Catat, Hitung, Untung: Membaca Kembali Arus Keuangan UMKM

Newsroom

Catat, Hitung, Untung: Membaca Kembali Arus Keuangan UMKM

Mengelola keuangan usaha tidak cukup dengan mengetahui berapa banyak uang yang masuk dan keluar. Pelaku UMKM juga perlu memahami dari mana biaya berasal, bagaimana menentukan harga jual, dan ke mana uang usaha digunakan. Kebutuhan tersebut menjadi perhatian dalam Kelas Literasi Keuangan Digital pada hari kedua Rural ICT Camp 2026 di Aula 1 BRPBAPPP Maros, Sulawesi Selatan, Selasa (15/9/2026).

Accounting Officer Common Room, Sara Verawati memandu sesi ini bersama Indri Rosita Andarwati dari Benih Kebaikan Bersama. Kelas ini melanjutkan sesi literasi keuangan yang sebelumnya berlangsung secara daring bagi peserta di Maros dan Sumba. Indri mengajak peserta mempraktikkan pengenalan biaya usaha, penentuan harga jual, pencatatan transaksi, hingga pembacaan arus kas melalui worksheet, studi kasus, simulasi, permainan kelompok, post-test, dan refleksi.


“Catat, hitung, untung. Kita mencatat bukan sekadar untuk memiliki angka, tetapi untuk mengetahui kondisi usaha dan menentukan langkah berikutnya,” ujar Indri. Ia mendorong peserta menjadikan pencatatan sebagai kebiasaan dalam menjalankan usaha, bukan sekadar aktivitas administratif. Menurutnya, catatan keuangan membantu pelaku usaha melihat posisi bisnis secara lebih terukur sebelum mengambil keputusan.

Peserta memulai kelas dengan merefleksikan pengalaman mereka ketika mendengar istilah “kelola keuangan”. Sebagian peserta menggambarkan kebingungan karena masih kesulitan mengatur keuntungan, memutar modal, menghitung biaya tenaga kerja, dan memisahkan uang usaha dari kebutuhan pribadi. Peserta lainnya menunjukkan optimisme karena berharap materi tersebut membantu mereka mencapai target usaha.

Indri kemudian mengajak peserta membongkar kembali komponen biaya melalui praktik “Detektif Harga: Bongkar Biaya, Temukan Harga”. Peserta memilih produk yang mereka jual, mencatat harga jualnya, lalu memeriksa biaya yang sudah dan belum mereka masukkan dalam perhitungan. Mereka menghitung biaya kemasan, listrik, air, transportasi, biaya administrasi, hingga komisi marketplace yang kerap terlewat ketika menentukan harga jual.

“Jangan hanya menghitung bahan utama. Kemasan, listrik, air, transportasi, biaya transfer, dan komisi marketplace juga perlu kita masukkan karena semuanya memengaruhi biaya usaha,” kata Indri. Peserta juga belajar mengalokasikan biaya listrik dan air ketika penggunaannya masih bercampur dengan kebutuhan rumah tangga. Mereka dapat menggunakan estimasi yang wajar dan memperbaruinya secara berkala agar perubahan biaya operasional tetap tercatat.


Setelah membedah biaya, peserta mengikuti simulasi cashflow “Uangnya ke Mana?”. Mereka berperan sebagai tim keuangan dari berbagai jenis usaha, membuka kartu transaksi, mencatat pemasukan dan pengeluaran, menghitung saldo, serta menelusuri penggunaan uang usaha. Setiap kelompok kemudian menilai kondisi arus kas dan menyusun strategi berdasarkan persoalan yang muncul dalam studi kasus masing-masing.

Kelompok Wak menganalisis Kedai Kopi Pagi dan merekomendasikan peningkatan volume produk serta promosi. Kelompok Wik menghitung transaksi usaha kue, mulai dari bahan baku, gas, kurir, pajak, hingga pemasukan, lalu menekankan pentingnya mencatat pemasukan setiap hari dan menyimpan nota. Kelompok Wok mengidentifikasi risiko usaha sayuran segar yang mudah rusak, sedangkan kelompok Wuk mengevaluasi arus keuangan Cinta Craft dan menekankan pentingnya memisahkan uang usaha dari uang pribadi. Kelompok Wek juga mengidentifikasi tingginya biaya perawatan mesin laundry dan membahas peluang pengembangan melalui penambahan mesin, layanan antar-jemput, dan promosi.


Simulasi tersebut membuat peserta melihat bahwa setiap jenis usaha memiliki persoalan keuangan yang berbeda. Mereka tidak hanya menghitung saldo, tetapi juga menghubungkan angka dengan keputusan usaha, seperti mengurangi pengeluaran, meningkatkan promosi, menjaga persediaan, atau menambah layanan. Salah seorang peserta, Meisya dari UMKM Nasi Biryani by Meisya menyebut materi pencatatan biaya dan cashflow relevan bagi kebutuhan pelaku UMKM, sementara peserta lain mengaku lebih memahami berbagai biaya kecil yang sebelumnya sering mereka lewatkan.

Kelas Literasi Keuangan Digital akhirnya menempatkan pencatatan sebagai bagian penting dari kemampuan pelaku UMKM dalam mengelola usaha. Peserta membawa pulang pemahaman bahwa catatan keuangan dapat membantu mereka membaca kondisi bisnis, mengukur keuntungan, dan menentukan langkah berdasarkan data. Melalui prinsip “catat, hitung, untung”, Rural ICT Camp 2026 mendorong pelaku UMKM membangun kebiasaan mengelola keuangan secara lebih disiplin, terukur, dan berkelanjutan.***

Share Article

Berita Terbaru

Newsroom

Berita dan pembaharuan terbaru
langsung dari Common Room.

Catat, Hitung, Untung: Membaca Kembali Arus Keuangan UMKM
This website uses cookies to improve your experience. By using this website you agree to our Privacy Policy.
Read more