Rural ICT Camp 2026 Berakhir, Semangat Belajar dan Kolaborasi Terus Berlanjut

Newsroom

Rural ICT Camp 2026 Berakhir, Semangat Belajar dan Kolaborasi Terus Berlanjut

Gelaran Rural ICT Camp 2026 resmi berakhir di Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAPPP) Maros, Sulawesi Selatan. Berlangsung pada 14–18 September 2026, kegiatan yang mengusung tema “Internet Komunitas yang Bermakna untuk Ketahanan Iklim dan Kemandirian Warga” ini menjadi ruang belajar bersama, berbagi pengalaman, dan memperkuat kolaborasi dalam pengembangan internet komunitas di berbagai wilayah Indonesia. Seremoni penutupan yang berlangsung pada Kamis (17/9/2026) di Aula 2 diawali dengan refleksi peserta terhadap rangkaian pembelajaran selama empat hari. Kegiatan dilanjutkan dengan sambutan perwakilan tuan rumah, penyampaian refleksi pengembangan internet komunitas, penyerahan sertifikat, pengumuman pemenang tantangan konten Common Room, serta pemutaran video rangkuman kegiatan. Acara ini juga menjadi kesempatan untuk memberikan apresiasi kepada peserta, mitra, narasumber, dan tim pelaksana yang telah berkontribusi dalam menyukseskan Rural ICT Camp 2026.

Kepala Balai BRPBAPPP Maros, Indra Jaya Asaad, menyampaikan apresiasi kepada Common Room, seluruh mitra, dan peserta yang telah terlibat dalam kegiatan tersebut. Ia menilai kerja sama dengan Common Room membuka peluang untuk memperluas jejaring dan membangun kolaborasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Ia juga menegaskan komitmen balai untuk menyediakan ruang bagi berbagai kegiatan pembelajaran dan pengembangan kapasitas. Menurutnya, keterbukaan terhadap kolaborasi menjadi bagian penting dalam mendukung kegiatan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, termasuk komunitas pesisir.


“Kami mengapresiasi Common Room, seluruh mitra, dan peserta yang telah berkolaborasi dalam Rural ICT Camp 2026. Kerja sama ini membuka peluang untuk memperluas jejaring dan mengembangkan kegiatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Kami berharap balai dapat terus menjadi ruang terbuka bagi kegiatan pembelajaran dan kolaborasi. Kami ingin mendukung berbagai inisiatif yang memperkuat kapasitas masyarakat dan memberikan manfaat nyata bagi komunitas,” ungkap Indra.

Dalam sesi refleksi, Direktur Common Room Networks Foundation, Gustaff H. Iskandar menekankan bahwa pengembangan internet komunitas merupakan proses pembelajaran berkelanjutan yang membutuhkan keterlibatan manusia, kemampuan beradaptasi, dan kemauan untuk menghadapi kegagalan. Ia mengapresiasi upaya peserta yang telah membangun percontohan internet komunitas di 12 lokasi, meskipun setiap wilayah memiliki perkembangan dan tantangan yang berbeda. “Pengembangan internet komunitas merupakan proses belajar bersama. Kita tidak selalu berhasil dalam setiap upaya, tetapi kegagalan memberikan pengalaman untuk beradaptasi, memperbaiki pendekatan, dan menemukan solusi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” jelas Gustaff.


Gustaff juga mengingatkan bahwa internet komunitas tidak semata-mata berkaitan dengan penyediaan perangkat atau infrastruktur jaringan. Lebih dari itu, inisiatif tersebut membutuhkan hubungan yang kuat antara teknologi, warga, dan jejaring yang mendukung keberlanjutannya. Pengembangan internet komunitas perlu berangkat dari kebutuhan masyarakat sekaligus mendorong kemandirian warga dalam mengelola dan memanfaatkan konektivitas. Ia berharap kolaborasi yang telah terbentuk melalui Rural ICT Camp dapat terus berkembang untuk mendukung kehidupan yang lebih baik serta menjaga keberlanjutan bagi generasi mendatang.

“Internet komunitas bukan hanya tentang teknologi dan infrastruktur jaringan. Kita juga perlu membangun keterlibatan warga, memperkuat jejaring, dan memastikan bahwa konektivitas yang dikembangkan dapat memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat. KKami mengapresiasi peserta yang telah mengembangkan percontohan internet komunitas di 12 lokasi. Setiap wilayah memiliki tantangan dan perkembangan yang berbeda, tetapi seluruh pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari proses belajar bersama,” lanjut Gustaff.


Sementara itu, Nils Brock, Co-coordinator LocNet – Innovation, Technology and Sustainability (ITS), salah satu mitra kegiatan, menyoroti perubahan iklim sebagai tantangan yang semakin relevan bagi masyarakat dan pengembangan komunitas. Ia menilai bahwa perubahan besar dapat dimulai melalui tindakan-tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten dan bersama-sama. Selain persoalan iklim, Nils juga mengangkat perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang semakin banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, komunitas perlu mengambil peran dalam menentukan bagaimana teknologi tersebut digunakan di lingkungan mereka agar pemanfaatannya tetap relevan dengan kebutuhan dan kepentingan masyarakat.

Nils turut mengingatkan pentingnya memikirkan keberlanjutan pendanaan bagi inisiatif internet komunitas. Tantangan pendanaan yang dihadapi berbagai organisasi dan komunitas menuntut adanya inovasi serta strategi pengelolaan yang lebih adaptif. Karena itu, para penggerak Sekolah Internet Komunitas (SIK) diharapkan terus belajar, mengembangkan gagasan, dan memperkuat kapasitas untuk menjaga keberlangsungan inisiatif mereka. Penguatan jejaring, pertukaran pengalaman, serta pengembangan model kerja sama menjadi bagian penting untuk memastikan bahwa infrastruktur dan pengetahuan yang telah dibangun dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat.


Rangkaian penutupan juga diisi dengan penyerahan sertifikat kepada peserta SIK dan perwakilan UMKM Maros. Penyerahan sertifikat oleh Gustaff H. Iskandar dan Indra Jaya Asaad menjadi bentuk apresiasi terhadap keterlibatan peserta dalam rangkaian pembelajaran dan pengembangan kapasitas. Selain itu, panitia mengumumkan pemenang tantangan konten digital dan memberikan kesempatan kepada perwakilan UMKM untuk berbagi pengalaman mengenai produk yang mereka kembangkan. Kegiatan ini memperlihatkan bahwa penguatan kapasitas komunitas dapat terhubung dengan upaya memperluas peluang ekonomi lokal melalui pemanfaatan teknologi dan kolaborasi.



Apresiasi khusus juga diberikan kepada tim pelaksana yang bekerja di balik layar untuk memastikan kegiatan berlangsung dengan baik. Pemutaran video rangkuman menjadi momen untuk mengenang proses belajar, diskusi, praktik, dan interaksi yang terbangun selama Rural ICT Camp 2026. Berbagai pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pengembangan internet komunitas membutuhkan kontribusi dari beragam pihak, mulai dari penggerak lokal dan organisasi masyarakat hingga mitra teknis dan lembaga pendukung. Pertemuan lintas wilayah dan pengalaman ini diharapkan dapat memperkuat pertukaran pengetahuan sekaligus membuka peluang kerja sama baru setelah kegiatan berakhir.


Penutupan Rural ICT Camp 2026 menandai berakhirnya rangkaian kegiatan, tetapi bukan akhir dari proses belajar dan kolaborasi. Pengetahuan, pengalaman, dan jejaring yang terbangun di Maros diharapkan terus berkembang untuk memperkuat internet komunitas yang bermakna, meningkatkan ketahanan iklim, serta mendorong kemandirian warga. Dengan semangat belajar bersama dan berinovasi, para penggerak komunitas diharapkan dapat menerapkan pengetahuan sesuai dengan konteks wilayah masing-masing. Melalui kolaborasi yang berkelanjutan, internet komunitas diharapkan tidak hanya memperluas akses konektivitas, tetapi juga membantu masyarakat menghadapi tantangan perubahan iklim dan membangun masa depan yang lebih tangguh.***

Share Article

Berita Terbaru

Newsroom

Berita dan pembaharuan terbaru
langsung dari Common Room.

Rural ICT Camp 2026 Berakhir, Semangat Belajar dan Kolaborasi Terus Berlanjut
This website uses cookies to improve your experience. By using this website you agree to our Privacy Policy.
Read more