Menata Data Iklim Warga untuk Memperkuat Adaptasi dan Ketahanan Komunitas

Newsroom

Menata Data Iklim Warga untuk Memperkuat Adaptasi dan Ketahanan Komunitas

Perubahan iklim tidak hanya menghadirkan tantangan dalam membaca cuaca, tetapi juga menuntut masyarakat memiliki data yang akurat untuk menentukan langkah adaptasi. Dalam sesi talkshow “Sekolah Lapang Iklim” pada Rural ICT Camp 2026 di Aula 2 Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAPPP) Maros, Sulawesi Selatan, Selasa (15/9/2026), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), praktisi teknologi komunitas, dan pengembang sistem membahas pentingnya mempertemukan data ilmiah, teknologi sensor, kecerdasan buatan, dan pengetahuan lokal.

Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan, Ayi Sudrajat, menjelaskan bahwa masyarakat perlu memahami perbedaan antara cuaca dan iklim sebelum menggunakan data untuk mengambil keputusan. “Cuaca menggambarkan kondisi atmosfer dalam waktu dan wilayah yang relatif singkat, sedangkan iklim menunjukkan pola cuaca dalam periode panjang,” ujar Ayi. Ia menambahkan, BMKG membaca sedikitnya delapan unsur iklim, mulai dari radiasi matahari, suhu, kelembapan, tekanan udara, penguapan, angin, perawanan, hingga presipitasi.

Menurut Ayi, pemahaman tersebut menjadi penting karena perubahan cuaca ekstrem telah memberikan dampak nyata di berbagai wilayah Sulawesi Selatan. Angin puting beliung di Desa Sokkolia, longsor yang menutup akses antardesa di Gowa, serta banjir yang merendam ribuan hektare sawah menunjukkan bagaimana fenomena atmosfer dapat langsung memengaruhi kehidupan warga. “Masyarakat perlu menggunakan informasi iklim untuk mengantisipasi dampak yang mungkin terjadi, bukan hanya setelah bencana berlangsung,” katanya.

BMKG menggunakan sejumlah parameter untuk mengidentifikasi kondisi ekstrem. Curah hujan harian lebih dari 150 milimeter, kecepatan angin di atas 25 knot atau sekitar 45 kilometer per jam, kelembapan relatif di bawah 40 persen, jarak pandang kurang dari satu kilometer, serta perubahan suhu lebih dari tiga derajat Celsius dari rata-rata menjadi sejumlah indikator yang perlu diperhatikan. Data tersebut kemudian melalui rangkaian observasi, pencatatan, pengarsipan, pengolahan, hingga menghasilkan informasi iklim yang dapat digunakan masyarakat.


Ayi juga menekankan pentingnya data dasarian atau data yang dikumpulkan setiap sepuluh hari. Dalam satu bulan terdapat tiga dasarian yang dapat digunakan untuk memantau berbagai indikator, termasuk Hari Tanpa Hujan (HTH). “Data HTH membantu kita mengenali wilayah yang mengalami periode kering sehingga langkah antisipasi bisa dilakukan lebih awal,” kata Ayi. Data semacam ini, antara lain, dapat mendukung upaya pembasahan lahan gambut untuk mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan.

Kebutuhan terhadap data yang konsisten kemudian membawa pembahasan pada standarisasi Citizen Weather Station (CWS). Pengamatan iklim komunitas tetap perlu mengikuti standar agar data yang dikumpulkan dapat dibandingkan dengan data pengamatan lainnya. Ayi menjelaskan bahwa BMKG membuka peluang pemanfaatan sensor berbiaya rendah untuk memperluas jaringan pengamatan, sekaligus menerapkan pengendalian kualitas agar data warga tetap dapat dipertanggungjawabkan.

“Sensor komunitas bisa memperrapat jaringan pengamatan, tetapi kita harus memastikan pemasangan, kalibrasi, dan pengolahan datanya mengikuti standar,” ujar Ayi. BMKG menggunakan pendekatan redundant observation, antara lain dengan menempatkan beberapa sensor pada satu titik dan membandingkan hasilnya melalui majority voting serta penyaringan data yang menyimpang secara temporal. BMKG Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan saat ini memiliki 258 titik pengamatan, termasuk 37 stasiun otomatis, sementara kebutuhan idealnya mencapai satu stasiun untuk setiap kecamatan.

Praktisi AI dan IoT, Rois Solihin membawa pembahasan pada pengalaman pengembangan teknologi di tingkat warga. Ia menilai persoalan utama komunitas bukan sekadar ketiadaan data, melainkan ketersediaan data yang tepat, konsisten, dan mudah dipahami. “Kita tidak bisa hanya membawa teknologi ke masyarakat. Kita harus memahami bagaimana masyarakat menjalani kesehariannya, lalu merancang teknologi berdasarkan kebutuhan tersebut,” kata Rois.

Pendekatan design thinking juga memperlihatkan bahwa keberhasilan perangkat tidak hanya ditentukan oleh spesifikasi teknis. Di Pulo Aceh, misalnya, pertemuan warga di balai desa tidak selalu efektif, sementara diskusi justru berlangsung lebih cair di warung kopi pada malam hari. Tantangan lain muncul dari kondisi lapangan seperti korosi air laut, guncangan gelombang, gangguan satwa, hingga koneksi internet yang bergantung pada jam operasional warung. “Desain sensor harus mengikuti kondisi lapangan, termasuk lingkungan, kebiasaan warga, dan cara mereka berinteraksi,” ujar Rois.


Rekannya, Mohamad Indra Komara Hamdhany menambahkan bahwa tantangan berikutnya terletak pada kualitas dan struktur data. Sensor dapat menghasilkan data dalam jumlah besar, tetapi model AI membutuhkan data yang rapi, konsisten, dan memiliki struktur yang jelas agar dapat menghasilkan analisis yang dapat digunakan. “AI tidak akan bekerja optimal jika data dari lapangan masih berantakan dan tidak konsisten,” kata Indra. Karena itu, pengembangan sistem perlu mencakup pembagian hak akses antara super admin, admin, operator pengelola sensor lokal, dan user sekaligus memastikan pipeline data berjalan secara terstandar.

Pembahasan kemudian mempertemukan data ilmiah dengan pengetahuan lokal yang telah berkembang selama berabad-abad. Praktik pertanian masyarakat Kasepuhan Ciptagelar menunjukkan bagaimana penentuan musim tanam memanfaatkan pengamatan astronomi, kalender adat, dan karakter lingkungan. Sementara itu, pengalaman Komisi Irigasi Kabupaten Pangkep memperlihatkan bahwa informasi BMKG dapat dipadukan dengan pengetahuan lokal untuk mempercepat jadwal tanam, memilih varietas tahan kering, dan mengatur distribusi air. Kolaborasi tersebut dilaporkan mampu mendukung panen penuh di 7.067 hektare sawah pada lima kecamatan.

Pertemuan ini menghasilkan sejumlah rencana tindak lanjut. Common Room dan BMKG Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan akan menyiapkan formaliasi kerja sama, mengajukan kalibrasi sensor komunitas melalui fasilitas BMKG, serta menata struktur data IoT warga agar dapat digunakan untuk pengembangan analitik AI. BMKG Sulsel juga menyetujui permintaan pelaksanaan Sekolah Lapang Iklim bagi petani kopi di Desa Awo, wilayah dengan ketinggian sekitar 900–1.200 meter di atas permukaan laut yang menghasilkan kopi untuk pasar ekspor. Rangkaian aksi tersebut menempatkan standardisasi data bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai fondasi agar teknologi, pengetahuan ilmiah, dan pengalaman warga dapat bekerja bersama untuk memperkuat ketahanan komunitas menghadapi perubahan iklim.***

Share Article

Berita Terbaru

Newsroom

Berita dan pembaharuan terbaru
langsung dari Common Room.

Menata Data Iklim Warga untuk Memperkuat Adaptasi dan Ketahanan Komunitas
This website uses cookies to improve your experience. By using this website you agree to our Privacy Policy.
Read more