Ruang Aman, Tempat Peserta Rural ICT Camp Saling Menguatkan

Newsroom

Ruang Aman, Tempat Peserta Rural ICT Camp Saling Menguatkan

Di tengah padatnya rangkaian Rural ICT Camp 2026, para peserta perempuan mendapat ruang untuk berhenti sejenak, berbagi cerita, dan saling menguatkan melalui sesi Safe Space (Solidarity Circle) di Premier Hotel Makassar, Selasa (15/9/2026). Dipandu Tisha Amelia, Manajer Program dan Kerja Sama Common Room, bersama Prasasti Dewi dan Putri Farkhah dari ICT Watch serta Dewi Nugraheni dari Citraweb, sesi ini menjadi ruang refleksi mengenai pengalaman peserta selama mengikuti Sekolah Internet Komunitas (SIK) maupun rangkaian kegiatan bersama.

Percakapan dibuka dengan refleksi mengenai perubahan yang dirasakan peserta setelah terlibat dalam Sekolah Internet Komunitas (SIK) di wilayahnya masing-masing. Saraiyah perwakilan SIK Lombok Utara menceritakan bagaimana pengetahuan yang ia peroleh melalui Common Room dan SIK kemudian ia bawa kembali ke komunitas perempuan yang selama ini didampinginya. Ia mengatakan, keterlibatan tersebut membuatnya semakin memahami dampak media sosial, lebih mampu menggunakan telepon pintar, dan lebih berani membagikan pengetahuan kepada kelompok lain.


Bagi Saraiyah, proses belajar juga berkaitan erat dengan keberanian untuk keluar dari ketidaktahuan. “Saya ingin terus belajar karena rasa ingin tahu dan kepedulian terhadap perempuan lain membuat saya bertahan dalam kegiatan pemberdayaan,” ujarnya dalam refleksi tersebut. Ia juga mengingatkan bahwa keterbatasan pendidikan formal tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti belajar, terutama ketika masyarakat berhadapan dengan berbagai kerentanan baru di ruang digital.

Revasya dari SIK Ciptagelar membagikan pengalaman saat berada dalam forum yang didominasi laki-laki dan orang yang lebih tua. Ia merasa pernyataannya sempat direduksi karena identitasnya sebagai perempuan, tetapi berhasil menyampaikan argumen dan melihat pengalaman tersebut sebagai perubahan positif dalam keberanian berbicara. Syakirah Syakir dari SIK Maros menyampaikan harapan untuk berkolaborasi membangun safe space bagi perempuan dan anak, baik secara online maupun offline. Ia berharap materi gender dan pemberdayaan dapat terus dilibatkan dalam kegiatan SIK.

Pembahasan kemudian bergeser pada risiko yang muncul seiring semakin luasnya penggunaan media sosial dan kecerdasan artifisial (AI). Peserta berbagi pengalaman mengenai penipuan melalui telepon, konten berbasis AI yang tidak pantas bagi anak, hingga kesulitan membedakan konten asli dan hasil manipulasi teknologi. Yanti Sada Mura dari SIK Sumba Tengah menceritakan bahwa ia belajar menggunakan ChatGPT dan perangkat pengeditan digital, kemudian membagikan pengetahuan tersebut kepada kelompoknya yang beranggotakan sekitar 60 orang, termasuk materi tentang phishing, romance scam, dan hadiah palsu.


Dewi Nugraheni dari Citraweb mengajak peserta melihat persoalan tersebut tidak hanya sebagai persoalan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga sebagai persoalan bagaimana platform digital bekerja. Ia menjelaskan bahwa algoritma dapat terus merekomendasikan jenis konten yang memperoleh engagement tinggi sehingga pengguna berulang kali terpapar pola konten serupa. “Platform membangun model bisnis berdasarkan perhatian dan data perilaku pengguna,” jelas Dewi ketika membahas surveillance capitalism dan dampaknya terhadap pengalaman pengguna di ruang digital.

Dewi juga mengingatkan bahwa teknologi dapat memunculkan bentuk kerentanan baru pada anak dan perempuan. Ia menyoroti dampak filter terhadap body image anak perempuan serta risiko cognitive offloading ketika proses berpikir terlalu banyak diserahkan kepada teknologi. Dalam diskusi, peserta juga memberikan contoh siswa yang menggunakan AI untuk menyelesaikan pekerjaan rumah matematika tanpa memahami proses di balik jawaban yang diperoleh.

Pembahasan berikutnya menekankan pentingnya membangun sistem perlindungan sejak awal kegiatan. Dewi mengingatkan fasilitator yang bekerja dengan anak untuk menjaga batas profesional, termasuk menghindari situasi berduaan dan perhatian khusus yang berpotensi menimbulkan risiko. Ia juga menjelaskan bahwa seorang bystander dapat berkembang menjadi upstander ketika berani membantu, menegur, atau mengambil tindakan yang aman saat melihat perilaku bermasalah.

Setelah membicarakan risiko digital, Solidarity Circle membawa percakapan pada pengalaman ketidaknyamanan dan perilaku yang melampaui batas personal selama kegiatan. Sejumlah peserta menceritakan pengalaman menerima pesan, telepon, atau video call secara berulang meskipun mereka telah menunjukkan ketidaknyamanan, sementara peserta lain berbagi pengalaman mengenai kontak fisik yang tidak diinginkan maupun interaksi yang membuat mereka merasa tidak aman. Salah satu peserta bahkan mengaku sempat ragu bercerita karena khawatir pengalamannya dianggap dibuat-buat.

Dewi menegaskan bahwa pengalaman semacam itu perlu dibicarakan agar perilaku yang melampaui batas tidak dianggap sebagai sesuatu yang wajar. “Kalau pengalaman seperti ini tidak dibicarakan dan tidak ditangani, perilaku tersebut berisiko dinormalisasi,” tegasnya. Peserta kemudian mengusulkan sejumlah langkah pencegahan, mulai dari SOP, mekanisme whistleblowing, kanal pelaporan, hingga pendampingan psikologis bagi peserta yang membutuhkan.

Solidarity Circle kemudian ditutup dengan refleksi bahwa ruang aman bukan hanya soal menyediakan tempat untuk berbicara, tetapi juga membangun mekanisme yang memungkinkan peserta merasa terlindungi sebelum, selama, dan setelah kegiatan. Peserta mendorong agar house rules dan safe conduct disampaikan sejak awal, kanal pelaporan tersedia dengan jelas, serta prinsip perlindungan perempuan dan anak terus menjadi bagian dari kegiatan SIK. “Kita tidak perlu memikul seluruh rasa bersalah dalam proses belajar,” pungkas Prasasti Dewi dari ICT Watch, seraya memandang sesi tersebut sebagai proses bonding sekaligus stepping stone untuk melakukan perbaikan bersama.***

Share Article

Berita Terbaru

Newsroom

Berita dan pembaharuan terbaru
langsung dari Common Room.

Ruang Aman, Tempat Peserta Rural ICT Camp Saling Menguatkan
This website uses cookies to improve your experience. By using this website you agree to our Privacy Policy.
Read more