui praktik langsung. Peserta tidak hanya melihat bagaimana sistem bekerja, tetapi juga mencoba mengoperasikannya sendiri, mengamati perubahan data, dan memahami bagaimana informasi tersebut dapat digunakan untuk menentukan kebutuhan penyiraman tanaman.


Pembelajaran kemudian diperdalam pada hari terakhir Kamis (23/7/2026) melalui pengenalan perawatan berkala, basic troubleshooting, serta dokumentasi operasional. Peserta diajak memahami bahwa sebuah sistem irigasi cerdas memerlukan perhatian yang berkelanjutan agar tetap bekerja dengan baik. Kemampuan mengenali gangguan sejak dini dan melakukan penanganan dasar menjadi bagian penting dari pengelolaan sistem sehari-hari.


Empat hari di Desa Sukadana memperlihatkan bahwa penerapan teknologi bukan hanya tentang menghadirkan inovasi baru di tengah lahan pertanian. Yang lebih penting adalah membangun kepercayaan diri masyarakat untuk mengoperasikan, merawat dan mengembangkan teknologi tersebut sesuai dengan kebutuhan mereka sendiri. Bagi warga Sukadana OSPIT bukan sekadar seperangkat sensor, pipa, dan jaringan irigasi otomatis. Ia menjadi media belajar yang mempertemukan pengetahuan, pengalaman lapangan dan semangat gotong royong. Ketika teknologi dipahami bersama, manfaatnya tidak berhenti pada perangkat yang terpasang, tetapi tumbuh melalui orang-orang yang akan terus merawat dan mengembangkannya di masa depan.***

Share Article

Berita Terbaru

Newsroom

Berita dan pembaharuan terbaru
langsung dari Common Room.

Cerita Perjalanan Membangun OSPIT di Lombok Utara, Belajar Mengelola Air, Belajar Mengelola Teknologi
This website uses cookies to improve your experience. By using this website you agree to our Privacy Policy.
Read more