Ketika Pelayanan Kesehatan Berhadapan dengan Ruang Digital

Newsroom

Ketika Pelayanan Kesehatan Berhadapan dengan Ruang Digital

Penggunaan teknologi digital kini menjadi bagian tak terpisahkan dari pelayanan kesehatan. Mulai dari komunikasi dengan masyarakat, pengelolaan informasi, hingga penyebaran edukasi kesehatan, berbagai aktivitas tenaga kesehatan semakin terhubung dengan ruang digital. Dalam rangkaian Rural ICT Camp 2026 di Aula Balai Penataan Ruang Laut (BPRL) Kementerian Kelautan dan Perikanan, Makassar, Rabu (16/9/2026), tenaga kesehatan Kabupaten Maros mengikuti sesi Literasi Digital dan Etika untuk memperkuat kecakapan, keamanan, budaya, dan etika dalam penggunaan teknologi.

Sesi yang dipandu Hamas Nahdly, Mira Sahid dan Oktora Irahadi dari Portal Kesehatan Masyarakat (Portkesmas) tersebut mengajak peserta melihat kembali kebiasaan digital yang selama ini dilakukan dalam praktik pelayanan kesehatan. Pengiriman hasil laboratorium melalui WhatsApp pribadi, penyimpanan foto klinis di telepon genggam, hingga penggunaan perangkat pribadi untuk menyimpan data pasien menjadi sejumlah praktik yang perlu diperhatikan. “Di era digital, data sudah menjadi aset yang sangat penting. Tenaga kesehatan harus memperlakukan data pasien sebagai sesuatu yang harus dilindungi,” ujar Mira Sahid.

Mira kemudian memperkenalkan kerangka literasi digital CABE yang mencakup Cakap Digital, Aman Digital, Budaya Digital, dan Etika Digital. Menurutnya, keempat pilar tersebut tidak dapat dipisahkan dari aktivitas tenaga kesehatan yang semakin banyak menggunakan perangkat dan platform digital. “Cakap digital bukan hanya bisa menggunakan gawai, tetapi juga memahami bagaimana menggunakan fitur keamanan dan mengelola informasi dengan benar,” kata Mira.


Dalam konteks pelayanan kesehatan, keamanan digital menjadi perhatian penting karena tenaga kesehatan berhadapan dengan data yang bersifat sensitif. Peserta mendapatkan penguatan mengenai penggunaan verifikasi dua langkah atau two-factor authentication (2FA), pengelolaan kata sandi, kewaspadaan terhadap phishing dan aplikasi berbahaya, serta risiko penggunaan jaringan Wi-Fi publik untuk mengakses informasi sensitif. Mira mengingatkan, “Kalau perangkat hilang, yang hilang bukan hanya barangnya. Ada data pasien, email pekerjaan, akses perbankan, dan berbagai informasi pribadi yang bisa ikut bocor.”

Pembahasan kemudian bergeser pada etika profesi di ruang digital. Tenaga kesehatan tidak hanya bertanggung jawab menjaga kerahasiaan informasi medis, tetapi juga memiliki peran sebagai penjaga kebenaran di tengah derasnya informasi kesehatan yang beredar. Mira mengajak peserta belajar dari kasus perundungan terhadap seorang pasien yang pernah menyampaikan keluhan layanan kesehatan di media sosial. “Jempol tenaga kesehatan juga mencerminkan integritas profesi,” tegas Mira saat membahas pentingnya menjaga batas personal dan profesional di ruang digital.

Karena itu, peserta juga diajak membangun kebiasaan untuk tidak langsung merespons ketika menghadapi komentar yang memancing emosi. Mira memperkenalkan teknik “Jeda 10 Detik” dan latihan pernapasan sebagai cara sederhana untuk memberi ruang sebelum memberikan tanggapan di ruang publik. “Berikan jeda sebelum membalas. Jangan biarkan emosi menentukan respons kita di media sosial,” ujar Mira kepada peserta.

Pada sesi berikutnya, Oktora Irahadi mengajak peserta melihat media sosial bukan hanya sebagai ruang publikasi, tetapi juga sebagai ruang edukasi kesehatan. Menurut Oktora, tenaga kesehatan memiliki sumber pengetahuan dan pengalaman yang dekat dengan kehidupan masyarakat sehingga dapat mengubah pengalaman tersebut menjadi materi edukasi yang relevan. “Jangan mulai dari apa yang ingin kita katakan. Mulailah dari apa yang ingin diketahui oleh audiens,” kata Oktora.


Pendekatan tersebut kemudian diterapkan melalui kerangka “Who, What, Why”. Tenaga kesehatan perlu menentukan siapa audiens yang dituju, masalah apa yang mereka hadapi, dan mengapa informasi tersebut penting bagi mereka. Oktora juga memperkenalkan pentingnya hook pada tiga detik pertama agar pesan kesehatan dapat menarik perhatian tanpa kehilangan akurasi. “Pengetahuan medis harus kita ubah menjadi konten yang membuat orang mau tahu,” ujar Oktora, menjelaskan pentingnya mengemas informasi kesehatan dengan bahasa yang dekat dengan keseharian masyarakat.

Peserta kemudian melakukan bedah terhadap sejumlah akun media sosial Puskesmas di Kabupaten Maros. Dari sesi tersebut, para peserta menemukan bahwa konten layanan kesehatan masih banyak didominasi poster pengumuman, dokumentasi seremonial, dan teks panjang yang kurang mudah dipahami. Oktora mendorong tenaga kesehatan untuk tampil sebagai wajah komunikasi layanan kesehatan. “Tidak perlu menunggu punya kamera mahal. Gunakan HP yang ada, cari cahaya yang baik, dan buat konten yang lebih manusiawi,” katanya.

Di bagian akhir, pembahasan diarahkan pada pentingnya membangun kepercayaan melalui komunikasi yang konsisten dan manusiawi. Peserta mendiskusikan cara merespons keluhan masyarakat, termasuk ketika Puskesmas menghadapi kritik mengenai sampah atau waktu antrean layanan. “Jangan defensif ketika menerima komplain. Sampaikan permohonan maaf, jelaskan situasinya secara objektif, lalu tunjukkan komitmen untuk memperbaiki,” ujar Oktora. Sebagai tindak lanjut, Portkesmas dan Siberkreasi bersama tenaga kesehatan Maros menyepakati pelatihan daring mengenai penyuntingan video dengan CapCut, desain Canva, teknik pengambilan gambar menggunakan telepon genggam, serta pemanfaatan AI untuk menyusun naskah konten. Literasi digital pun ditempatkan bukan sekadar sebagai kemampuan menggunakan teknologi, melainkan sebagai bagian dari upaya menghadirkan pelayanan kesehatan yang aman, etis, inklusif, dan dapat dipercaya.***

Share Article

Berita Terbaru

Newsroom

Berita dan pembaharuan terbaru
langsung dari Common Room.

Ketika Pelayanan Kesehatan Berhadapan dengan Ruang Digital
This website uses cookies to improve your experience. By using this website you agree to our Privacy Policy.
Read more