Hari kedua pelatihan “Literasi Digital Lanjutan untuk Meningkatkan Produktivitas Usaha Berbasis Internet” sebagai penguatan Program Sekolah Internet Komunitas dalam Mendukung Inklusi Ekonomi di Wilayah Pedesaan dan Terpencil di Indonesia, yang berlangsung di Gedung Balai Latihan Kerja (BLK) Don Bosco, Tambolaka, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, Rabu (28/1/2026), tidak hanya membahas keamanan dan mitigasi risiko digital. Konsultan UMKM, Aziz Setyawijaya juga melengkapi sesi dengan materi bertajuk “Optimalisasi Penjualan dan Produksi dengan Pemanfaatan AI.”
Dalam paparannya, Aziz menyoroti tantangan nyata yang sedang dihadapi UMKM, mulai dari menurunnya daya beli masyarakat hingga rendahnya tingkat adopsi digital. Ia menjelaskan bahwa kondisi deflasi yang sempat terjadi menjadi sinyal melemahnya permintaan konsumen, sehingga pelaku usaha tidak bisa lagi mengandalkan cara lama dalam berjualan.
“Dalam situasi seperti ini, UMKM tidak cukup hanya produksi lalu berharap laku. Harus ada riset. Harus ada data. AI bisa menjadi asisten owner yang membantu membaca arah pasar,” ujar Aziz.
Riset AI: Dari Tren Pasar hingga Produksi
Aziz menjelaskan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dapat membantu pelaku usaha melakukan riset sebelum mengambil keputusan bisnis. Dengan AI, UMKM dapat menganalisis tren pasar dan perilaku konsumen berdasarkan generasi (Gen Z, Milenial, Gen X, hingga Baby Boomer). Pelaku UMKM juga bisa memprediksi permintaan produk dan kebutuhan stok bahan baku serta mengoptimalkan proses produksi melalui efisiensi dan kontrol kualitas berbasis machine learning. Hingga menyusun strategi pemasaran yang lebih tepat sasaran melalui rekomendasi produk, chatbot, dan pembuatan konten promosi yang personal.

Ia juga memberikan contoh bagaimana AI dapat digunakan untuk riset inspirasi brand, kemasan, dan visual sebelum dieksekusi oleh desainer, sehingga biaya uji coba bisa ditekan dan hasil lebih sesuai dengan target pasar.
Selain itu, riset pasar e-commerce menjadi langkah penting sebelum masuk ke persaingan digital. Dengan memahami Total Addressable Market (TAM), Serviceable Available Market (SAM), hingga Serviceable Obtainable Market (SOM), pelaku UMKM dapat menentukan target realistis dan strategi penetrasi pasar yang lebih terukur.
AI Bukan Pengganti, tapi Penguat Keputusan
Aziz menekankan bahwa AI bukanlah pengganti pelaku usaha, melainkan alat bantu untuk mengambil keputusan yang lebih cerdas.

“AI itu bukan saingan, tapi asisten. Dia bantu kita baca tren, bantu hitung potensi, bantu prediksi stok. Tapi keputusan tetap di tangan owner,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan peserta untuk lebih produktif dalam menggunakan internet dan smartphone. “Batasi nonton TikTok dan Instagram yang tidak produktif. Gunakan waktu online untuk riset pasar, cek kompetitor, dan eksplorasi ide baru,” tambahnya.
Menutup sesi, Aziz menyampaikan pesan yang mengundang senyum sekaligus refleksi bagi peserta, “In this economy, jualan tanpa riset itu kayak ngejalanin kendaraan tanpa panduan Google Maps, salah arah terus sampai bensinya habis,” tegasnya.
Pemanfaatan riset berbasis AI, lanjutnya, menjadi strategi penting untuk meningkatkan efisiensi penjualan dan produksi. Dengan menjadikan AI sebagai asisten usaha dalam menganalisis tren pasar, memprediksi permintaan, serta mengoptimalkan proses produksi dan pemasaran, UMKM dapat mengambil keputusan yang lebih tepat dan berdaya saing di era ekonomi digital.
Melalui penguatan literasi digital yang tidak hanya berfokus pada keamanan, tetapi juga pada inovasi dan pemanfaatan teknologi, pelaku UMKM di Sumba Barat Daya diharapkan mampu naik kelas dan bertahan di tengah dinamika ekonomi yang terus berubah.***

