Menjaga jaringan internet tetap terhubung tidak cukup hanya dengan memastikan koneksi berjalan. Setiap perangkat, akses pengguna, hingga lalu lintas data perlu dilindungi agar jaringan komunitas dapat beroperasi secara aman dan berkelanjutan. Hal tersebut menjadi fokus sesi Jaringan Internet Lanjutan dan Keamanan Digital pada hari ketiga Rural ICT Camp 2026 di Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan Maros (BRPBAPPP) Maros, Rabu (16/9/2026), yang menghadirkan Dede Irawan dari Internet Desa Digital, Rizky Aulia Julianda dari Relawan TIK dan Toni Prabowo dari Pakebun.
Rizky Aulia Julianda memperkenalkan konsep Defense in Depth sebagai strategi keamanan yang mengandalkan beberapa lapisan perlindungan sekaligus. Ia menekankan prinsip Assume Breach dengan mengajak peserta menganggap bahwa satu lapisan pertahanan dapat sewaktu-waktu gagal atau ditembus. “Sistem yang aman bukan yang tidak pernah gagal, tapi yang tetap siap saat satu lapisan gagal,” ujar Rizky saat menjelaskan pentingnya membangun sistem keamanan secara berlapis.

Rizky kemudian menguraikan lima lapisan keamanan jaringan, mulai dari konfigurasi dasar melalui hardening router, perimeter melalui firewall rules, identitas dan akses melalui manajemen pengguna, deteksi melalui logging dan monitoring, hingga kontrol terhadap aplikasi atau unduhan. Ia mengingatkan peserta untuk mengurangi celah sejak dari perangkat dengan menonaktifkan layanan yang tidak diperlukan dan mengamankan akses administrator. “Tutup dulu apa yang tidak dipakai, sebelum masuk ke lapisan berikutnya,” tegas Rizky.
Pembahasan berlanjut pada praktik konfigurasi jaringan yang dipandu Dede Irawan menggunakan MikroTik, Access Point, Winbox, dan Mikhmon. Dede mengajak peserta mempraktikkan koneksi internet, konfigurasi hotspot dan PPPoE, pengaturan bandwidth, hingga pengelolaan voucher. Ketika peserta menanyakan penggunaan port, Dede menjelaskan bahwa “lebih dari satu port bisa digunakan, baik secara terpisah maupun dikombinasikan, sesuai kebutuhan konfigurasi,” sehingga pengelola jaringan dapat menyesuaikan perangkat dengan kebutuhan masing-masing komunitas.

Dede juga memperkenalkan Mikhmon sebagai perangkat berbasis web untuk mengelola dan memantau layanan hotspot MikroTik. Melalui praktik langsung, ia menunjukkan cara membuat kode voucher, menentukan harga dan masa aktif, mengatur kuota, melihat laporan penggunaan, serta membuat template voucher. Dede mengingatkan peserta untuk memperhatikan koneksi kabel dan DNS ketika melakukan konfigurasi, sekaligus menggunakan layanan speed test untuk memeriksa kecepatan internet dan membantu mengidentifikasi persoalan jaringan.
Kebutuhan jaringan yang lebih kompleks kemudian dibahas melalui penggunaan VLAN dan RADIUS Server. Peserta mendiskusikan cara menghubungkan beberapa router atau lokasi dengan sistem voucher yang sama, termasuk pengaturan IP, SSID, dan Access Point. Dede bersama peserta juga menekankan pentingnya dokumentasi konfigurasi, mulai dari password, kode, hingga pengaturan perangkat, agar pengelola tidak kehilangan informasi ketika harus melakukan konfigurasi ulang atau menangani gangguan jaringan.

Di tengah pembahasan jaringan tersebut, Toni Prabowo dari Pakebun memperlihatkan bagaimana konektivitas dapat digunakan untuk menjawab kebutuhan pertanian melalui OSPIT (Open Source Solar Powered Irrigation Tools). Toni memperkenalkan OSPIT sebagai alat pertanian pintar berbasis tenaga surya yang dapat mengairi tanaman secara otomatis dan memungkinkan pemantauan dari jarak jauh karena terhubung dengan internet. Sistem tersebut menggunakan panel surya dan baterai sebagai sumber energi untuk menjalankan irigasi.
Toni juga memperlihatkan pengembangan OSPIT yang terhubung dengan aplikasi mobile dan web dashboard Pakebun. “Kami mengintegrasikan OSPIT dengan mobile apps dan web dashboard Pakebun agar sistem irigasi dapat dipantau dengan lebih mudah,” ujar Toni dalam materi yang dipresentasikannya. Ia juga menunjukkan pemanfaatan data dan AI sebagai alat bantu rekomendasi, serta pengembangan perangkat keras OSPIT versi 2.0 dan produksi lokal sebagai bagian dari pengembangan teknologi pertanian berbasis kebutuhan masyarakat rural.
Rangkaian sesi tersebut mempertemukan tiga kebutuhan penting dalam pengembangan internet komunitas: keamanan, kemampuan teknis, dan pemanfaatan teknologi untuk kebutuhan warga. Rizky memperkenalkan pertahanan jaringan secara berlapis, Dede mengajak peserta membangun dan mengelola jaringan melalui praktik langsung, sementara Toni menunjukkan bagaimana konektivitas dapat terhubung dengan sistem irigasi dan pertanian. Dari ruang jaringan hingga lahan pertanian, Rural ICT Camp 2026 memperlihatkan bahwa teknologi menjadi lebih bermakna ketika komunitas memiliki kemampuan untuk mengelola, mengamankan, dan mengembangkannya sesuai kebutuhan mereka.***

