“Uang yang dikirim dalam 1 detik, bisa hilang selamanya. Tapi uang yang diperiksa lebih teliti sebelum dikirim, akan aman & berkembang untuk bisnis”.
Pesan tegas tersebut menjadi penutup sesi pelatihan “Literasi Digital Lanjutan untuk Meningkatkan Produktivitas Usaha Berbasis Internet” sebagai penguatan Program Sekolah Internet Komunitas dalam Mendukung Inklusi Ekonomi di Wilayah Pedesaan dan Terpencil di Indonesia. Kegiatan yang berlangsung di Gedung Balai Latihan Kerja (BLK) Don Bosco, Tambolaka, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, Rabu (28/1/2026). Konsultan UMKM, Aziz Setyawijaya menyampaikan pesan tersebut saat mengisi materi “Risiko & Mitigasi Keuangan Digital” serta “Keamanan Data dan Privasi dalam Transaksi Digital”.
Dalam pemaparannya, Aziz menegaskan bahwa kondisi penipuan digital kian darurat. Nilai kerugian yang dilaporkan secara nasional terus meningkat dan UMKM menjadi target utama karena rendahnya literasi keamanan digital. “Penipuan digital terus berkembang. Jangan anggap remeh karena ‘maling layar’ bisa ambil jutaan. Lima menit cek legalitas lebih baik daripada kehilangan tabungan usaha,” tegasnya di hadapan peserta.
Tiga Ancaman Nyata yang Mengintai UMKM
Aziz memaparkan tiga jenis ancaman utama yang kerap menjerat pelaku usaha yaitu penipuan digital seperti phishing, SMS scam, dan email palsu. Ancaman kedua yaitu pinjaman online illegal dengan bunga tinggi dan penagihan intimidatif. Investasi bodong seperti skema Ponzi, arisan online fiktif, hingga robot trading palsu menjadi ancaman ketiga yang kerap mengintai UMKM.

Ia mengingatkan peserta untuk mewaspadai janji keuntungan tidak masuk akal, seperti imbal hasil 50–200 persen per bulan. “Tidak ada investasi legal yang memberikan bunga di atas rata-rata deposito atau SBN secara tidak masuk akal dalam waktu singkat. Kalau terlalu indah untuk dipercaya, biasanya memang tidak benar,” ujarnya.
Contoh kasus yang dibahas pun terasa dekat dengan kehidupan masyarakat Sumba, mulai dari arisan online dengan janji puluhan juta rupiah hingga aplikasi robot trading yang menampilkan keuntungan palsu di layar, tetapi menolak pencairan dana saat ditarik.
Mitigasi: Cek, Verifikasi, dan Jangan Tergesa
Sebagai langkah pencegahan, peserta diajak melakukan verifikasi sebelum bertransaksi. Beberapa langkah sederhana namun krusial antara lain adalah selalu mengecek legalitas perusahaan melalui situs resmi OJK dan menu Waspada Investasi. Pelaku UMKM mesti meminta izin resmi atau dokumen legalitas, bukan sekadar klaim lisan. Sebisa mungkin menghindari skema yang mengharuskan merekrut anggota baru dengan komisi tinggi dan tidak mudah percaya pada testimoni online tanpa verifikasi independen.

“Lakukan verifikasi sebelum transaksi. Jangan malu bertanya atau berkonsultasi ke OJK. Lebih baik menunda lima menit daripada menyesal bertahun-tahun,” tambah Aziz.
Ia juga menjelaskan langkah cepat jika sudah terlanjur menjadi korban, seperti mendokumentasikan bukti, tidak mentransfer dana tambahan, memblokir kontak pelaku, serta melapor ke OJK, kepolisian, dan kanal pengaduan resmi.
Data adalah Aset, Bukan Sekadar Angka
Pada sesi kedua, Aziz menekankan bahwa data pelanggan merupakan aset bisnis yang sangat berharga. Di era digital, kebocoran satu nomor WhatsApp saja dapat dimanfaatkan pelaku kejahatan untuk menyebarkan promo palsu atas nama usaha, yang berujung pada rusaknya reputasi.
“Data bukan hanya angka dan kontak. Data adalah kepercayaan. Kalau data bocor, bukan cuma uang yang hilang, tapi nama baik usaha juga bisa runtuh,” jelasnya.

Peserta dibekali praktik sederhana menjaga keamanan digital, seperti membuat PIN dan password kuat serta tidak menggunakan satu kata sandi untuk semua akun. Mengaktifkan OTP dan verifikasi dua langkah. Para peserta juga diimbau untuk tidak pernah membagikan kode OTP kepada siapa pun. Mesti teliti untuk memastikan nama penerima dan jumlah uang sebelum menekan tombol “Bayar”. Hingga menghindari penggunaan WiFi publik untuk transaksi keuangan.
Selain itu, pelaku UMKM juga diingatkan untuk membuat kebijakan internal sederhana, seperti membatasi siapa yang memegang ponsel usaha, mengatur penyimpanan data pelanggan, dan rutin melakukan backup data penjualan.
Menjadi Pelaku Usaha Cerdas Digital
Literasi digital bukan hanya soal pemasaran online dan peningkatan omzet, tetapi juga soal ketahanan usaha terhadap risiko digital. Kepercayaan pelanggan, reputasi bisnis, dan keberlanjutan usaha sangat bergantung pada kemampuan pelaku UMKM dalam mengelola risiko dan menjaga keamanan data.
Melalui pemahaman risiko, kebiasaan verifikasi, serta perlindungan data yang disiplin, UMKM di Sumba Barat Daya dan wilayah pedesaan lainnya diharapkan mampu tumbuh lebih kuat, aman, dan berdaya saing di era ekonomi digital.***

