Memasuki hari keempat Rural ICT Camp 2026, Kamis (17/9/2026), peserta Sekolah Internet Komunitas (SIK) tidak hanya belajar mengenai keterampilan digital di dalam ruang kelas. Mereka turun langsung ke lapangan untuk menguji kemampuan membuat konten melalui praktik Mobile Content Clinic dan Content Challenge yang berlangsung di Aula 2 Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAPPP) Maros serta area bazaar UMKM. Kegiatan ini mempertemukan peserta dengan pelaku UMKM Kabupaten Maros untuk menghasilkan materi promosi digital yang dapat digunakan secara langsung.
Praktik tersebut menjadi bagian dari rangkaian pembelajaran yang sebelumnya telah membekali peserta dengan dasar-dasar fotografi produk, videografi, desain poster, dan penulisan caption. Manajer Program dan Kerja Sama Common Room, Tisha Amelia, bersama Media Officer Common Room, Djuli Pamungkas, menjelaskan mekanisme praktik serta kriteria penilaian sebelum peserta mulai bekerja dengan kelompok masing-masing. Peserta kemudian dibagi secara acak agar terjadi pertukaran pengalaman antara peserta SIK dari berbagai daerah dan komunitas.

“Praktik ini dirancang agar peserta tidak hanya memahami keterampilan membuat konten, tetapi juga mampu melihat kebutuhan nyata pelaku UMKM dan menerjemahkannya menjadi materi promosi yang bisa digunakan,” ujar Tisha Amelia. Menurutnya, kolaborasi langsung dengan pelaku UMKM memberikan pengalaman berbeda karena peserta harus memahami karakter produk, menemukan cerita di baliknya, kemudian mengemas informasi tersebut agar lebih mudah diterima melalui media digital.
Setiap kelompok terdiri atas dua peserta SIK dan satu pelaku UMKM. Dengan komposisi tersebut, peserta tidak sekadar membuat konten berdasarkan asumsi, tetapi bekerja bersama pemilik produk untuk memahami karakter usaha, produk yang ditawarkan, serta pesan yang ingin disampaikan kepada calon pelanggan. Pembagian kelompok secara acak juga membuka ruang bagi peserta dari berbagai daerah dan komunitas untuk saling bertukar pengalaman sekaligus berkolaborasi dengan pelaku UMKM Maros.
Setiap kelompok mendapatkan tugas menghasilkan beberapa materi promosi, mulai dari foto produk, video promosi, storytelling, caption, hingga poster digital atau e-flyer. Peserta menggunakan telepon genggam dan aplikasi yang telah mereka kuasai untuk menghasilkan karya. Materi pembelajaran menekankan bahwa kualitas konten tidak semata-mata ditentukan oleh peralatan mahal, melainkan oleh kemampuan membuat informasi yang jelas, menarik, dan memudahkan calon pelanggan mengambil keputusan.

“Ketika membuat konten untuk UMKM, peserta perlu melihat produk bukan hanya sebagai objek yang difoto, tetapi sebagai sesuatu yang memiliki cerita dan nilai yang perlu disampaikan kepada calon pembeli,” jelas Djuli Pamungkas. Karena itu, peserta diarahkan untuk memperhatikan berbagai unsur visual, mulai dari pencahayaan, latar belakang, fokus produk, sudut pengambilan gambar, hingga kehadiran pemilik atau proses produksi dalam foto.
Keterampilan fotografi tersebut kemudian dipadukan dengan kemampuan membuat video pendek. Peserta diarahkan membangun video dengan alur sederhana yang terdiri atas hook, pengenalan produk, keunggulan produk, dan ajakan membeli. Pendekatan ini membuat peserta memahami bahwa video promosi tidak harus menjadi produksi yang rumit, melainkan cukup memiliki pesan yang jelas dan mampu menarik perhatian sejak awal.
Pada bagian penulisan, peserta belajar mengembangkan caption yang tidak berhenti pada ajakan membeli. Mereka menggunakan pola “pancing, cerita, info, ajak” untuk membuat pembaca tertarik, mengenal produk, mendapatkan informasi penting seperti harga dan varian, kemudian mengetahui bagaimana cara melakukan pembelian. “Caption sebaiknya tidak hanya mengatakan ‘yuk dibeli’, tetapi membantu orang mengenal produknya, memahami apa yang menarik, mendapatkan informasi yang dibutuhkan, lalu tahu bagaimana cara membelinya,” kata Djuli.
Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) juga menjadi bagian dari praktik tersebut. Peserta dapat menggunakan AI sebagai asisten untuk mencari ide konten, menyusun alternatif caption, mengembangkan gagasan e-flyer, maupun membantu membuat naskah video. Namun, materi pelatihan mengingatkan bahwa AI tetap berfungsi sebagai alat bantu dan bukan pengganti pengetahuan pemilik usaha. Setiap informasi yang dihasilkan AI tetap perlu diperiksa kembali, terutama terkait harga, produk, nomor kontak, klaim, dan informasi usaha.


Content Challenge kemudian mendorong peserta membawa seluruh keterampilan tersebut ke dalam satu rangkaian kerja yang utuh yaitu membuat, menampilkan, menceritakan, dan mempublikasikan konten. Setiap kelompok menghasilkan foto produk, video promosi, serta poster digital atau e-flyer dan diwajibkan mengunggah sedikitnya satu konten ke media sosial. Penilaian mempertimbangkan kualitas visual, kreativitas, kemampuan storytelling, caption, jumlah likes, serta kesesuaian konten dengan kebutuhan promosi UMKM.
Lebih dari sebuah kompetisi, praktik lapangan ini memperlihatkan bagaimana keterampilan digital dapat dipertemukan dengan kebutuhan ekonomi masyarakat secara langsung. Peserta SIK belajar dari situasi nyata, sementara pelaku UMKM mendapatkan materi promosi yang dapat digunakan untuk memperluas jangkauan produk melalui media digital. Melalui sesi Mobile Content Clinic ini tercipta ruang kolaborasi antara komunitas, peserta pembelajaran, dan pelaku usaha lokal yang menunjukkan bahwa teknologi digital tidak berhenti pada kemampuan menggunakan perangkat, tetapi dapat menjadi sarana untuk memperkuat cerita, visibilitas, dan peluang ekonomi masyarakat.***

