Belajar di komunitas tidak berhenti ketika sebuah pelatihan selesai. Pengetahuan justru perlu terus bergerak, dibagikan, dan dikembangkan agar manfaatnya tidak hanya tinggal pada orang-orang yang mengikuti pelatihan. Gagasan inilah yang menjadi benang merah Focus Group Discussion (FGD) Strategi Pedagogi untuk Komunitas dalam rangkaian Rural ICT Camp 2026 di Premier Hotel Makassar, Selasa (15/9/2026), yang mempertemukan peserta dari berbagai Sekolah Internet Komunitas (SIK), organisasi masyarakat sipil, dan mitra kegiatan.

Koordinator Peningkatan Kapasitas Regional Asia LocNet, Akhmat Safrudin, mengajak peserta merefleksikan pengalaman mereka dalam menyelenggarakan pelatihan, pendampingan, dan program peningkatan kapasitas. Diskusi kemudian mengidentifikasi sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan sumber daya manusia, komitmen anggota, regenerasi komunitas, hingga kebutuhan untuk menyesuaikan materi dengan kemampuan dan konteks peserta. Program Coordinator Common Room, Andriani Kesa Alivia menyebut ketersediaan SDM sebagai salah satu tantangan terbesar karena keterbatasan anggota aktif kerap membuat pembagian tugas belum berjalan optimal, sementara pergantian anggota dapat membuat proses pendampingan harus kembali dimulai dari awal.
Asisten peneliti Pusat Studi Komunikasi, Media, Budaya, dan Sistem Informasi (CMCI) Fikom Unpad, Rudi Dwi Hartanto menekankan pentingnya memahami kebutuhan peserta sebelum pelatihan dimulai. “Materi perlu disesuaikan dengan tingkat pengetahuan awal peserta,” ujar Rudi, seraya menekankan bahwa pre-test harus dirancang untuk memetakan kemampuan awal sekaligus menjadi dasar penyusunan materi. Sementara itu, Aji Kusmayadi dari Sekolah Internet Komunitas (SIK) Ciracap mengingatkan bahwa kapasitas peserta tidak cukup dibaca hanya melalui hasil pre-test karena pengalaman, konteks daerah, dan kebutuhan komunitas turut memengaruhi proses belajar. Karena itu, ia mendorong penyusunan kurikulum yang fleksibel dan dapat menyesuaikan kondisi setiap wilayah.
Persoalan regenerasi juga menjadi perhatian. Ajir dari SIK Pulo Aceh menyampaikan bahwa komunitas harus terus menghadapi proses rekrutmen ketika anggota lama tidak lagi aktif. “Tantangannya bukan hanya mencari anggota baru, tetapi membangun komitmen agar mereka tetap bertahan dan berkembang bersama komunitas,” katanya. Ajir menambahkan bahwa perbedaan usia, pengalaman, latar belakang pendidikan, dan kapasitas membuat setiap komunitas membutuhkan pendekatan pembelajaran yang tidak seragam.
Direktur Common Room, Gustaff H. Iskandar kemudian mengaitkan pembahasan tersebut dengan pengalaman Common Room dalam menjalankan program peningkatan kapasitas komunitas. Ia menjelaskan bahwa semakin luas program dan semakin banyak mitra yang terlibat, semakin besar pula kebutuhan untuk memperkuat data dampak, komunikasi, dokumentasi praktik baik, dan strategi replikasi. “Tujuan program bukan hanya menghasilkan peserta yang belajar, tetapi juga menciptakan model pembelajaran yang dapat diterapkan oleh komunitas lain,” tegas Gustaff. Pandangan ini menggeser ukuran keberhasilan dari sekadar jumlah peserta menuju kemampuan komunitas untuk mengembangkan dan membagikan pengetahuan.
Kepala CMCI Fikom Unpad, Subekti Priyadharma menambahkan bahwa karakter peserta Rural ICT Camp yang mayoritas merupakan orang dewasa membutuhkan pendekatan andragogi. “Orang dewasa belajar berdasarkan pengalaman, kebutuhan, dan konteks pekerjaan mereka,” jelasnya. Karena itu, proses pembelajaran perlu berlangsung secara partisipatif, kontekstual, dan memberi ruang bagi peserta untuk melakukan refleksi, bukan sekadar menerima materi melalui pembelajaran satu arah.
Setelah sesi refleksi, peserta terbagi ke dalam empat kelompok untuk membahas ukuran keberhasilan program, faktor yang menentukan keberhasilan, serta cara memastikan pengetahuan dapat ditransfer dan direplikasi. Kelompok Kesa menekankan pentingnya menetapkan indikator sejak awal, termasuk kemampuan peserta menjelaskan kembali materi dan menerapkannya dalam kegiatan komunitas. Mereka juga merekomendasikan kolaborasi antarkomunitas, pendampingan berkelanjutan, sistem pelaporan, dan penghargaan bagi anggota yang aktif berbagi pengetahuan.


Salah satu kelompok yang diwakili Mira Sahid dari Portkesmas melihat keberhasilan bukan dari jumlah peserta yang hadir, melainkan dari dampak setelah pelatihan. Kelompok ini mendorong peer-to-peer learning agar peserta yang telah memperoleh pengetahuan dapat menjadi fasilitator bagi anggota lainnya. Mereka juga menyoroti pentingnya kepemimpinan, dedikasi, local champion, repository modul, microteaching, serta forum berbagi praktik baik sebagai cara memperluas dampak pembelajaran. Sementara itu, kelompok lain yang diwakili oleh Field Officer Common Room, Kiky Andhika dan Sistiandy Syahbana dari BlankOn menempatkan perubahan pengetahuan, keterampilan, dan sikap sebagai ukuran penting, dari “tidak tahu menjadi tahu”, “tidak bisa menjadi bisa”, serta “tidak mau menjadi mau” terlibat dalam kegiatan komunitas.
Kelompok lain yang diwakili praktisi AI dan IoT, Rois Solihin kemudian merumuskan empat komponen keberhasilan program yaitu baseline, transfer knowledge, output, dan impact. Rois menilai pemahaman terhadap kondisi awal sangat penting karena setiap daerah memiliki kondisi sosial, budaya, dan kapasitas yang berbeda. Untuk menjaga keterlibatan peserta, kelompok tersebut merekomendasikan metode partisipatif seperti ice breaking, Participatory Rural Appraisal (PRA), simulasi, permainan, dan diskusi kelompok, sehingga proses belajar tidak hanya bertumpu pada ceramah.
Menutup sesi, Akhmat Safrudin menegaskan bahwa program peningkatan kapasitas perlu dimulai dari pemahaman terhadap baseline, kemudian dilanjutkan dengan pemilihan metode yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik komunitas. Subekti Priyadharma menambahkan pentingnya indikator SMART “Specific, Measurable, Achievable, Relevant, dan Time-bound, agar komunitas dapat mengevaluasi efektivitas program dan menunjukkan dampaknya kepada mitra. Ia juga menekankan kecerdasan interpersonal fasilitator untuk membangun ruang belajar yang aman, partisipatif, dan saling mendukung. FGD akhirnya menegaskan satu hal yaitu keberhasilan pembelajaran komunitas bukan sekadar ketika pelatihan terlaksana, melainkan ketika pengetahuan berubah menjadi keterampilan, sikap, praktik, transfer pengetahuan, dan dampak yang terus tumbuh di komunitas.***

