HERMES, LACS, dan OSPIT: Teknologi Komunitas untuk Kesiapsiagaan Bencana di Wilayah Rural

Newsroom

HERMES, LACS, dan OSPIT: Teknologi Komunitas untuk Kesiapsiagaan Bencana di Wilayah Rural

Ketika bencana terjadi dan jaringan komunikasi terputus, kemampuan masyarakat untuk tetap terhubung menjadi kebutuhan yang sangat penting. Berangkat dari tantangan tersebut, Rural ICT Camp 2026 menghadirkan sesi Talkshow Teknologi HERMES, LACS, dan OSPIT untuk Kesiapsiagaan Bencana pada Kamis (17/9/2026), di Aula 2 Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAPPP) Maros. Kegiatan ini mengajak peserta mengenal sekaligus mempraktikkan tiga teknologi yang berpotensi mendukung komunikasi darurat, koordinasi masyarakat, dan ketahanan pangan di wilayah rural.

Dalam sesi tersebut, Nils Brock, Co-coordinator LocNet – Innovation, Technology and Sustainability (ITS), memperkenalkan HERMES (High Frequency Emergency Radio Messaging System), sebuah sistem komunikasi darurat berbasis gelombang radio frekuensi tinggi atau High Frequency (HF). Ia menjelaskan bahwa teknologi ini dikembangkan dengan mempertimbangkan pengalaman masyarakat di sejumlah negara, termasuk Bangladesh, Brasil, dan wilayah Afrika, yang menghadapi keterbatasan akses komunikasi akibat tidak tersedianya jaringan seluler maupun internet. HERMES dirancang agar pengiriman pesan tetap dapat berlangsung ketika infrastruktur komunikasi konvensional tidak berfungsi.


Berbeda dari radio komunikasi konvensional yang mengandalkan suara, HERMES mengubah informasi menjadi data digital untuk dikirim melalui gelombang radio HF pada rentang frekuensi 3–30 MHz. Sistem ini memungkinkan pengiriman pesan teks dan data berukuran kecil untuk komunikasi jarak jauh, termasuk lintas pulau, tanpa bergantung pada koneksi internet. Penggunaan sumber daya alternatif seperti panel surya dan aki mobil juga memungkinkan perangkat tetap beroperasi ketika pasokan listrik terputus. Menanggapi pertanyaan peserta mengenai pengiriman dokumen, foto, dan video, Nils menjelaskan bahwa HERMES saat ini difokuskan pada pesan teks dan data berukuran kecil, sehingga belum dirancang untuk mengirimkan video.

“HERMES dikembangkan untuk menjawab kebutuhan komunikasi masyarakat di wilayah terpencil yang tidak memiliki akses jaringan seluler maupun internet. Teknologi ini memungkinkan pengiriman pesan digital melalui gelombang radio HF, sehingga komunikasi tetap dapat dilakukan ketika infrastruktur komunikasi konvensional terputus,” jelas Nils.


Pembahasan kemudian dilanjutkan dengan demonstrasi dan praktik penggunaan HERMES yang dipandu Wildan Hidayatullah, Koordinator Teknis Jarindes Gelaralam. Ia mengangkat pengalaman mitigasi bencana di Lebak Selatan, Banten, untuk menunjukkan pentingnya penyebaran informasi dan kesiapsiagaan masyarakat, terutama di kawasan rawan tsunami. Dalam praktiknya, peserta belajar mengenali komponen perangkat, memasang antena, melakukan pencocokan frekuensi (frequency matching), serta mengirim pesan melalui jaringan radio digital. Apri dari Ciptagelar juga membagikan pengalaman pemanfaatan teknologi radio komunitas bersama Common Room untuk menyampaikan pengumuman desa, menjaga lahan pertanian di dekat hutan, dan menjangkau warga yang tidak menggunakan telepon genggam. Wildan menambahkan bahwa Common Room sedang mengembangkan perangkat HERMES agar lebih praktis digunakan komunitas, khususnya di wilayah pesisir yang berisiko menghadapi bencana megathrust dan tsunami.

“Keterlambatan informasi dan rendahnya kesiapsiagaan masyarakat menjadi tantangan dalam menghadapi bencana. Karena itu, pengembangan HERMES diarahkan agar perangkat komunikasi darurat ini lebih praktis digunakan oleh komunitas, khususnya masyarakat di wilayah pesisir yang berisiko menghadapi tsunami,” kata Wildan.

Teknologi kedua yang diperkenalkan adalah LACS (Local Area Communication System), sistem komunikasi lokal berbasis jaringan Wi-Fi yang dipresentasikan oleh Executive Director Central Visayas Information Sharing Network Foundation, Inc. (CVISNET), Jeffrey Llanto dari Filipina. Sistem ini memungkinkan masyarakat berkomunikasi dan mengakses informasi melalui jaringan lokal tanpa harus terhubung ke internet atau jaringan seluler. Dalam demonstrasinya, peserta diperlihatkan dashboard yang dapat digunakan untuk menampilkan informasi korban, lokasi evakuasi, dan komunikasi antaranggota komunitas selama situasi darurat. Peserta kemudian menghubungkan telepon genggam ke jaringan Wi-Fi lokal LACS, melakukan pendaftaran, dan mencoba berbagai fitur yang tersedia.


Fitur LACS mencakup Emergency SOS, pesan pribadi dan grup, panggilan suara dan video melalui jaringan lokal, berbagi lokasi, text-to-speech, serta halaman informasi dan feed komunitas yang dapat diakses tanpa koneksi internet. Ketika peserta menanyakan jangkauan penggunaan di tingkat desa, tim CVISNET menjelaskan bahwa jangkauannya bergantung pada jaringan Wi-Fi lokal dan rata-rata mencapai sekitar 300 meter, dengan kemungkinan perluasan melalui perangkat tambahan. Tim tersebut juga menjelaskan bahwa fitur aksesibilitas bagi penyandang disabilitas, termasuk pengguna tunanetra dan tunarungu, masih terus dikembangkan. LACS sendiri masih berada pada tahap prototipe dan sedang diuji coba di Indonesia, Filipina, Jepang, serta Nepal sebelum diproduksi secara lebih luas.

Selain komunikasi darurat, sesi ini membahas OSPIT (Open Source Solar Powered Irrigation Tools), teknologi irigasi otomatis berbasis tenaga surya yang dipresentasikan oleh Toni Prabowo, Chief Executive Officer Pakebun. OSPIT memanfaatkan sensor kelembapan tanah untuk mengaktifkan pompa air secara otomatis sesuai kebutuhan penyiraman tanaman. Karena menggunakan energi surya, sistem ini dapat beroperasi tanpa bergantung pada jaringan listrik konvensional. Toni juga memperkenalkan potensi pemanfaatan OSPIT sebagai sumber daya darurat untuk mengisi daya perangkat komunikasi, seperti handy-talky (HT) dan telepon genggam, ketika terjadi bencana atau pemadaman listrik. Dalam diskusi, ia menjelaskan bahwa sistem tersebut dapat dikembangkan untuk kebutuhan tambak, termasuk pemantauan salinitas dan pH air, dengan menambahkan sensor yang sesuai serta menyesuaikan pemrograman perangkat.

“OSPIT tidak hanya membantu mengotomatisasi penyiraman tanaman melalui sensor kelembapan tanah dan pompa air, tetapi juga memiliki potensi untuk mendukung kebutuhan darurat. Dengan memanfaatkan tenaga surya, sistem ini dapat dikembangkan untuk membantu menyediakan sumber daya bagi perangkat komunikasi ketika terjadi pemadaman listrik,” jelas Toni.


Dari sisi penerapan, peserta turut mendiskusikan biaya dan kemungkinan pengembangan OSPIT sesuai kebutuhan komunitas. Toni memperkirakan biaya implementasinya berkisar Rp500.000 hingga Rp2.000.000, bergantung pada luas lahan dan kebutuhan perangkat. Toni menambahkan bahwa OSPIT masih berada dalam tahap riset dan pengembangan agar dapat ditawarkan dengan harga yang lebih terjangkau bagi masyarakat Indonesia. Peserta juga mengeksplorasi penggunaannya untuk pertanian, perkebunan, urban farming, serta budidaya perikanan, termasuk kemungkinan menyalurkan pupuk cair melalui penyesuaian konfigurasi sistem irigasi dan jumlah saluran yang digunakan.

Sebagai penutup, Nils mengajak peserta melakukan refleksi melalui Mentimeter untuk mengidentifikasi peluang penerapan HERMES, LACS, dan OSPIT di wilayah masing-masing. Hasil refleksi menunjukkan bahwa peserta melihat HERMES berpotensi mendukung komunikasi nelayan, pos pendakian gunung, radio komunitas, dan koordinasi antarposko bencana, terutama di wilayah kepulauan, pegunungan, daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta kawasan tanpa akses jaringan atau blank spot. Sementara itu, LACS dinilai relevan untuk mendukung komunikasi lokal di desa terpencil dan posko evakuasi. OSPIT dipandang berpotensi memperkuat sistem irigasi pertanian sekaligus menyediakan sumber daya alternatif bagi perangkat komunikasi ketika listrik tidak tersedia.

Rangkaian talkshow dan praktik langsung dalam Rural ICT Camp 2026 menegaskan bahwa teknologi internet komunitas tidak hanya berkaitan dengan penyediaan akses konektivitas, tetapi juga dengan penguatan kemampuan masyarakat menghadapi situasi darurat. HERMES menawarkan alternatif komunikasi jarak jauh berbasis radio HF, LACS menyediakan sarana komunikasi lokal tanpa internet, sedangkan OSPIT menggabungkan irigasi cerdas dengan pemanfaatan energi surya yang berpotensi mendukung kebutuhan darurat. Melalui pengenalan, demonstrasi, dan diskusi bersama, peserta memperoleh gambaran mengenai cara mengadaptasi teknologi tersebut berdasarkan kondisi geografis dan kebutuhan komunitas, sehingga kesiapsiagaan bencana dapat dibangun melalui solusi yang relevan dengan kehidupan masyarakat setempat.***

Share Article

Berita Terbaru

Newsroom

Berita dan pembaharuan terbaru
langsung dari Common Room.

HERMES, LACS, dan OSPIT: Teknologi Komunitas untuk Kesiapsiagaan Bencana di Wilayah Rural
This website uses cookies to improve your experience. By using this website you agree to our Privacy Policy.
Read more